Bab 6

1183 Kata
Sore mulai turun ketika Kiara akhirnya keluar dari studionya. Beberapa pegawai sudah pulang lebih dulu, hanya Laras yang tadi sempat pamit terakhir. Begitu pintu kaca studio dibuka, Kiara langsung melihat sebuah mobil yang sudah sangat ia kenal terparkir di depan. Rafa berdiri di sampingnya. Begitu melihat Kiara keluar, lelaki itu langsung tersenyum lebar dan melambaikan tangan. “Hai.” Kiara berhenti sejenak, ia membalas dengan senyum kecil. Tipis. Hampir tidak terlihat. Rafa berjalan mendekat, seperti biasa dengan sikap yang penuh perhatian. “Kamu capek?” tanyanya lembut. Tangannya refleks ingin menyentuh bahu Kiara, tapi Kiara sudah lebih dulu melangkah sedikit ke samping menuju kursi mobil. “Lumayan,” jawabnya singkat. Rafa membuka pintu mobil untuknya seperti seorang kekasih yang sangat peduli. “Kamu jangan terlalu memaksakan diri kerja. Dokter juga bilang kamu harus jaga kondisi.” Kiara hanya mengangguk kecil. “Iya.” Sejak kejadian di Bali, Rafa memang berubah. Ia menjadi jauh lebih perhatian, lebih lembut, lebih sering menjemput Kiara seperti ini, bahkan kadang datang tanpa diminta hanya untuk memastikan Kiara makan tepat waktu atau pulang tidak terlalu malam. Dari luar, semua orang mungkin akan melihat mereka sebagai pasangan yang sangat baik. Kekasih yang penuh perhatian, namun hanya Kiara yang tahu perasaan di dalam hatinya tidak kembali seperti dulu. Setiap kali Rafa tersenyum padanya, Kiara hanya membalas dengan kesopanan yang sama. Setiap kali Rafa menggenggam tangannya, ia tidak menolak, tapi juga tidak merasakan apa-apa. Tidak ada lagi getaran, tidak ada lagi debar hangat yang dulu membuatnya percaya bahwa Rafa adalah rumahnya. Sesuatu di dalam hatinya seakan terkikis sedikit demi sedikit, bagian kecil yang dulu bernama cinta itu seperti pelan-pelan menghilang. Kiara menatap Rafa yang sedang menghidupkan mesin mobil. lelaki itu tampak begitu normal, begitu tulus, seolah tidak pernah melakukan kesalahan apa pun. Namun Kiara tahu apa yang pernah ia lihat di Bali dan sejak hari itu, hatinya tidak pernah benar-benar kembali utuh. Mobil mulai berjalan meninggalkan studio. Kiara menoleh keluar jendela, menatap jalanan Jakarta yang mulai dipenuhi lampu-lampu sore. Tanpa sadar, sebuah wajah lain justru muncul di pikirannya. Seseorang yang bahkan hampir tidak ia kenal, namun justru membuat jantungnya berdebar dengan cara yang tidak bisa ia jelaskan. Ansel. “Kita makan dulu ya,” ajak Rafa sambil melirik Kiara sekilas saat mobil berhenti di depan sebuah restoran ternama di pusat kota. “Sudah lama kita nggak makan bareng seperti ini.” Kiara menoleh sebentar lalu mengangguk samar. “Iya.” Tidak ada penolakan, tapi juga tidak ada antusiasme dalam suaranya. Mereka masuk ke restoran yang sudah mulai ramai oleh pengunjung malam. Lampu-lampu gantung yang hangat menerangi ruangan, musik lembut terdengar mengalun pelan. Rafa memilih meja di sudut yang cukup tenang. Seorang pelayan datang membawa menu, dan Rafa langsung memesan beberapa hidangan tanpa banyak bertanya. “Yang kamu suka juga aku pesan,” katanya sambil tersenyum. Kiara hanya membalas dengan senyum kecil. Beberapa menit kemudian makanan datang, namun sepanjang makan, Kiara lebih banyak diam. Sesekali ia hanya mengangguk ketika Rafa bercerita tentang pekerjaannya atau tentang rencana-rencana kecil yang terdengar biasa. Rafa kemudian meletakkan sendoknya perlahan. Tatapannya beralih penuh ke arah Kiara. “Kiara…” Kiara mengangkat wajahnya. “Aku sudah banyak mikir akhir-akhir ini,” kata Rafa pelan, ada keseriusan di wajahnya yang jarang Kiara lihat. “Bagaimana kalau kita mempercepat pertunangan?” Kalimat itu jatuh begitu saja di antara mereka. Kiara langsung menegang, tangannya yang memegang gelas air berhenti di udara. Pertunangan, kata itu terasa berat di telinganya. Ia tidak pernah memikirkan hal sejauh itu. Selama ini Kiara hanya menjalani hubungan dengan Rafa sebagai kekasih. Itu saja. Ia tidak pernah benar-benar membayangkan masa depan sampai ke jenjang pertunangan, apalagi pernikahan. Bahkan sebelum kejadian di Bali pun, ia tidak pernah memikirkan hal itu secara serius. Dan sekarang, setelah semuanya berubah? Rasanya semakin mustahil. Rafa melanjutkan dengan suara lembut. “Aku pikir ini waktu yang tepat. Hubungan kita juga sudah cukup lama. Aku juga ingin memberikan kepastian untuk kamu.” Kiara menatapnya. Ada harapan di mata Rafa. Harapan yang dulu mungkin akan membuat hatinya bergetar, namun sekarang perasaan itu tidak muncul. Yang ada justru kebingungan dan sedikit rasa sesak. Ia menurunkan gelasnya perlahan ke meja. “Aku…” kalimatnya menggantung. Kiara tidak tahu harus menjawab apa, ia tidak ingin membuat keributan di restoran ini. Tidak ingin membicarakan apa yang sebenarnya terjadi di Bali. Namun satu hal sangat jelas di dalam hatinya, Ia tidak siap. Bahkan memikirkan pertunangan dengan Rafa saja sudah terasa begitu jauh. “Rafa…” ucapnya akhirnya dengan suara pelan. Matanya menunduk sedikit. “Sepertinya… kita tidak perlu terburu-buru.” kalimat itu terdengar halus, namun cukup jelas sebagai penolakan. Rafa terdiam. Dan untuk beberapa detik, suasana meja mereka berubah sunyi, sementara di dalam hati Kiara, satu kenyataan mulai terasa semakin nyata, perasaan yang dulu ia miliki untuk Rafa mungkin memang sudah tidak ada lagi. Rafa menatap Kiara dengan kening berkerut. “Kenapa?” tanyanya pelan, namun jelas. “Bukankah kita sudah sepakat untuk bertunangan tahun ini?” Kiara terdiam. Memang benar, dulu mereka pernah duduk bersama membicarakan masa depan. Bahkan dengan cukup serius. Mereka sepakat tahun ini bertunangan, tahun depan menikah. Rencana itu disusun dengan begitu rapi, keluarga saling mengenal. Hubungan mereka terlihat baik-baik saja, semuanya seolah berjalan menuju satu arah yang pasti. Namun hidup ternyata tidak selalu berjalan seperti rencana. Kiara menatap Rafa beberapa detik, ia sebenarnya ingin terus diam. Menyimpan semuanya seperti yang ia lakukan selama ini, tapi sesuatu di dalam dirinya akhirnya lelah. Ia menarik napas pelan. “Gimana kita mau tunangan…” ucapnya lirih. Rafa sedikit mengernyit. “…bahkan kamu nggak pernah jelasin siapa wanita itu.” Rafa langsung terdiam. Kiara mengangkat pandangannya, tatapan mereka bertemu. “Yang di Bali,” lanjut Kiara dengan suara yang masih tenang, tapi jelas. “Yang kamu cium di kafe itu.” Kalimat itu jatuh begitu saja di antara mereka. Untuk pertama kalinya sejak mereka duduk di restoran itu, wajah Rafa benar-benar berubah. Ada keterkejutan di matanya. “Aku lihat semuanya, Raf,” kata Kiara pelan. “Dari awal sampai akhir.” Suasana meja mereka terasa semakin berat. Rafa membuka mulut seolah ingin menjelaskan sesuatu, tapi tidak ada kata yang langsung keluar. Kiara tersenyum kecil, senyum yang lebih mirip kelelahan daripada kebahagiaan. “Aku bahkan nggak pernah tanya apa-apa ke kamu sejak hari itu,” lanjutnya. “Aku juga nggak cerita ke Ayah. Ke siapa pun.” Rafa menunduk sebentar. “Kiara… aku bisa jelasin,” “Tapi kamu nggak pernah jelasin,” potong Kiara lembut. Tidak ada emosi meledak dalam suaranya, justru ketenangan itu terasa lebih menyakitkan. “Setiap hari kamu datang, bersikap baik, perhatian…” katanya pelan. “Seolah semuanya normal.” Rafa menggenggam tangannya di atas meja. “Itu kesalahan aku. Aku akui.” Kiara menatapnya lagi, matanya tidak lagi berkaca-kaca seperti dulu. Seolah sesuatu di dalam dirinya sudah benar-benar berubah. “Kalau kamu sendiri nggak pernah jujur tentang apa yang terjadi, gimana kita bisa lanjut sampai pertunangan?” ucap Kiara. Kalimat itu sederhana, namun cukup untuk membuat Rafa terdiam tanpa jawaban. Sementara di dalam hati Kiara, ia akhirnya menyadari satu hal yang selama ini ia coba abaikan, hubungan mereka mungkin memang sudah retak sejak hari di Bali itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN