Bab 13. Sekedar Kasihan

2059 Kata
Beberapa rencana memang tidak selalu berjalan sesuai yang sudah disusun dengan rapi. Kadang ada saja perubahan kecil yang memaksa semuanya menyesuaikan kembali. Bagi Kiara, hal seperti itu sudah sangat biasa terjadi dalam dunia fashion. Apalagi jika berhadapan dengan klien yang perfeksionis. Seperti Calista. Sebenarnya gaun yang dipesan wanita itu sudah selesai sejak kemarin malam. Kiara bahkan sempat memeriksa ulang setiap jahitan sebelum akhirnya gaun tersebut diambil oleh Ansel. Namun pagi harinya, pesan dari Calista datang. Ia menginginkan sedikit perubahan. Tidak besar, hanya menambahkan detail kecil di bagian lengan serta mempertegas garis di bagian leher agar terlihat lebih elegan di kamera. Masalahnya, acara yang akan dihadiri Calista dimulai sore ini. Waktu yang tersisa sangat mepet. Namun Kiara bukan tipe orang yang akan menolak permintaan kliennya begitu saja, apalagi Calista adalah pelanggan yang cukup penting. Selain sering memesan pakaian di butik Kiara, wanita itu juga beberapa kali mempromosikan karya Kiara di media sosialnya. Dan efeknya luar biasa. Akun butik milik Kiara yang sebelumnya hanya dikenal oleh pelanggan tertentu, kini mulai ramai. Banyak pesan masuk. Bahkan beberapa di antaranya langsung memesan gaun untuk berbagai acara penting. Karena itu Kiara tidak keberatan. Ia justru merasa berterima kasih. “Laras, Sita, kita ke lokasi ya,” ucap Kiara sambil mengambil tas peralatan kecilnya. “Kita yang kesana, Mbak?” tanya Laras sedikit terkejut. “Iya. Biar cepat.” Sita mengangguk. “Baik, Mbak.” Tidak lama kemudian mereka bertiga sudah berada di dalam mobil menuju lokasi acara. Hotel mewah di pusat kota Jakarta. Begitu sampai, suasana sudah cukup ramai. Beberapa orang lalu lalang dengan pakaian formal, sebagian membawa peralatan kamera. Rupanya acara yang akan dihadiri Calista bukan acara biasa. Kiara dan kedua karyawannya masuk melalui pintu samping menuju ruang persiapan. Begitu pintu dibuka— “Kiara!” Calista langsung menghampiri dengan wajah ceria. Wanita itu sudah mengenakan make up lengkap, rambutnya ditata dengan sangat elegan. “Kamu datang juga, aku takut banget nggak sempat,” katanya sambil memeluk Kiara singkat. Kiara tersenyum. “Tenang saja, kita kerjakan sekarang.” Calista menunjuk gaun yang tergantung di dekat meja rias. “Ini bagian lengannya, aku mau sedikit lebih tertutup.” Kiara memperhatikan dengan teliti. “Hanya ditambah sedikit lipatan kain di sini?” “Iya, supaya lebih dramatis.” Kiara mengangguk. “Bisa.” Ia segera membuka tasnya, mengeluarkan beberapa alat jahit sementara Laras dan Sita membantu menyiapkan gaun itu. Calista berdiri di depan cermin sementara Kiara mulai mengukur ulang bagian lengan. “Maaf ya mendadak banget,” ujar Calista. “Tidak apa-apa,” jawab Kiara lembut. “Namanya juga fashion.” Calista terkekeh kecil. “Kamu selalu tenang ya.” Kiara hanya tersenyum tipis. Padahal sebenarnya ia cukup lelah hari ini. Kontrol kesehatan pagi tadi masih terbayang di pikirannya. Terutama percakapan singkat dengan Ansel. Entah kenapa kalimat lelaki itu terus terngiang di kepalanya. Sepertinya dia takut. Kiara menghela napas kecil. Ia kembali fokus pada pekerjaannya. Jarum bergerak cepat di tangannya, menambahkan detail lipatan yang diinginkan Calista. Beberapa menit kemudian Laras membantu