Bab 7. Ansel dan Axel

1130 Kata
Rafa menghela napas panjang. Bahunya turun sedikit, seolah kelelahan oleh percakapan yang akhirnya sampai juga pada titik yang selama ini mereka hindari. “Jangan bahas apa yang sudah lewat, Kia…” katanya pelan. Kiara tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap lelaki di depannya dengan tenang. “Kita hidup untuk masa depan, bukan untuk masa lalu,” lanjut Rafa. Ada kesungguhan dalam nada suaranya. “Apa yang aku lakukan memang salah. Aku nggak akan membela diri.” Ia berhenti sejenak, lalu menatap Kiara lebih dalam. “Tapi bukan berarti aku nggak bisa berubah.” Rafa kemudian meraih satu tangan Kiara yang berada di atas meja. Genggamannya hangat, sama seperti dulu. “Aku janji,” ucapnya lirih. “Aku akan berubah.” Kiara menatap tangan mereka yang saling bertaut. Dulu, genggaman itu selalu membuatnya merasa aman. Seolah apa pun yang terjadi, Rafa akan selalu berada di sisinya. Namun sekarang… Perasaan itu tidak muncul lagi. Yang ia rasakan justru sesuatu yang berbeda. Kosong. Bukan marah. Bukan benci. Hanya… kosong. Kiara perlahan menarik tangannya dari genggaman Rafa. Gerakannya lembut, tidak kasar. Namun cukup jelas. “Masalahnya bukan cuma berubah atau nggak, Raf,” kata Kiara pelan. Ia menatap lelaki itu dengan mata yang jujur. “Kepercayaan itu nggak bisa kembali hanya karena janji.” Rafa terdiam. Kiara menunduk sebentar sebelum melanjutkan. “Aku memang masih di sini. Masih makan bareng kamu. Masih menjalani hubungan ini.” Ia tersenyum kecil, tapi senyum itu terasa pahit. “Tapi rasanya sudah nggak sama.” Rafa menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca. “Sejak Bali?” Kiara tidak langsung menjawab. Namun keheningan itu sudah menjadi jawaban. Ia menatap keluar jendela restoran sebentar, melihat lampu-lampu kota yang mulai menyala di luar. “Aku bahkan nggak tahu sekarang aku harus merasa apa ke kamu,” ucap Kiara lirih. Itu adalah pengakuan paling jujur yang bisa ia berikan. Rafa menghela napas lagi. Dan untuk pertama kalinya malam itu, ia menyadari bahwa masalah mereka mungkin jauh lebih besar dari sekadar satu kesalahan. Sementara di dalam hati Kiara sendiri… Ia mulai menyadari sesuatu yang lebih menakutkan. Bukan hanya kepercayaan yang hilang. Tapi mungkin, cintanya pada Rafa juga perlahan ikut menghilang. “Aku akan memperbaikinya. Janji.” Suara Rafa terdengar sungguh-sungguh. Matanya menatap Kiara dengan keyakinan yang kuat, seolah ia benar-benar percaya bahwa semuanya masih bisa kembali seperti dulu. Namun bagi Kiara, Ini bukan lagi soal kesungguhan Rafa. Mungkin saja Rafa benar-benar berubah, mungkin saja ia benar-benar menyesal. Tapi ada sesuatu di dalam hati Kiara yang sudah tidak kembali seperti semula. Seperti kaca yang pernah pecah, meski disusun kembali dengan sangat rapi, retaknya akan selalu terlihat. Kiara hanya mengangguk kecil, tidak menyetujui, tidak juga menolak. Mereka melanjutkan makan malam dalam suasana yang jauh lebih tenang. Rafa beberapa kali mencoba mengalihkan pembicaraan ke hal-hal ringan, pekerjaan, rencana liburan, bahkan beberapa cerita lucu yang dulu biasa mereka tertawakan bersama. Kiara ikut menanggapi seperlunya, senyum kecil, dan nggukan singkat. Namun Rafa pasti bisa merasakan perbedaannya. Setelah selesai makan, mereka meninggalkan restoran dan kembali ke mobil. Rafa mengantar Kiara pulang seperti biasa. Sepanjang perjalanan, keduanya lebih banyak diam. Lampu-lampu kota Jakarta melewati jendela mobil seperti garis-garis cahaya yang bergerak cepat. Sesampainya di rumah Kiara, Rafa ikut turun dari mobil. Pintu rumah sudah terbuka. Dari dalam terdengar suara Kinadra yang sedang tertawa kecil, mungkin sedang berbicara dengan seseorang. Begitu