“Nggak kenal banget,” jawab Rafa cepat.
Ia mencoba terdengar santai, meskipun ada sedikit ketegangan di wajahnya.
“Hanya saja aku pernah ke rumah sakit tempat dia kerja.”
Itulah alibi yang langsung muncul di kepalanya.
Kiara menatap Rafa beberapa detik, mencoba membaca ekspresinya.
“Oh… gitu.”
Ia akhirnya hanya mengangguk kecil.
Tidak ada pertanyaan lanjutan.
Bukan karena ia sepenuhnya percaya.
Namun Kiara sudah lama belajar satu hal dalam sebuah hubungan—bahwa kepercayaan harus tetap diberikan, bahkan ketika hati kecil kadang meragukannya.
Jika setiap hal terus dipertanyakan, hubungan itu sendiri yang akan runtuh.
Jadi Kiara memilih diam, ia kembali ke meja kerjanya, merapikan alat-alat jahit yang tadi ia gunakan.
Sementara Rafa berdiri di dekatnya, masih memegang bungkusan makanan yang tadi ia bawa.
“Makan dulu, Kia,” ujarnya pelan.
“Dari tadi kamu kerja terus.”
Kiara tersenyum tipis.
“Iya.”
Ia membuka salah satu kotak makanan itu. Aroma hangat langsung memenuhi ruangan kecil di meja kerjanya.
Laras yang sejak tadi memperhatikan dari jauh akhirnya ikut tersenyum.
“Wah enak tuh, Mbak.”
Kiara terkekeh kecil.
“Kamu mau juga?”
“Boleh?”
“Tentu.”
Sementara mereka mulai membuka makanan, Rafa berdiri di sana mencoba terlihat biasa saja.
Namun pikirannya masih tertinggal pada satu orang yang baru saja keluar dari butik itu.
Ansel.
Cara lelaki itu memanggil namanya dengan santai.
Cara ia tersenyum seolah mengetahui sesuatu.
Dan kalimat terakhirnya tadi—
“Coba tanya dia apakah dia kenal aku atau tidak.”
Kalimat itu terus terngiang di kepala Rafa.
Seolah sebuah peringatan yang disampaikan dengan cara yang sangat halus.
Rafa melirik sekilas ke arah Kiara yang sedang makan dengan tenang bersama Laras.
Wanita itu terlihat sama seperti biasanya.
Lembut.
Percaya.
Dan tidak menyadari apa pun.
Namun untuk pertama kalinya sejak lama Rafa mulai merasa tidak nyaman.
Karena ada seseorang di luar sana yang mungkin tahu lebih banyak dari yang seharusnya.
Mobil Rafa melaju tenang di jalanan malam Jakarta. Lampu-lampu kota memantul di kaca mobil, sementara radio memutar lagu pelan yang hampir tidak mereka dengarkan.
Rafa menyetir seperti biasa—tenang, sesekali melirik Kiara untuk memastikan ia baik-baik saja.
“Capek?” tanyanya lembut.
“Lumayan,” jawab Kiara sambil tersenyum tipis. “Tapi hari ini cukup menyenangkan.”
Rafa mengangguk kecil.
Hubungan mereka terlihat seperti pasangan pada umumnya. Rafa tetap perhatian, tetap lembut, bahkan tidak lupa menanyakan apakah Kiara sudah makan dengan cukup.
Namun beberapa menit kemudian ponsel Rafa mulai berdering.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Rafa hanya melirik layar sekilas tanpa menjawabnya.
Kiara memperhatikan dari kursinya.
“Raf… ponsel kamu bunyi terus tuh,” katanya santai. “Angkat dulu. Siapa tahu penting.”
Rafa tidak langsung menjawab.
Ia hanya menghela napas kecil dan tetap fokus menyetir.
Namun ponsel itu kembali berdering.
Kali ini lebih lama.
Kiara menoleh sedikit.
“Angkat saja,” ulangnya pelan.
Akhirnya Rafa mengambil ponselnya.
Namun alih-alih menjawabnya di dalam mobil, Rafa justru menepikan mobilnya di sisi jalan.
Kiara memperhatikan dengan sedikit heran, namun tidak mengatakan apa-apa.
Rafa membuka pintu mobil.
“Aku angkat dulu ya,” katanya singkat.
Kiara hanya mengangguk sambil tersenyum.
“Iya.”
Rafa keluar dari mobil lalu berjalan beberapa langkah menjauh sebelum menerima panggilan itu.
Kiara melihatnya dari balik jendela.
Lampu jalan menerangi sosok Rafa yang kini berdiri dengan punggung menghadap mobil. Ia berbicara dengan suara pelan, bahkan sesekali menoleh seolah memastikan Kiara tidak mendengar apa yang ia katakan.
Namun Kiara hanya duduk tenang di dalam mobil.
Ia tidak mencoba mendengarkan.
Tidak juga merasa perlu curiga.
Baginya…
Jika seseorang memilih menjawab telepon di luar, mungkin memang ada hal yang ingin dibicarakan secara pribadi.
Kiara bersandar pada kursinya sambil menatap keluar jendela.
Senyum kecil masih ada di wajahnya.
Ia masih berusaha memegang satu prinsip yang selalu ia yakini—
Sebuah hubungan hanya bisa bertahan jika dibangun dengan kepercayaan.
Meski jauh di dalam hatinya…
Ada sesuatu yang perlahan mulai terasa berbeda.
Rafa kembali masuk ke dalam mobil setelah beberapa menit berbicara di luar. Wajahnya terlihat sedikit tegang, namun ia segera menetralkan ekspresinya begitu menatap Kiara.
“Ada urusan penting,” katanya sambil menyalakan kembali mesin mobil. “Setelah antar kamu aku mau langsung pergi ya?”
Kiara hanya menoleh sebentar lalu mengangguk pelan.
“Iya.”
Jawabannya singkat. Tidak ada pertanyaan tambahan.
Mobil kembali melaju di jalanan yang mulai lebih lengang. Hanya suara mesin mobil dan desiran angin dari luar yang terdengar di dalam kabin.
Rafa sesekali melirik ke arah Kiara.
Wanita itu tampak tenang. Kepalanya bersandar pada sandaran kursi, menatap keluar jendela mobil dengan pandangan yang sulit dibaca.
Lampu-lampu kota bergerak seperti garis-garis cahaya di kaca jendela.
Ada sesuatu yang terasa berbeda malam ini. Biasanya Kiara akan bercerita tentang pekerjaannya, tentang pelanggan-pelanggan butik, atau bahkan ide desain baru yang muncul di kepalanya.
Namun malam ini ia lebih banyak diam.
Rafa sebenarnya menyadarinya.
Namun ia tidak tahu apakah harus bertanya atau membiarkannya saja.
Beberapa menit kemudian mobil Rafa akhirnya berhenti di depan rumah Kiara.
Rumah besar dengan halaman luas itu terlihat hangat dengan lampu-lampu taman yang menyala.
Rafa mematikan mesin mobil.
“Kita sudah sampai.”
Kiara membuka sabuk pengamannya.
“Makasih sudah antar.”
“Sudah jadi kewajiban pacar,” jawab Rafa dengan senyum kecil.
Kiara hanya membalas dengan senyum samar.
Ia membuka pintu mobil lalu turun. Rafa juga ikut keluar untuk mengantarnya sampai ke depan pagar rumah.
Udara malam terasa sedikit dingin.
Kiara berdiri menghadap Rafa.
“Jangan terlalu malam pulangnya,” kata Kiara.
Rafa mengangguk.
“Iya.”
Beberapa detik mereka hanya berdiri saling menatap.
Hubungan yang sudah berjalan bertahun-tahun biasanya dipenuhi kebiasaan-kebiasaan kecil yang tidak perlu dipikirkan lagi.
Rafa biasanya akan memeluk Kiara sebelum pulang. Namun malam ini ia hanya berdiri di tempat. Akhirnya Rafa yang memecah keheningan.
“Istirahat yang cukup ya.”
“Iya.”
Kiara mengangguk lagi.
Rafa mengangkat tangannya sebentar, seperti ingin menyentuh rambut Kiara, namun kemudian ia mengurungkan niatnya.
“Oke… aku pergi dulu.”
“Iya. Hati-hati.”
Rafa kembali ke mobilnya.
Beberapa detik kemudian mobil itu melaju meninggalkan rumah Kiara.
Kiara masih berdiri di depan pagar sampai lampu belakang mobil Rafa menghilang di ujung jalan.
Baru setelah itu ia berbalik dan masuk ke dalam rumah.
Di ruang keluarga, Adrian sedang duduk membaca sesuatu di tablet, sementara Kiandra rebahan di sofa sambil memainkan ponselnya.
“Kak Kia pulang!” seru Kiandra begitu melihatnya.
Kiara tersenyum.
“Iya.”
“Lama banget di butik?”
“Ada revisi pesanan.”
Adrian menoleh sebentar.
“Sudah makan?”
“Sudah, Yah.”
Kiara berjalan mendekati mereka lalu duduk sebentar di sofa.
“Kak,” kata Kiandra tiba-tiba.
“Hm?”
“Tadi aku ke rumah sakit jemput Ayah.”
Kiara mengangguk.
“Terus?”
Kiandra langsung duduk tegak dengan ekspresi bersemangat.
“Aku ketemu dokter muda baru.”
Adrian tersenyum kecil mendengar itu.
“Yang Ayah ceritakan tadi?”
“Iya!”
Kiandra menoleh pada Kiara.
“Namanya Ansel.”
Nama itu membuat Kiara sedikit terdiam.
Entah kenapa jantungnya seperti berdetak sedikit lebih cepat.
“Oh ya?”
“Iya,” lanjut Kiandra. “Dia dokter spesialis jantung juga. Ayah bilang dia hebat.”
Adrian mengangguk.
“Prestasinya bagus.”
Kiandra tertawa kecil.
“Aku bilang ke dia kalau aku mau jadi dokter jantung juga. Bahkan dokter pribadi Kak Kiara.”
Kiara tersenyum mendengar itu.
“Kenapa harus dokter pribadi?”
“Biar aku yang rawat Kakak.”
Kiara mengulurkan tangannya lalu mengacak rambut adiknya dengan lembut.
“Dasar.”
Kiandra tertawa.
Namun beberapa detik kemudian Kiara terdiam lagi.
Ansel.
Nama itu terasa aneh di hatinya.
Baru beberapa hari ia mengenal lelaki itu, namun entah kenapa setiap kali mendengar namanya, perasaan yang muncul selalu berbeda.
Seperti ada sesuatu yang lama sekali tertidur di dalam hatinya… perlahan bangun kembali.
.