menyematkan bagian kain tambahan di sisi lainnya. “Coba dipakai lagi,” kata Kiara. Calista mengenakan gaun itu kembali lalu berdiri di depan cermin besar. Semua orang di ruangan itu memperhatikan. Calista memutar tubuhnya perlahan. Lalu matanya berbinar. “Ini dia!” Ia tertawa kecil. “Ini jauh lebih bagus.” Kiara ikut tersenyum lega. “Bagus kalau kamu suka.” Calista mendekati Kiara lalu menggenggam tangannya. “Terima kasih ya.” “Senang bisa membantu.” Calista kemudian mengambil ponselnya. “Sebentar.” Ia membuka kamera lalu mengarahkan ponsel ke arah cermin. “Guys, aku lagi fitting gaun dari designer favorit aku,” katanya sambil tersenyum pada kamera. Kiara langsung sedikit canggung. Calista menariknya mendekat. “Ini Kiara Amora, designer yang bikin gaun aku.” Kiara hanya tersenyum kecil ke arah kamera. “Kalau kalian butuh gaun pesta atau acara penting, serius deh… dia jenius,” lanjut Calista. Video itu selesai direkam. Calista tertawa puas. “Posting.” Sita berbisik pelan ke Kiara. “Fix nanti DM butik kita meledak lagi.” Kiara tertawa kecil. Namun belum sempat mereka berbicara lebih jauh— Pintu ruang persiapan tiba-tiba terbuka. Seorang lelaki masuk. Langkahnya santai namun percaya diri. Kiara yang sedang merapikan alat jahitnya tidak langsung melihat siapa orang itu. Sampai Calista berkata, “Ansel?” Kiara langsung menoleh. Lelaki itu berdiri di ambang pintu. Masih mengenakan kemeja putih rapi dengan jas hitam yang digantung di lengannya. Sepertinya baru datang dari suatu tempat. Ansel tersenyum kecil. “Acaranya sudah mulai?” Calista mengangguk. “Hampir.” Lalu wanita itu menunjuk gaunnya. “Gimana?” Ansel memperhatikan beberapa detik. Tatapannya tenang namun jelas menilai. “Bagus.” Calista terlihat senang. “Tentu saja. Ini karya Kiara.” Sekali lagi nama itu disebut. Tatapan Ansel otomatis berpindah. Langsung ke arah Kiara. Kiara berdiri di dekat meja dengan jarum dan benang di tangannya. Mereka saling menatap beberapa detik. Seperti biasa ada keheningan aneh yang hanya mereka berdua rasakan. Ansel akhirnya tersenyum tipis. “Sepertinya kita sering sekali bertemu.” Kiara menahan senyum kecil. “Iya… kebetulan.” Namun di dalam hatinya Kiara sendiri mulai merasa heran. Berapa kali lagi semesta akan mempertemukan mereka? Area parkir hotel malam itu cukup ramai. Lampu-lampu putih menerangi deretan mobil yang terparkir rapi, sementara beberapa orang terlihat lalu lalang menuju pintu masuk acara. Kiara berjalan cepat bersama Laras dan Sita. “Kita langsung pulang ke butik aja ya, Mbak?” tanya Laras sambil membawa tas perlengkapan. “Iya,” jawab Kiara singkat. Namun baru beberapa langkah berjalan, Kiara tiba-tiba berhenti. Tangannya otomatis menyentuh sisi tasnya. Lalu ia membuka tas itu. Mencari sesuatu. Alisnya langsung berkerut. “Kenapa, Mbak?” tanya Sita. Kiara membuka tasnya lebih lebar, memeriksa satu per satu isi di dalamnya. Ponsel. Buku kecil. Dompet kecil untuk koin. Tapi bukan yang ia cari. “Dompetku…” “Nggak ada?” Laras ikut mendekat. Kiara menggeleng pelan. “Tadi masih ada…” Ia mencoba mengingat kembali. Terakhir kali ia memegang dompetnya adalah saat membayar parkir valet ketika datang ke hotel tadi. Setelah itu… Ia tidak ingat lagi. “Aduh…” Kiara menarik napas pelan. “Mungkin jatuh di ruang ganti Calista.” “Balik lagi, Mbak?” tanya Sita. Kiara menoleh ke arah pintu masuk hotel yang cukup jauh dari tempat mereka berdiri. Ia ragu. Kalau harus kembali ke atas, mungkin acara sudah hampir dimulai dan ruangan itu akan penuh orang. Namun sebelum Kiara memutuskan— Seseorang memanggil dari belakang. “Kiara.” Suara itu cukup familiar. Kiara menoleh. Ansel berjalan mendekat dengan langkah tenang. Di tangannya ada sebuah dompet berwarna merah maroon. Kiara langsung membelalakkan mata. “Itu…” Ansel berhenti di depannya lalu mengangkat dompet tersebut sedikit. “Ini yang kamu cari?” Kiara spontan menghela napas lega. “Iya! Astaga…” Ia hampir tertawa karena lega. “Terima kasih, Dok.” Ansel menyerahkan dompet itu padanya. “Tadi jatuh di ruang persiapan.” Kiara menerima dompetnya dengan hati-hati. “Untung ketemu.” Ansel tersenyum tipis. “Kalau nggak, kamu pasti panik.” Kiara terkekeh kecil. “Sedikit.” Laras dan Sita yang berdiri tidak jauh dari mereka saling berpandangan sebentar. Seolah merasa suasana di antara dua orang itu agak… berbeda. Ansel memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. “Kamu selalu ceroboh begini?” Kiara mengangkat bahu ringan. “Kadang.” “Padahal kamu terlihat sangat teliti waktu bekerja.” Kiara tersenyum. “Kerja dan kehidupan pribadi beda.” Ansel memperhatikan wajah Kiara beberapa detik. Lampu parkiran memantulkan cahaya lembut di wajah wanita itu. Wajah yang entah kenapa terasa sangat familiar baginya sejak pertama kali melihatnya. “Bagaimana kondisi jantungmu?” tanya Ansel tiba-tiba. Kiara sedikit terkejut. “Baik.” “Benar?” Kiara mengangguk. “Benar.” Ansel menatapnya lagi sejenak sebelum akhirnya berkata, “Jangan terlalu memaksakan diri.” Kiara tersenyum tipis. “Kalau semua designer berpikir begitu, dunia fashion mungkin berhenti.” Ansel terkekeh kecil. “Poin yang bagus.” Beberapa detik kemudian suasana kembali hening. Mobil-mobil berlalu di sekitar mereka. Kiara menggenggam dompetnya sedikit lebih erat sebelum berkata, “Terima kasih sudah mengembalikannya.” “Sama-sama.” Kiara mengangguk kecil. “Kalau begitu aku pergi dulu.” Ansel tidak langsung menjawab. Tatapannya justru sedikit bergeser ke arah belakang Kiara. Sebuah mobil baru saja berhenti beberapa meter dari mereka. Lampu-lampu di area parkir memantulkan cahaya kekuningan di atas aspal yang mulai lengang. Kiara berdiri tidak jauh dari mobilnya, masih memegang dompet yang baru saja dikembalikan. Ia sebenarnya sudah bersiap pergi, tetapi langkahnya terhenti saat sebuah mobil berhenti beberapa meter dari sana. Pintu mobil terbuka, seorang wanita turun lebih dulu, diikuti seorang lelaki. Rafa. Kiara langsung mengenalinya, namun tatapannya tertahan pada wanita yang bersamanya. Wajah itu terasa tidak asing. Kiara mengerutkan kening sejenak, mencoba mengingat. Lalu ingatan itu datang. Bali. Wanita yang sama yang pernah ia lihat bersama Rafa beberapa waktu lalu. Jantung Kiara berdegup sedikit lebih keras. “Vi, dengerin aku dulu.” Suara Rafa terdengar jelas di tengah sunyinya parkiran. Lelaki itu terlihat berusaha menahan Viora yang hendak menjauh, menarik pelan tangannya. “Aku bisa jelaskan. Aku datang telat karena ada alasannya.” Viora menatap Rafa dengan wajah dingin. “Alasan apa?” tanyanya tajam. “Kamu ketemu lagi sama Kiara, kan?” Nama itu disebut dan Kiara membeku di tempatnya. Seolah waktu berhenti sejenak. Beberapa langkah di belakangnya, Ansel masih berdiri di tempat yang sama. Ia juga mendengar percakapan itu dengan jelas, namun tidak mengatakan apa-apa. “Kamu anterin dia kontrol lagi kan?” lanjut Viora dengan nada semakin tinggi. “Kamu bilang sudah putus tapi masih peduli sama dia!” Kiara tersenyum samar, senyum kecil yang aneh, hampir seperti seseorang yang baru saja menemukan jawaban dari teka-teki yang sudah lama ia simpan. Tanpa sadar ia menoleh sedikit ke arah Ansel yang berdiri tidak jauh darinya. Tatapan mereka bertemu sebentar, lalu suara Rafa kembali terdengar. “Kiara sakit, Vi.” Nada suara Rafa terdengar frustrasi. “Aku nggak mungkin ninggalin dia gitu aja.” Viora tertawa pendek, pahit. “Sakit kamu bilang?” katanya sinis. “Lalu aku gimana?” Ia menatap Rafa dengan mata yang mulai memerah. “Apa aku nggak sakit saat kamu bagi waktu sama dia?” Rafa terdiam sesaat, seolah tidak tahu harus menjawab apa. “Aku ingin meninggalkan Kiara,” ucapnya akhirnya, suaranya lebih pelan. “Tapi gimana dengan penyakit jantungnya?” Kalimat itu membuat d**a Kiara terasa seperti diremas, namun yang lebih menyakitkan adalah jawaban Viora setelahnya. “Itu urusan dia,” potong Viora dingin. “Itu penyakit dia. Kenapa harus kamu yang repot?” Rafa mencoba menenangkan. “Vi—” Namun Viora tidak berhenti. “Kalau pun dia mati,” lanjutnya tanpa ragu, “itu bukan urusan kita.” Sunyi. Seolah seluruh udara di parkiran berhenti bergerak. Kiara berdiri diam, wajahnya tenang, bahkan bibirnya masih menyisakan senyum tipis. Tapi matanya sedikit berkaca. Bukan karena terkejut, bukan juga karena tidak percaya, justru karena kalimat itu terasa begitu nyata. Ia akhirnya membalikkan tubuhnya, berniat pergi. Tidak ada gunanya mendengar lebih banyak lagi. Namun baru beberapa langkah— Sebuah tangan menahan lengannya. Ansel. Kiara berhenti dan menoleh padanya. Tatapan lelaki itu serius, penuh sesuatu yang sulit dijelaskan. Namun Kiara hanya menggeleng pelan. Senyumnya lemah. “Aku sudah tahu hubungan mereka dari lama,” ucapnya lirih. Suaranya sangat tenang. “Aku nggak kaget.” Angin malam berhembus pelan, menerbangkan sedikit rambut di sisi wajahnya. “Tapi jantungku…” lanjut Kiara pelan. Ia menatap lurus ke depan, ke arah Rafa dan Viora yang masih berdebat tanpa menyadari keberadaannya. “Penyakitku…” Kiara menelan pelan sebelum melanjutkan kalimatnya. “Mereka nggak berhak ngomong seperti itu.” Suara itu tidak keras, tidak juga penuh amarah. Namun cukup untuk membuat Ansel merasakan sesuatu menekan dadanya. Karena di balik kalimat sederhana itu, ada luka yang begitu dalam. Luka seseorang yang selama ini berusaha kuat, tapi tetap saja manusia. Beberapa detik mereka berdiri dalam diam. Lalu Kiara menarik napas perlahan. Ia kembali tersenyum tipis, seperti biasanya. Senyum yang selalu ia gunakan untuk menyembunyikan banyak hal. “Terima kasih sudah mengembalikan dompetku, Dok.” Ansel tidak langsung menjawab. Tatapannya masih tertuju pada wajah Kiara yang tampak lebih pucat dari biasanya. Namun Kiara sudah menarik tangannya perlahan dari genggaman lelaki itu. Ia menoleh sekali lagi ke arah Rafa, untuk pertama kalinya malam itu, Rafa akhirnya melihatnya. Wajahnya langsung berubah pucat. “Kiara—” Namun Kiara tidak berkata apa-apa, ia hanya memandangnya sebentar. Lalu berbalik dan berjalan menjauh.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN