Bab 14. Bukan patah hati

1169 Kata
Langkah Kiara tidak terlalu cepat, tapi juga tidak lambat. Ia berjalan seperti seseorang yang sedang berusaha terlihat biasa saja, padahal di dalam dirinya ada sesuatu yang baru saja runtuh. Tangannya menggenggam dompet merah maroon itu sedikit lebih erat, seolah itu satu-satunya hal yang bisa dipegang agar tetap kuat. Di belakangnya, langkah kaki terdengar mendekat. “Kiara… tunggu.” Suara itu membuat Kiara berhenti, namun ia tidak langsung berbalik. Ia menarik napas pelan, menata wajahnya, memastikan tidak ada emosi yang terlalu terlihat. Baru kemudian ia menoleh, Ansel sudah berdiri beberapa langkah di belakangnya. Tatapan lelaki itu berbeda dari biasanya. Tidak lagi sekadar tenang dan profesional. Ada sesuatu di sana, sesuatu yang dalam. “Kamu nggak harus kasihan sama aku, Ansel,” ucap Kiara lebih dulu. Suaranya pelan, tapi tegas. “Aku baik-baik saja.” Ansel tidak langsung menjawab, ia hanya menatap Kiara. Memperhatikan setiap detail di wajah wanita itu. Cara Kiara berdiri, cara ia menahan dirinya dan terutama cara ia berusaha terlihat kuat. “Anggap saja kamu nggak lihat apa-apa hari ini, ya?” lanjut Kiara. Senyumnya muncul lagi, senyum tipis yang terasa terlalu dipaksakan.Namun kali ini Ansel tidak membiarkannya. “Aku nggak bisa.” jawabannya singkat. Tapi cukup untuk membuat Kiara terdiam, Alisnya sedikit berkerut. “Maksudnya?” Ansel melangkah satu langkah lebih dekat. “Karena aku memang lihat.” nada suaranya tetap tenang, tapi lebih dalam dari biasanya. “Aku lihat kamu disakiti.” Kiara tersenyum kecil, hampir seperti menertawakan dirinya sendiri. “Semua orang juga pernah disakiti, Ansel.” “Tapi nggak semua orang diperlakukan seperti itu.” Kiara terdiam, kalimat itu menembus lebih dalam dari yang ia kira. Beberapa detik hening,angin malam kembali berhembus pelan di antara mereka. Kiara menunduk sebentar, Lalu berkata pelan, “Aku nggak marah kalau orang anggap aku lemah.” Ansel mendengarkan. “Aku juga nggak marah kalau mereka pikir aku merepotkan karena penyakitku.” suaranya tetap tenang, namun kali ini ada getaran kecil di dalamnya. “Tapi…” Kiara mengangkat wajahnya, matanya sedikit berkaca, tapi tidak ada air mata yang jatuh. “Kalau mereka bilang aku mati… jantungku nggak berguna…” Ia menelan pelan. “Itu sakit.” Ansel merasakan sesuatu menekan dadanya lebih kuat dari sebelumnya. Kiara menarik napas panjang. “Kamu tahu nggak…” ucapnya lirih. “Aku dan jantungku itu sudah berjuang lama banget.” Senyum kecil muncul di wajahnya bukan senyum bahagia, tapi senyum seseorang yang sedang mengingat sesuatu yang berat. “Setiap detaknya itu hasil usaha. Dari dokter…” ia menatap Ansel sebentar. “Dan dari aku juga.” Ansel tidak bergerak, juga tidak menyela, Ia hanya mendengarkan. “Aku belajar menerima kondisi ini pelan-pelan,” lanjut Kiara. “Belajar kuat… walaupun sebenarnya takut.” Suasana kembali hening, kali ini lebih dalam, lebih berat. Lalu Kiara kembali tersenyum kecil. “Jadi waktu ada yang bilang begitu…” Ia menggeleng pelan. “Ya… sakit saja.” Sederhana, tapi cukup untuk menjelaskan semuanya. Ansel menarik napas pelan, untuk pertama kalinya sejak lama ia merasa tidak tahu harus berkata apa sebagai seorang dokter. Karena yang ada di depannya bukan sekadar pasien, tapi seseorang yang sedang terluka. Dan luka itu bukan di jantungnya, melainkan di hatinya. Ansel menatap Kiara lebih dalam dan di titik itu ia akhirnya menyadari sesuatu. Perasaan yang sejak tadi ia rasakan, yang tidak bisa ia jelaskan. Bukan sekadar empati, bukan juga sekadar rasa ingin melindungi. Ada sesuatu yang tumbuh pelan tapi pasti. “Kiara,” panggilnya pelan. Kiara menatapnya. Ansel ragu sejenak, namun akhirnya tetap berkata, “Kamu nggak sendiri.” Kalimat itu sederhana. Tapi entah kenapa membuat pertahanan Kiara sedikit runtuh. Ia tersenyum kecil, kali ini lebih tulus. “Semua orang pasti sendiri di titik tertentu, Dok.” Ansel menggeleng pelan. “Enggak.” Kiara menatapnya dan untuk pertama kalinya ia melihat keyakinan di mata Ansel. Bukan sekadar ucapan penghibur tapi sesuatu yang benar-benar ia maksudkan. Beberapa detik mereka saling diam lalu Kiara menarik napas dalam,seolah mengumpulkan kembali kekuatannya. “Aku harus pulang.” Ansel tidak menahan, ia hanya mengangguk pelan. “Jangan lupa istirahat.” Kiara tersenyum kecil. “Iya, Dok.” Ia berbalik, melanjutkan langkahnya menuju mobil namun kali ini langkahnya terasa sedikit lebih berat dan sedikit lebih ringan di waktu yang sama. Sementara Ansel tetap berdiri di tempatnya menatap punggung Kiara yang semakin menjauh. Dan dalam diam ia tahu satu hal pasti malam ini bukan hanya Kiara yang terluka tapi juga dirinya yang mulai jatuh, tanpa pernah benar-benar berniat. Malam semakin larut saat Kiara akhirnya tiba di rumah. Setelah mengantar Laras dan Sita satu per satu, perjalanan pulang terasa lebih panjang dari biasanya. Jalanan yang mulai lengang justru membuat pikirannya semakin ramai. Kiara mematikan mesin mobilnya namun ia tidak langsung turun. Tangannya masih bertumpu di kemudi, matanya menatap lurus ke depan tanpa benar-benar melihat apa pun. Aneh. Seharusnya malam ini pikirannya dipenuhi oleh Rafa, tentang pengkhianatan itu,tentang kebohongan yang selama ini ia telan sendiri juga tentang kalimat menyakitkan yang baru saja ia dengar. Tapi tidak. Tidak ada Rafa di sana, tidak ada amarah, tidak juga rasa ingin menangis. Yang ada justru… Ansel.. Kiara menghela napas pelan,bayangan lelaki itu muncul begitu saja. Cara Ansel menatapnya di ruang pemeriksaan. Tenang, fokus, tapi entah kenapa terasa berbeda. Lalu saat di parkiran, cara ia menahan Kiara, cara ia mendengarkan tanpa menyela dan kalimat sederhana itu. “Kamu nggak sendiri.” Kiara tersenyum samar, senyum kecil yang tanpa sadar terlukis di wajahnya. “Kiara…” Ia berbisik pelan pada dirinya sendiri. “Jangan.” Ia menggeleng. Seolah ingin mengusir pikiran itu pergi namun bayangan itu tetap ada. Cara Ansel tersenyum tipis, cara ia berbicara dengan tenang tapi penuh arti, cara ia memperlakukannya bukan sebagai seseorang yang lemah. Tapi sebagai seseorang yang dipahami. Kiara memejamkan mata sejenak,dadanya terasa hangat. Hangat yang aneh, yang sudah lama tidak ia rasakan, Namun justru itu yang membuatnya takut. Ia membuka mata perlahan. “Ansel sudah ada yang punya,” ucapnya pelan. Kalimat itu seperti pengingat,seperti batas yang harus ia jaga. Ia bukan siapa-siapa dan Ansel juga bukan miliknya. Kiara menghela napas lagi, kali ini lebih panjang. “Ini cuma… karena dia baik,” lanjutnya, mencoba meyakinkan diri sendiri. “Karena dia dokter. Karena dia peduli sebagai manusia.” Bukan lebih dari itu dan tidak boleh lebih dari itu. Kiara akhirnya membuka pintu mobil dan turun. Udara malam menyambutnya dengan dingin yang pelan, Ia berjalan masuk ke dalam rumah dengan langkah tenang. Lampu ruang tamu masih menyala, tanda bahwa orang tuanya belum tidur. Namun Kiara tidak langsung ke sana, ia justru berhenti sejenak di depan cermin besar di dekat tangga. Menatap dirinya sendiri, wajahnya terlihat lelah tapi tidak hancur. Tidak seperti yang ia bayangkan jika suatu hari ia benar-benar mengetahui pengkhianatan Rafa. Kiara menyentuh dadanya pelan, Jantungnya berdetak teratur, normal eperti yang selalu ia perjuangkan selama ini. Namun untuk pertama kalinya yang terasa sakit bukan jantungnya, melainkan sesuatu yang lain. Perasaan. Kiara tersenyum kecil pada bayangannya sendiri. “Aku baik-baik saja.” kalimat itu ia ulang lagi. Seperti biasa,seperti yang selalu ia lakukan. Namun kali ini entah kenapa ia sendiri tidak sepenuhnya yakin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN