Kondisi jantung Kiara selama ini tergolong stabil.
Sejak menjalani dua kali operasi di masa lalu, hidup Kiara memang tidak pernah benar-benar lepas dari pengawasan medis. Ia sudah sangat memahami tubuhnya sendiri kapan jantungnya mulai lelah, kapan ia harus beristirahat, dan kapan harus segera memeriksakan diri.
Karena itu Kiara memiliki satu kebiasaan yang selalu ia lakukan dengan disiplin.
Kontrol rutin.
Jika kondisinya baik dan tidak ada keluhan apa pun, ia hanya akan memeriksa jantungnya satu bulan sekali. Namun jika ada sedikit saja gejala—sesak, jantung berdebar tidak normal, atau kelelahan berlebih—Kiara biasanya akan memeriksakan diri setiap dua minggu.
Bukan karena ia penakut.
Tapi karena ia tahu betul bagaimana rasanya berada di meja operasi, menunggu dokter memastikan apakah jantungnya akan baik-baik saja.
Hari ini seharusnya menjadi jadwal kontrol bulanannya. Namun Kiara sebenarnya sudah menunda pemeriksaan itu selama tiga hari.
Bukan karena ia mengabaikannya, justru sebaliknya. Beberapa hari lalu Rafa mengatakan bahwa ia ingin menemani Kiara memeriksakan diri setelah menyelesaikan serangkaian meeting penting yang harus ia hadiri.
“Aku nggak mau kamu pergi sendiri,” kata Rafa waktu itu.
“Tunggu aku selesai meeting beberapa hari ini ya. Nanti aku yang antar.”
Kiara mengangguk saat itu, ia menurut saja.
Bagaimanapun juga, Rafa adalah kekasihnya. Dan beberapa hari terakhir lelaki itu memang terlihat berusaha memperbaiki banyak hal.
Ia lebih perhatian, lebih sering menghubungi Kiara. Bahkan beberapa kali datang ke butik hanya untuk memastikan Kiara sudah makan atau tidak.
Hal-hal kecil yang dulu pernah membuat Kiara jatuh cinta padanya. Karena itu Kiara mencoba memberi ruang.
Mungkin Rafa memang sedang berubah, mungkin hubungan mereka memang masih bisa diperbaiki.
Pagi itu Kiara sudah bersiap sejak pukul delapan. Ia mengenakan kemeja putih sederhana dan celana panjang hitam, rambutnya diikat rapi ke belakang.
Di meja makan, Alifa sudah menyiapkan sarapan.
“Kontrol hari ini ya?” tanya ibunya lembut.
Kiara mengangguk.
“Iya, Bu.”
“Rafa yang antar?”
“Iya. Katanya sebentar lagi sampai.”
Adrian yang sedang membaca koran juga menoleh.
“Kalau ada keluhan sedikit pun, langsung bilang ke dokter ya.”
“Iya, Yah.”
Kiandra yang baru turun tangga langsung ikut duduk di kursi makan.
“Kak Kia ke rumah sakit Ayah?”
“Iya.”
Kiandra langsung tersenyum lebar.
“Siapa tahu ketemu dokter Ansel.”
Kiara yang sedang minum air hampir tersedak sedikit.
“Kenapa kamu sebut nama dia terus?” tanya Kiara sambil menahan senyum.
Kiandra mengangkat bahu.
“Dia keren.”
Adrian tertawa kecil.
“Kamu baru kenal juga sudah mengidolakan.”
“Ya soalnya dia spesialis jantung juga.” Kiandra menatap Kiara. “Cocok jadi dokter Kak Kia.”
Kiara menggeleng sambil tertawa kecil.
“Kamu ini.”
Belum sempat percakapan berlanjut, suara mobil terdengar dari luar rumah, Kiara menoleh ke arah jendela. “Kayaknya Rafa.”
Ia berdiri dari kursinya.
“Aku berangkat dulu ya.”
Alifa mengangguk.
“Hati-hati.”
Kiara mengambil tasnya lalu berjalan keluar rumah. Benar saja, mobil Rafa sudah berhenti di depan pagar. Rafa turun dari mobil sambil tersenyum.
“Siap kontrol, Nona Kiara?”
Kiara tersenyum kecil.
“Siap.”
Rafa membuka pintu mobil untuknya.
“Silakan.”
Kiara masuk ke dalam mobil, sementara Rafa kembali ke kursi kemudi.
Mobil pun melaju meninggalkan rumah itu menuju rumah sakit tempat Adrian bekerja.
Perjalanan pagi itu cukup lancar, Rafa terlihat santai sambil menyetir, bahkan beberapa kali mengajak Kiara berbicara tentang hal-hal ringan.
“Setelah kontrol, kamu ada kerjaan lagi?”
“Ke butik sebentar,” jawab Kiara.
“Kalau nggak terlalu capek, kita makan siang bareng.”
Kiara menoleh sedikit. “Kamu nggak meeting?”
“Sudah selesai semua.”
Kiara tersenyum tipis. “Boleh.”
Beberapa menit kemudian mobil Rafa memasuki area parkir rumah sakit. Gedung besar itu berdiri megah seperti biasa.
Bagi Kiara, tempat ini selalu terasa akrab sekaligus menegangkan.
Terlalu banyak kenangan tersimpan di sana.
Rafa memarkir mobilnya lalu menoleh pada Kiara.
“Sudah siap?”
Kiara menarik napas pelan.
“Iya.”
Mereka turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah sakit.
Namun begitu mereka sampai di lorong bagian poli jantung, Seseorang baru saja keluar dari ruang dokter.
Seorang lelaki dengan jas putih dan langkah tenang.
Ansel.
Ia sedang membaca sesuatu di tablet kecil yang dibawanya sebelum akhirnya mengangkat kepala.
Tatapannya langsung bertemu dengan Kiara.
Langkah Kiara otomatis berhenti sepersekian detik.
Dan seperti biasa debar aneh itu kembali muncul di dadanya.
Ruang pemeriksaan itu terasa lebih sunyi dari biasanya.
Padahal tidak ada yang berbeda—ruangan tetap sama seperti ruang dokter pada umumnya. Meja kerja dengan beberapa berkas pasien, rak kecil berisi buku-buku medis, monitor EKG, serta aroma antiseptik yang khas rumah sakit.
Namun bagi Kiara, ada sesuatu yang membuat suasana terasa aneh.
Ansel.
Lelaki itu berdiri di dekat meja pemeriksaan sambil memperhatikan layar monitor. Wajahnya terlihat sangat tenang, profesional, seolah pertemuan-pertemuan kebetulan yang sering terjadi di antara mereka tidak pernah berarti apa-apa.
Sementara Kiara justru merasa sebaliknya.
“Silakan duduk, Kiara,” ucap Ansel tenang.
Nada suaranya datar, sama seperti saat ia berbicara dengan pasien lain. Kiara mengangguk kecil lalu duduk di kursi yang tersedia.
Perawat yang membantu pemeriksaan mulai bekerja.
“Tensi dulu ya, Mbak,” ujar perawat itu ramah.
Kiara mengulurkan lengannya. Manset alat tensi dililitkan perlahan di lengan kirinya. Udara dipompa hingga terasa sedikit menekan.
Sementara itu Ansel menuliskan sesuatu di berkas medis.
“Terakhir kontrol kapan?” tanyanya tanpa menoleh.
“Satu bulan lalu.”
Ansel mengangguk kecil.
“Keluhan selama sebulan terakhir?”
“Tidak ada.”
“Sesak?”
“Tidak.”
“Pusing?”
Kiara berpikir sejenak. “Kadang… kalau terlalu capek.”
Ansel akhirnya mengangkat kepala menatapnya.
“Sering lembur?”
“Lumayan.”
Tatapan Ansel tidak lama, hanya beberapa detik sebelum ia kembali menulis.
“Harus dikurangi.” nada suaranya tetap tenang, namun ada sesuatu dalam caranya berbicara yang terdengar seperti teguran halus.
Perawat kemudian melepas alat tensi.
“Tekanan darahnya bagus, Dok.”
Ansel menoleh ke arah monitor.
“120/80,” gumamnya pelan lalu ia berdiri.
“Sekarang kita cek jantungnya.”
Kiara mengangguk.
Ia berdiri lalu berjalan ke arah tempat tidur pemeriksaan. Perawat membantu memasang beberapa sensor EKG kecil di bagian d**a Kiara.
Saat itu Kiara merasakan kembali perasaan canggung yang tadi sempat hilang.
Bukan karena alatnya, tapi karena Ansel berada sangat dekat.
Lelaki itu berdiri di samping monitor, memperhatikan grafik detak jantung yang mulai muncul di layar.
Garis-garis itu bergerak naik turun secara teratur.
Detak jantung Kiara namun beberapa detik kemudian Ansel sedikit mengernyit.
“Kiara.”
“Iya?”
“Coba tarik napas dalam.”
Kiara menurut, Ia menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Garis di monitor kembali bergerak stabil.
Ansel memperhatikan beberapa detik lagi sebelum akhirnya berbicara lagi.
“Sekali lagi.”
Kiara mengulanginya, kali ini grafiknya lebih stabil.
Perawat kemudian melepas sensor-sensor itu.
“Sudah selesai, Mbak.”
Kiara kembali duduk di kursi semula sementara Ansel menuliskan sesuatu di berkasnya, beberapa detik ruangan itu hening.
Lalu Ansel berkata pelan.
“Secara umum kondisi jantungmu bagus.”
Kiara menghela napas lega, “Syukurlah.”
“Tapi…”
Kiara langsung menoleh. Ansel menutup berkas medisnya.
“Detak jantungmu sempat naik sedikit tadi.”
“Karena apa?”
Ansel menatapnya beberapa detik.
Tatapan yang anehnya terasa terlalu dalam untuk sekadar seorang dokter pada pasiennya.
“Biasanya karena kelelahan,” jawabnya akhirnya.
Kiara mengangguk. “Belakangan memang lumayan sibuk.”
Ansel bersandar sedikit di kursinya. “Bisa juga karena stres.”
Kiara tersenyum kecil. “Semua orang stres, Dok.”
“Tidak semua orang punya riwayat jantung seperti kamu.”
Kalimat itu membuat Kiara terdiam sejenak.
Benar juga, Ia tidak boleh sembarangan dengan tubuhnya sendiri. Ansel lalu mengambil resep kecil dan menuliskan beberapa vitamin tambahan.
“Ini diminum kalau kamu merasa terlalu capek.”
Ia menyodorkannya pada Kiara.
“Terima kasih.”
Ansel mengangguk kecil, namun sebelum Kiara berdiri Ansel tiba-tiba berkata lagi.
“Nunggu lama di luar?”
Kiara sedikit bingung.
“Maksudnya?”
“Rafa.”
Nama itu membuat Kiara tersadar.
“Oh… iya.”
Ansel tersenyum tipis, senyum yang sangat samar.
“Dia kelihatan tidak terlalu suka melihatku.”
Kiara tertawa kecil. “Mungkin karena kamu dokter.”
“Bukan.” Ansel menggeleng pelan.
“Sepertinya dia takut.”
Kiara sedikit mengernyit.
“Takut?”
Ansel menatap Kiara beberapa detik lagi, lalu dengan nada santai ia berkata,
“Takut aku kenal dia terlalu baik.”
Kiara benar-benar tidak mengerti maksud kalimat itu, namun sebelum ia sempat bertanya, Ansel sudah kembali bersikap seperti dokter biasa.
“Kontrol lagi satu bulan ke depan.”
Kiara berdiri. “Baik.”
Ia berjalan menuju pintu, namun tepat sebelum keluar, Kiara sempat menoleh kembali.
Ansel sudah kembali fokus pada berkas pasien berikutnya.
Seolah perbincangan mereka tadi tidak pernah terjadi.
Kiara membuka pintu, di luar, Rafa langsung berdiri dari kursinya.
“Sudah selesai?”
Kiara mengangguk.
“Sudah.”
Rafa tampak lega.
“Gimana hasilnya?”
“Bagus kok.”
Rafa tersenyum lalu merangkul bahu Kiara dengan hangat. “Syukurlah.”
Namun di balik pintu yang baru saja tertutup itu, Ansel menghentikan tulisannya.
Tatapannya mengarah ke pintu tersebut.
Ekspresinya tidak lagi setenang tadi, Ia hanya bergumam sangat pelan.
“Jadi benar, jantungmu dipakai dia..” Ansel menghembuskan napas pelan.
“Kiara Amora.”