Keesokan harinya, di tempat lain di sudut Jakarta yang ramai, suasana sebuah kafe di salah satu mall ternama dipenuhi suara percakapan dan dentingan sendok yang beradu dengan cangkir kopi.
Di salah satu meja dekat jendela, Ansel dan Calista sudah lebih dulu datang.
Calista terlihat santai sambil memainkan sedotan minumannya, sesekali melihat ke arah pintu masuk.
“Harusnya Viora udah sampai deh,” gumamnya.
Ansel yang duduk di hadapannya hanya mengangguk kecil. Ia tidak terlalu fokus pada percakapan. Matanya sempat melayang keluar jendela, melihat lalu-lalang orang yang berjalan di dalam mall.
Entah kenapa pikirannya kembali teringat pada seseorang.
Kiara.
Wanita itu muncul begitu saja dalam benaknya sejak kemarin.
Cara Kiara menunduk saat mengukur tubuhnya.
Cara wanita itu berusaha terlihat profesional… meskipun jelas terlihat canggung.
Ansel menghela napas kecil.
“Kenapa?” tanya Calista tiba-tiba, menyadari perubahan ekspresi di wajahnya.
“Hm?”
“Kamu kelihatan melamun.”
Ansel hanya menggeleng ringan. “Nggak apa-apa.”
Belum sempat Calista bertanya lagi, seseorang tiba-tiba datang dari arah pintu kafe.
Seorang wanita berambut panjang melambai ceria.
“Caliss!”
Calista langsung berdiri dari kursinya.
“Viora!”
Keduanya langsung saling berpelukan hangat seperti sahabat yang lama tidak bertemu.
“Ya ampun, kamu makin cantik aja,” ujar Calista.
“Kamu juga kali!” balas Viora tertawa.
Baru setelah itu Calista menyadari bahwa Viora tidak datang sendirian.
Di belakangnya berdiri seorang lelaki tinggi dengan wajah tampan dan pembawaan yang tenang.
“Eh iya!” kata Viora cepat. “Kenalin dulu.”
Ia meraih tangan lelaki itu.
“Ini Rafandra.”
Viora tersenyum bangga.
“Kekasihku.”
Calista langsung tersenyum lebar.
“Wah akhirnya ya!”
Lalu ia menoleh pada Ansel.
“Sel, ini Viora. Teman lamaku yang sering aku ceritain.”
Ansel berdiri dan mengulurkan tangan dengan sopan.
“Halo.”
“Rafandra,” ucap lelaki itu sambil menjabat tangan Ansel.
“Ansel.”
Jabat tangan mereka singkat, tapi hangat.
Mereka lalu duduk bersama di meja itu.
Percakapan pun mulai mengalir ringan. Calista dan Viora lebih banyak bernostalgia tentang masa-masa mereka dulu—cerita lama, kejadian lucu, hingga gosip teman-teman lama mereka.
Rafandra mendengarkan sambil sesekali tersenyum, sementara Ansel lebih banyak diam namun tetap memperhatikan.
Di tengah percakapan itu, Viora tiba-tiba berkata dengan nada penasaran.
“Ngomong-ngomong… kamu masih kerja di rumah sakit yang sama, Sel?”
“Iya,” jawab Ansel singkat.
“Masih jadi dokter bedah jantung?”
Ansel mengangguk.
“Iya.”
“Wah keren banget sih,” kata Viora tulus.
“Banyak pasien?”
Ansel terdiam sebentar.
Entah kenapa, tanpa sadar wajah seseorang kembali muncul di benaknya.
Seorang wanita dengan mata lelah… tapi tetap berusaha tersenyum.
Kiara.
“Lumayan,” jawabnya akhirnya.
Sementara itu Rafandra yang sejak tadi lebih banyak diam akhirnya ikut bicara.
“Dokter jantung ya?”
Ansel menoleh padanya.
“Iya.”
Viora tersenyum tipis. “Kebetulan, seseorang yang punya riwayat penyakit jantung.”
Kalimat itu membuat Ansel sedikit menoleh lebih serius.
Sementara Rafa tersengat canggung. “Sayang…” ia terkesan membujuk,
“Siapa?” Selidik Calista. “Kayaknya mencurigakan deh.” Calista tersenyum jahil. Sedikit tahu sosok yang dimaksud Viora, sebab sahabatnya itu pernah menceritakan sosok yang wanita yang sangat dicemburui nya saat ini.
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan, dan tersenyum getir.
“Namanya Kiara.”
Nama itu membuat Ansel membeku sepersekian detik.
Seolah dunia tiba-tiba berhenti sejenak di telinganya.
Kiara.
Calista terkekeh kecil saat mendengar nada kesal dalam suara Viora.
“Ya ampun, Vi… kamu masih aja bahas itu,” godanya ringan.
Viora mendengus pelan, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi.
“Ya gimana dong, Cal. Aku cuma nggak suka aja kalau inget masa lalu dia,” ujarnya sambil melirik sekilas ke arah kekasihnya.
Rafandra—yang biasa dipanggil Rafa oleh Viora—hanya tersenyum samar, seolah tidak terlalu mempermasalahkan ucapan itu.
“Dulu dia pernah pacaran lama sama seorang perempuan,” lanjut Viora, kini menatap Ansel dan Calista.
“Namanya Kiara.”
Nama itu membuat tangan Ansel yang sedang memegang cangkir kopi berhenti sesaat.
Namun ekspresinya tetap tenang.
“Kiara?” ulang Ansel pelan.
“Iya,” jawab Viora. “Katanya sih dia punya penyakit jantung dari kecil.”
Ansel menatap meja sebentar.
Potongan-potongan informasi mulai tersambung di kepalanya.
Kiara.
Penyakit jantung.
Rafa.
Ia mengingat lelaki yang beberapa hari lalu datang ke rumah sakit menjenguk Kiara.
Apakah… orang yang sama?
Ansel tidak melihat wajahnya dengan jelas, ia hanya melihat sekilas saja.
Sementara itu Rafa hanya tersenyum tipis, terlihat santai di luar, meskipun dalam hatinya ada sedikit ketegangan yang muncul.
“Ah itu cerita lama,” katanya ringan.
“Lagipula aku sama Kiara sudah lama putus.”
Kebohongan itu keluar begitu saja dari bibirnya.
Viora langsung terlihat sedikit lebih tenang mendengarnya.
“Ya bagus kalau memang udah selesai,” gumamnya.
“Jujur aja aku dulu sempat cemburu banget. Apalagi dengar cerita kalau kalian lama banget pacarannya.”
Rafa hanya tertawa kecil, berusaha terlihat santai.
“Namanya juga masa lalu.”
Namun Ansel masih diam, matanya menatap Rafa lebih lama dari biasanya.
Sesuatu dalam dirinya terasa tidak nyaman.
Ia mengingat dengan jelas bagaimana Rafa datang ke rumah sakit waktu itu, walaupun samar namun sekarang ia akhirnya sadar bahwa sosok itu adalah Rafa.
Cara lelaki itu memegang tangan Kiara.
Cara ia memanggil namanya.
Itu bukan sikap seseorang yang sudah lama berpisah.
Sementara Rafa kembali menyesap minumannya, mencoba menutupi kegugupan yang sempat muncul.
Ia tidak pernah menyangka…
Bahwa di meja yang sama ini, ada seseorang yang ternyata mengenal Kiara.
Dan lebih dari itu, seseorang yang tahu bahwa wanita itu masih ada dalam hidupnya.
Obrolan di meja itu berlangsung cukup lama.
Calista dan Viora lebih banyak tertawa, mengenang masa-masa lama mereka. Sesekali mereka membahas rencana pernikahan keluarga besar yang sebentar lagi akan digelar. Suasana terlihat santai dan hangat.
Ansel berusaha menyesuaikan diri.
Ia merespon setiap pembicaraan seperlunya, mengangguk, sesekali tersenyum, bahkan ikut menanggapi beberapa cerita ringan yang mereka bahas.
Rafa pun melakukan hal yang sama.
Lelaki itu terlihat begitu perhatian pada Viora—menuangkan minuman untuknya, menanyakan apakah makanannya sudah cukup, bahkan beberapa kali menyentuh punggung tangan Viora dengan lembut.
Dari luar, Rafa terlihat seperti seorang kekasih yang sangat menyayangi pasangannya.
Namun justru pemandangan itulah yang membuat perasaan Ansel semakin tidak nyaman.
Ia menatap Rafa beberapa saat tanpa disadari.
Di dalam kepalanya kembali terbayang wajah Kiara.
Wanita itu beberapa hari lalu terbaring di ranjang rumah sakit. Wajahnya pucat, namun tetap berusaha tersenyum pada ayahnya.
Dan sekarang lelaki yang disebut sebagai kekasihnya sedang duduk di hadapannya, memperlakukan wanita lain seolah dialah satu-satunya.
Ansel menunduk sedikit, menyesap kopinya.
Ada rasa yang aneh muncul di dadanya.
Bukan marah.
Lebih seperti… tidak rela.
Ia bahkan tidak tahu kenapa dirinya bisa merasa seperti itu.
Kiara bukan siapa-siapa baginya.
Mereka bahkan baru bertemu beberapa kali.
Namun entah kenapa, membayangkan Kiara yang mungkin masih mempercayai Rafa sepenuhnya membuat hatinya terasa berat.
Ansel menghela napas kecil.
Pikirannya kembali pada satu momen singkat di butik kemarin.
Saat Kiara melingkarkan meteran di pinggangnya.
Tangan wanita itu sedikit gemetar. Namun ia tetap berusaha terlihat profesional dan ketika Ansel menyebut namanya pelan,
cara Kiara menatapnya saat itu terasa begitu dalam.
Seolah ada sesuatu yang ingin ia ingat, namun tidak mampu.
Ansel kembali menatap Rafa yang sedang tertawa bersama Viora.
Untuk pertama kalinya sejak lama, ia merasakan dorongan aneh dalam dirinya.
Jika memang Kiara adalah wanita yang sama maka ada satu hal yang ia yakini.
Wanita itu tidak pantas diperlakukan seperti ini.