melihat Rafa masuk bersama Kiara, wajah Kinadra langsung cerah. “Kak Rafa!” Adik Kiara itu memang selalu akrab dengannya. Rafa langsung tersenyum hangat. “Hai, dokter masa depan,” godanya. Kinadra tertawa kecil. “Belum dokter juga.” Di ruang keluarga, Adrian sedang duduk membaca sesuatu. Ia mengangkat pandangan ketika melihat mereka. “Sudah makan?” tanyanya. “Sudah, Om,” jawab Rafa sopan. Sikap Rafa selalu sama di rumah ini. Ramah dan sopan, juga perhatian. Ia bahkan sempat berbincang beberapa menit dengan Adrian tentang pekerjaan, lalu bercanda ringan dengan Kinadra seperti biasa. Melihat itu semua, tidak ada yang akan mengira bahwa hubungan mereka sedang retak. Kiara berdiri sedikit di belakang mereka, memperhatikan semuanya dengan diam. Dari luar, semuanya terlihat begitu normal. Rafa masih menjadi sosok kekasih yang baik di mata keluarganya. Namun hanya Kiara yang tahu… Perasaan di dalam hatinya sudah tidak lagi berada di tempat yang sama. Dan entah kenapa, ketika ia berdiri di sana memperhatikan Rafa berbicara dengan keluarganya— Satu wajah lain justru kembali muncul di benaknya. Seorang pria yang bahkan hampir tidak ia kenal. Ansel. Kiara berdiri dari sofa ruang keluarga. “Aku ke kamar ya… capek banget,” ucapnya pelan. Adrian hanya mengangguk memahami. Ia sudah sangat hafal kondisi putrinya. Ada saat-saat tertentu ketika Kiara tiba-tiba merasa sangat lelah—entah karena pekerjaan yang terlalu menguras tenaga atau karena kondisi jantungnya yang memang tidak selalu stabil. “Istirahat yang cukup,” pesan Adrian. Kiara mengangguk lalu berjalan menuju kamarnya. Langkahnya pelan menaiki tangga rumah yang sudah sangat ia kenal sejak kecil. Begitu sampai di kamar, ia langsung menutup pintu dan menghela napas panjang. Ruangan itu terasa tenang. Lampu kamar hanya menyala redup. Kiara berjalan menuju meja kecil di dekat tempat tidurnya. Di sana terdapat sebuah bingkai foto yang selalu ia simpan rapi. Foto seorang lelaki muda dengan senyum hangat. Cinta pertamanya. Axel. Kiara mengambil bingkai itu dengan hati-hati, lalu duduk di tepi tempat tidur. Tatapannya lembut. Sudah bertahun-tahun berlalu, tapi perasaannya pada lelaki itu tidak pernah benar-benar hilang. Ia mengusap permukaan kaca bingkai itu perlahan. “Ansel…” gumamnya pelan, lalu terkekeh kecil sendiri. “Lucu deh.” Kiara menatap wajah Axel dalam foto itu. “Ada seseorang yang sangat mirip denganmu.” Ia memiringkan kepalanya sedikit, seolah sedang benar-benar berbicara dengan lelaki di foto itu. “Nggak mirip banget sih, tapi…” Kiara terdiam sebentar, mencoba mencari kata yang tepat. “Dia kayak kamu.” Senyum kecil muncul di bibirnya. “Aneh ya.” Jarinya mengusap wajah Axel di dalam foto itu. “Namanya Ansel.” Ia tertawa kecil lagi. “Bahkan namanya hampir sama denganmu.” Kiara mengulang pelan nama itu. “Ansel… dan Axel.” Dua nama yang berbeda. Namun entah kenapa terasa begitu dekat di hatinya. Kiara bersandar pada kepala tempat tidur sambil masih memegang foto itu. “Kalau kamu masih ada…” bisiknya lirih. Tatapannya mulai berkaca-kaca. “Mungkin semuanya nggak akan serumit ini.” Ia memejamkan mata sebentar. Kenangan tentang Axel selalu datang dengan cara yang sama—hangat, tapi juga menyakitkan. Beberapa saat kemudian Kiara membuka matanya lagi, menatap foto itu dengan senyum tipis. “Tapi tenang aja,” katanya pelan. “Aku cuma ketemu seseorang yang namanya mirip kamu.” Ia menghela napas kecil. “Bukan kamu.” Namun jauh di dalam hatinya… Ada sesuatu yang aneh setiap kali ia berada di dekat Ansel. Sesuatu yang terasa familiar. Seperti debar yang pernah ia kenal. Debar yang dulu… hanya pernah ia rasakan untuk satu orang. Axel.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN