Bab 10. Ketahuan

1431 Kata
Laras kembali muncul dari ruang belakang sambil membawa gaun berwarna lembut yang sudah hampir selesai. “Tapi Bu Calista minta beberapa bagian direvisi,” jelas Laras sambil memperlihatkan gaun itu pada Ansel. “Ditambahkan payet di bagian lengan dan leher.” Ansel melirik gaun itu sekilas. “Dokter mau menunggu?” tanya Laras hati-hati. “Lama nggak?” tanya Ansel datar. Ia memang bukan tipe orang yang suka menunggu terlalu lama. Namun ia juga sudah terlanjur berjanji pada Calista untuk mengambilkannya malam ini. “Kami akan berusaha secepatnya,” jawab Laras. Ansel menghela napas kecil. “Baiklah.” Beberapa langkah dari sana, Kiara yang sejak tadi sebenarnya menyadari kedatangan Ansel berusaha tetap fokus pada pekerjaannya. Namun setelah mendengar percakapan mereka, ia akhirnya berdiri dan berjalan mendekat. “Ada apa, Laras?” tanyanya tenang. “Dokter Ansel mau ambil gaun Bu Calista, Mbak,” jelas Laras. “Tapi masih ada beberapa bagian yang harus diperbaiki.” “Yang mana?” Kiara mengambil gaun itu dan memperhatikannya dengan teliti. Laras menunjuk bagian lengan. “Ini.” Kiara mengangguk kecil setelah melihatnya. “Oh… ini bisa kita kerjakan sekarang.” Ia menoleh pada Laras. “Kita kerjakan sama-sama saja, biar cepat.” Lalu Kiara mengalihkan pandangannya pada Ansel. Untuk sepersekian detik, mata mereka kembali bertemu. Perasaan aneh itu muncul lagi di d**a Kiara. Debar yang tidak ia mengerti, namun ia tetap menjaga ekspresinya profesional. “Boleh tunggu sebentar,” kata Kiara dengan nada sopan. “Di sana ada kopi atau teh kalau mau menunggu.” Ia menunjuk sebuah ruang kecil di sisi butik yang memang disediakan untuk tamu. Ansel mengikuti arah yang ditunjuk Kiara. “Baiklah.” Ia berjalan menuju ruang tunggu dan duduk di salah satu kursi sofa yang tersedia. Di meja kecil di depannya sudah tersedia beberapa minuman, namun bukannya langsung mengambil kopi atau teh, Ansel justru menoleh sedikit ke arah ruangan utama butik. Dari tempatnya duduk, ia masih bisa melihat Kiara. Wanita itu kini berdiri bersama Laras di meja kerja. Tangannya cekatan memegang jarum dan kain, sesekali berdiskusi singkat dengan asistennya. Wajahnya terlihat fokus. Serius, namun juga tenang. Ansel memperhatikan tanpa sadar. Ada sesuatu yang berbeda dari Kiara dibandingkan kebanyakan orang yang pernah ia temui. Sementara itu di meja kerja, Kiara berusaha menyelesaikan revisi secepat mungkin. Namun beberapa kali tanpa sadar ia melirik ke arah ruang tunggu, ke arah sosok lelaki yang sedang menunggunya di sana. Ansel. Dan setiap kali ia melihatnya, Jantungnya kembali berdebar dengan cara yang aneh. Debar yang terlalu familiar, seolah hatinya sedang mengingat seseorang yang pernah sangat ia cintai… meskipun pikirannya belum mampu menjelaskan kenapa. Ansel duduk bersandar di sofa ruang tunggu butik. Awalnya ia mengira menunggu di tempat seperti itu akan terasa membosankan, namun ternyata tidak. Suasana butik yang tenang, aroma kain dan parfum ruangan yang lembut, serta pemandangan Kiara yang bekerja dengan serius membuat waktu terasa berjalan lebih ringan. Sesekali Ansel menatap ke arah meja kerja. Kiara terlihat fokus menjahit bagian lengan gaun Calista bersama Laras. Gerak tangannya cekatan dan terlatih. Rambutnya sesekali jatuh ke depan wajah, lalu ia singkirkan dengan gerakan kecil yang sederhana. Entah kenapa… Ansel merasa nyaman berada di sana. Menunggu pun tidak terasa seperti menunggu. Namun beberapa menit kemudian, pintu kaca butik terbuka. Suara lonceng kecil berdenting. Ansel menoleh. Seorang lelaki masuk sambil membawa beberapa bungkusan makanan dengan logo restoran ternama Jakarta. Begitu melihat wajah lelaki itu, mata Ansel sedikit menyipit. Rafa. Seketika potongan-potongan kejadian dalam beberapa hari terakhir terasa tersusun dengan sangat jelas. Pertemuan di kafe bersama Viora, cerita tentang mantan bernama Kiara yang katanya sudah lama putus. Dan sekarang, Lelaki yang sama datang ke butik Kiara dengan membawa makanan. Ansel tersenyum samar. Senyum tipis yang lebih menyerupai pemahaman. “Pemainnya mudah sekali ditebak…” gumamnya pelan dalam hati. Dunia memang sempit dan kebetulan tampaknya terlalu sering terjadi. Di sisi lain ruangan, Kiara langsung menoleh ketika mendengar pintu terbuka. Begitu melihat Rafa, wajahnya berubah lembut. “Kamu?” katanya sedikit terkejut. Rafa mengangkat bungkusan makanan di tangannya. “Buat kamu,” ujarnya sambil tersenyum. “Aku tahu kamu pasti belum makan.” Kiara tersenyum tipis. “Terima kasih.” Namun saat Rafa berjalan lebih masuk ke dalam butik, langkahnya tiba-tiba terhenti. Matanya bertemu dengan seseorang yang duduk di ruang tunggu. Ansel. Lelaki itu sedang memperhatikannya dengan tenang. Ekspresi Rafa langsung berubah, terlihat jelas ia terkejut. Beberapa detik keduanya hanya saling menatap. Ansel tetap duduk santai di kursinya, satu tangannya bertumpu di sandaran sofa. Senyum tipis masih terlihat di wajahnya. Sementara Rafa tampak sedikit kaku. Ia jelas tidak menyangka akan melihat Ansel di sini. Ansel mengangguk kecil, seolah menyapa tanpa perlu kata. Rafa berusaha menormalkan ekspresinya, namun dari sorot matanya, Ansel tahu satu hal dengan pasti. Rafa sadar, bahwa seseorang di ruangan ini mungkin sudah mengetahui lebih banyak dari yang seharusnya. Suasana di dalam butik berubah sedikit berbeda sejak kedatangan Rafa. Kiara masih berdiri di meja kerja bersama Laras, namun kini ia sesekali menoleh ke arah Rafa yang meletakkan bungkusan makanan di meja kecil dekat sofa. “Buat kamu,” ulang Rafa lembut. “Dari restoran favoritmu.” Kiara tersenyum kecil. “Terima kasih.” Namun Ansel yang duduk di ruang tunggu memperhatikan semuanya dengan tenang. Ada sesuatu yang terasa berbeda. Saat bersama Viora, Rafa terlihat sangat santai. Gerak-geriknya alami, bahkan penuh perhatian. Namun sekarang… Di depan Kiara, Rafa justru terlihat sedikit kaku. Senyumnya ada, tapi tidak benar-benar sampai ke matanya. Gerakan tangannya juga terasa lebih berhati-hati, seperti seseorang yang sedang menjaga sikap. Entah karena keberadaan Ansel di sana atau memang hubungan itu sebenarnya tidak sehangat yang terlihat. Ansel menyandarkan punggungnya ke sofa, memperhatikan dengan tenang tanpa berniat ikut campur. Dari sudut tempatnya duduk, ia bisa melihat semuanya dengan cukup jelas. Rafa berdiri dekat Kiara, berbicara pelan padanya. Kiara sesekali menjawab sambil tetap fokus menyelesaikan revisi gaun di tangannya. Hubungan mereka terlihat biasa saja. Tidak ada kemesraan berlebihan, bahkan terasa seperti dua orang yang sedang berusaha menjaga sesuatu agar tetap terlihat baik-baik saja. Ansel tersenyum tipis. Bagi seseorang yang terbiasa membaca ekspresi pasien dan keluarga mereka, bahasa tubuh seperti itu bukan sesuatu yang sulit dipahami. “Drama murahan…” gumamnya dalam hati. Ia tidak mengatakan apa-apa, hanya menjadi penonton diam dari pertunjukan kecil yang tanpa sengaja terjadi di hadapannya. Namun ada satu hal yang membuat perhatian Ansel tetap bertahan di sana. Kiara. Wanita itu terlihat tulus. Cara ia berbicara, cara ia menerima Rafa datang membawakan makanan, tidak ada kepalsuan di sana. Dan justru itulah yang membuat Ansel merasa sedikit tidak nyaman. Karena ia tahu sesuatu yang Kiara belum tahu. Bahwa lelaki yang berdiri di sampingnya sekarang, berapa waktu yang lalu sedang duduk di sebuah kafe sambil menggenggam tangan wanita lain, dan menyebut Kiara sebagai masa lalu. Ansel menghela napas pelan. Ia kembali melirik ke arah Kiara yang sedang merapikan jahitan terakhir pada gaun Calista. Dalam hatinya muncul satu pikiran yang tidak ia rencanakan sebelumnya. Entah sampai kapan Kiara akan menjadi tokoh utama dalam drama yang bahkan ia sendiri tidak tahu sedang dimainkan di sekelilingnya. Beberapa menit kemudian, Kiara akhirnya menyelesaikan jahitan terakhir pada gaun itu. Ia merapikan bagian lengan dan leher yang tadi direvisi, lalu menyerahkannya pada Laras untuk dimasukkan ke dalam paperbag butik. Kiara berjalan mendekati ruang tunggu tempat Ansel duduk. “Gaunnya sudah selesai,” katanya sambil menyerahkan paperbag itu. “Maaf kalau menunggu lama.” Ansel berdiri dari sofa dan menerimanya. “Nggak lama kok,” jawabnya santai. “Aku masih bisa nunggu.” Kiara mengangguk kecil. “Tolong sampaikan salamku pada Calista,” lanjutnya. “Terima kasih sudah pesan baju pada kami.” “Sama-sama,” balas Ansel. Ia memegang paperbag itu dengan satu tangan, lalu sedikit menundukkan kepala sebagai tanda pamit. “Kalau begitu aku pamit.” Ansel berbalik menuju pintu keluar. Namun sebelum benar-benar pergi, ia sempat berhenti sejenak. Ia menoleh ke arah Rafa yang sejak tadi berdiri tidak jauh dari Kiara. Senyum tipis muncul di sudut bibirnya. Ansel mengangkat tangannya sedikit. “Rafa, gue duluan ya.” Kalimat itu membuat Kiara langsung menoleh heran. “Loh… kalian saling kenal?” tanyanya. Beberapa detik suasana terasa canggung. Rafa terlihat sedikit kaku, sementara Ansel justru terlihat santai. “Iya,” jawab Ansel singkat. Lalu ia menatap Rafa sebentar sebelum berkata dengan nada yang terdengar ringan namun penuh arti. “Coba tanya dia… apakah dia kenal aku atau tidak.” Senyum samar kembali muncul di wajah Ansel. Tanpa menunggu jawaban, ia membuka pintu kaca butik dan keluar. Bel berbunyi pelan saat pintu menutup kembali di belakangnya. Di dalam butik, Kiara masih berdiri dengan ekspresi bingung. Tatapannya kini beralih pada Rafa. “Kenal dari mana?” tanyanya. Sementara Rafa… Untuk pertama kalinya malam itu terlihat benar-benar kehilangan kata-kata.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN