Bab 9. kembali bertemu

1584 Kata
Mobil yang dikendarai Ansel melaju pelan meninggalkan area parkir mall. Lampu-lampu kota Jakarta mulai menyala, memantul di kaca depan mobil. Beberapa menit pertama, suasana di dalam mobil cukup hening. Calista sedang sibuk memainkan ponselnya, sementara Ansel fokus menyetir. Namun pikiran lelaki itu jelas tidak sepenuhnya berada di jalan. Akhirnya ia memecah keheningan. “Lelaki itu… kekasihnya Viora?” tanya Ansel tiba-tiba. Calista menoleh sedikit ke arahnya. “Iya,” jawabnya santai. “Namanya Rafandra.” Ansel hanya mengangguk pelan. Beberapa detik kemudian Calista kembali berbicara, kali ini dengan raut sedikit bingung. “Tapi… yang mereka maksud itu Kiara designer bukan sih?” gumamnya. Ansel menoleh sekilas. “Maksudnya?” Calista menghela napas kecil. “Kiara yang disebut Viora tadi. Yang punya penyakit jantung.” Ia mengerutkan kening. “Jangan-jangan Kiara yang sama.” Ansel tidak langsung menjawab. Calista kembali melanjutkan dengan nada sedikit cemas. “Semoga aja Kiara yang lain deh. Soalnya kalau ternyata Kiara yang sama… pasti canggung banget.” Ia tertawa kecil, meski terdengar sedikit kaku. “Aku malah senang banget sama hasil desainnya Kiara Amora.” Calista bersandar santai di kursinya. “Bahkan aku tadinya mau ngenalin Viora ke dia juga.” Ansel kembali memandang lurus ke jalan. Kiara Amora. Nama itu kembali terngiang di kepalanya. Dari deskripsi singkat yang Viora ceritakan tadi—seorang wanita bernama Kiara, memiliki penyakit jantung sejak lama, dan pernah menjalin hubungan dengan Rafa… Semua potongan itu terasa terlalu pas. Terlalu sama. Ansel menggenggam setir mobil sedikit lebih erat. “Semoga saja Kiara yang lain,” lanjut Calista lagi. “Tapi kalau dipikir-pikir…” Ia menoleh ke arah Ansel. “Jakarta itu besar, tapi dunia kadang sempit juga ya.” Ansel tidak langsung menjawab. Di dalam hatinya, ia justru memiliki firasat yang berbeda. Bahwa kemungkinan besar… Kiara yang dimaksud memang hanya satu orang. Kiara Amora. Wanita yang beberapa hari lalu hampir pingsan di pesawat. Wanita yang jantungnya berdebar aneh setiap kali berada di dekatnya. Dan jika itu benar… Maka Kiara mungkin sedang mempercayai seseorang yang pada saat yang sama sedang hidup dalam kebohongan. Ansel menarik napas pelan. Entah kenapa, memikirkan hal itu membuat dadanya terasa tidak nyaman. Seolah ada sesuatu dalam dirinya yang ingin melindungi wanita itu… meskipun ia sendiri tidak mengerti alasannya. Pagi itu suasana di rumah sakit besar di Jakarta terlihat lebih sibuk dari biasanya. Para dokter dan perawat berlalu-lalang di lorong dengan langkah cepat, membawa berkas atau berbicara tentang pasien yang harus segera ditangani. Di antara keramaian itu, Ansel berdiri di ruang dokter dengan jas putih yang baru saja ia kenakan. Hari itu adalah hari pertamanya resmi bergabung di rumah sakit tersebut. Sebagai salah satu dokter bedah jantung muda dengan prestasi yang cukup menonjol, kedatangannya memang sudah cukup dikenal oleh beberapa dokter senior di sana. Beberapa dari mereka menyambutnya dengan ramah, menyalaminya, bahkan langsung mengajaknya berbincang tentang pekerjaan. Ansel merespon semuanya dengan sopan. Namun langkahnya tiba-tiba berhenti ketika seseorang memasuki ruangan. Seorang lelaki dengan aura tegas namun hangat. Begitu melihatnya, Ansel langsung mengenali sosok itu. Adrian. Dokter senior yang beberapa hari lalu ia temui di rumah sakit saat menangani seorang pasien. Kiara. Adrian juga terlihat terkejut sesaat sebelum akhirnya tersenyum lebar. Ia berjalan mendekat. “Ansel… kita bertemu lagi.” Tangannya langsung terulur untuk berjabat tangan. Ansel segera menyambutnya dengan hormat. “Iya, Dok,” jawabnya sopan sambil menjabat tangan Adrian dengan erat. “Dunia sempit ternyata.” Ia tersenyum kecil. “Senang sekali bisa bertemu lagi dengan Anda… dan bahkan menjadi salah satu rekan di rumah sakit ini.” Adrian tertawa kecil, jelas merasa senang. “Selamat bergabung,” ucapnya hangat. Jabat tangan mereka terasa erat dan tulus. Bukan hanya sekadar formalitas, tapi juga seperti awal dari kerja sama yang baik. “Prestasi kamu sudah sering saya dengar,” lanjut Adrian. “Rumah sakit ini memang sedang mencari dokter bedah jantung muda yang kompeten.” Ansel sedikit merendah. “Saya masih harus banyak belajar, Dok.” Adrian menepuk ringan bahu Ansel. “Bagus kalau masih punya pemikiran begitu.” Ia kemudian menambahkan dengan nada santai. “Kalau begitu kita akan sering bertemu di ruang operasi.” Ansel mengangguk. “Dengan senang hati, Dok.” Namun di dalam hati Ansel muncul satu pikiran lain yang tidak ia ucapkan. Jika Adrian bekerja di rumah sakit ini… Maka kemungkinan besar ia juga akan sering bertemu seseorang yang tidak bisa ia lupakan sejak beberapa hari terakhir. Kiara. Sore hari menjelang malam, lorong rumah sakit mulai sedikit lebih lengang. Beberapa dokter sudah menyelesaikan jadwal praktik mereka, sementara perawat masih sibuk dengan pergantian shift. Ansel keluar dari ruang dokter sambil merapikan jas putihnya. Hari pertama yang cukup panjang, namun juga menyenangkan. Ia berjalan menuju pintu keluar rumah sakit. Namun langkahnya terhenti saat melihat seseorang yang sangat ia kenal. Adrian. Dokter senior itu berdiri di dekat pintu masuk sambil berbicara dengan seorang gadis muda yang masih mengenakan seragam sekolah menengah atas. Dari gestur mereka saja sudah terlihat jelas hubungan keduanya sangat dekat. Ayah dan anak. Gadis itu berdiri dengan tangan bersedekap, wajahnya cantik namun ekspresinya sedikit judes. Tatapannya tajam, seperti seseorang yang tidak mudah akrab dengan orang baru. Ansel yang hendak lewat akhirnya berpapasan dengan mereka. “Pulang, Dok?” sapa Ansel sopan. Adrian langsung menoleh dan tersenyum. “Iya,” jawabnya santai. “Udah dijemput tuan putri nih.” Ia menunjuk ke arah gadis di sampingnya. Gadis itu menatap Ansel sekilas. Baru saat itu Ansel benar-benar memperhatikan wajahnya. Matanya sedikit membesar. Wajah itu… Sangat familiar. Garis wajahnya, bentuk matanya, bahkan cara ia menatap orang lain— Sangat mirip dengan seseorang. Kiara. Hanya saja gadis ini terlihat lebih tajam, lebih ekspresif. Ada kesan sedikit judes yang membuatnya terlihat berbeda dari Kiara yang lembut. Ansel tersenyum tipis. “Kamu…” katanya sambil memperhatikan gadis itu. “Kamu mirip seseorang.” Gadis itu langsung mengernyit. “Siapa?” Adrian tertawa kecil. “Kian,” panggilnya. Ia lalu menoleh pada Ansel. “Ini Kiandra. Anak kedua saya.” Ansel mengangguk memahami. Adrian kemudian berkata pada putrinya dengan nada sedikit bangga. “Dia dokter muda di sini. Spesialis jantung.” Ia menambahkan sambil menepuk ringan bahu Ansel. “Kamu harus banyak belajar dari dia kalau mau jadi dokter jantung terbaik.” Kiandra—atau Kian—mendengus kecil. “Iya,” jawabnya singkat. Namun kemudian ia berkata dengan nada yang lebih serius. “Kian memang mau jadi dokter terbaik.” Ia mengangkat dagunya sedikit. “Juga… jadi dokter pribadi Kak Kiara.” Nama itu kembali membuat perhatian Ansel terarah sepenuhnya pada gadis itu. “Kak Kiara?” ulangnya pelan. Adrian tersenyum hangat. “Iya.” “Putri pertama saya.” Kalimat itu membuat semuanya semakin jelas di kepala Ansel. Kiandra. Adik Kiara. Ansel tersenyum kecil, kali ini dengan pemahaman baru. “Pantas saja,” gumamnya. “Wajah kalian mirip.” Kiandra hanya mengangkat alis sedikit, seperti tidak terlalu peduli dengan pujian itu. Namun Ansel diam-diam merasa sesuatu yang hangat di dalam dirinya. Dunia memang terasa semakin sempit. Kini ia bukan hanya bekerja satu rumah sakit dengan Adrian… Tapi juga baru saja bertemu dengan adik dari wanita yang sejak beberapa hari terakhir terus muncul di pikirannya. Kiara. Mobil Ansel baru saja keluar dari area rumah sakit ketika ponselnya berdering. Nama Calista muncul di layar. Ia menekan tombol jawab sambil tetap fokus menyetir. “Halo?” “Sayang,,,” suara Calista terdengar sedikit terburu-buru. “Kamu masih di jalan?” “Iya, baru keluar rumah sakit.” “Bisa tolong mampir sebentar nggak?” Ansel mengerutkan kening sedikit. “Mampir ke mana?” “Ke butik Kiara.” Nama itu langsung membuat perhatian Ansel terarah penuh. “Kenapa?” “Aku pesan gaun mendadak buat acara besok pagi,” jelas Calista. “Tadi katanya sudah selesai dan bisa diambil malam ini. Tapi aku lagi nggak bisa keluar.” Ansel terdiam sebentar. “Ambilin ya? Sekalian saja kamu lewat sana.” Ia menarik napas pelan sebelum menjawab. “Iya, bisa.” “Thank you! Aku kirim alamatnya lagi ya.” “Alamatnya aku sudah tahu.” Calista tertawa kecil di ujung telepon. “Ya sudah, tolong ambilin ya?” “Oke.” Telepon pun terputus. Ansel melirik sebentar ke arah jalan yang harus ia ambil. Tanpa banyak berpikir lagi, ia membelokkan mobilnya menuju kawasan tempat butik Kiara Amora berada. Malam di Jakarta masih ramai. Lampu-lampu jalan dan gedung tinggi menyala terang, sementara kendaraan masih berlalu-lalang tanpa henti. Sekitar dua puluh menit kemudian, mobil Ansel berhenti di depan sebuah butik dengan papan nama elegan bertuliskan Kiara Amora. Lampu butik masih menyala. Berarti mereka memang masih buka. Ansel turun dari mobil, merapikan jasnya sedikit sebelum berjalan masuk. Begitu pintu kaca terbuka, suara lonceng kecil terdengar. Di dalam butik suasana cukup tenang. Beberapa gaun indah tergantung rapi di rak, sementara meja kerja di tengah ruangan dipenuhi sketsa dan kain. Laras yang sedang merapikan sesuatu langsung menoleh. “Selamat malam—” ucapnya otomatis sebelum berhenti. “Oh… dokter.” Ia mengenali Ansel dari kunjungan sebelumnya. “Selamat malam,” jawab Ansel sopan. “Saya mau mengambil pesanan Calista.” “Oh iya,” kata Laras cepat. “Sebentar ya, saya ambilkan.” Saat Laras berjalan ke belakang untuk mengambil gaun yang dimaksud, Ansel berdiri menunggu. Matanya tanpa sadar menyapu ruangan itu. Dan kemudian, Ia melihat seseorang di ujung ruangan. Seorang wanita yang sedang duduk di meja kerja dengan beberapa kain dan sketsa di depannya. Rambutnya sedikit terurai, wajahnya terlihat lelah namun tetap fokus pada pekerjaannya. Kiara. Wanita itu baru menyadari kehadiran Ansel beberapa detik kemudian. Tatapan mereka bertemu. Dan seperti biasa… Ada debar aneh yang muncul di d**a Kiara.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN