Beberapa hari setelah malam itu, Kiara benar-benar memilih berhenti sejenak dari rutinitasnya.
Butik yang biasanya selalu ia datangi sejak pagi, kini hanya ia pantau dari rumah. Ia menghubungi Laras dan Sita, memberi tahu bahwa kondisinya sedang tidak terlalu baik.
“Aku istirahat dulu beberapa hari ya,” ucapnya pelan waktu itu.
“Kalian handle dulu, kalau ada yang penting kabari aku.”.
Laras sempat khawatir. “Mbak beneran nggak apa-apa?”
Kiara tersenyum kecil, meski mereka tidak bisa melihatnya.
“Iya, cuma capek.” Alasan yang sederhana tapi tidak sepenuhnya jujur.
Karena yang lelah bukan hanya tubuhnya, tapi juga hatinya.
Hari-hari itu terasa lebih sunyi dari biasanya.
Kiara lebih sering menghabiskan waktu di kamar. Kadang hanya duduk di tepi ranjang, kadang berbaring sambil menatap langit-langit tanpa benar-benar memikirkan apa pun.
Namun anehnya justru saat ia diam seperti itu, pikirannya semakin ramai. Potongan-potongan kejadian malam itu kembali berputar.
Suara Viora, kalimat yang begitu mudah diucapkan dan wajah Rafa.
Kiara menghela napas pelan, dadanya terasa sesak, bukan karena jantungnya bermasalah tapi karena luka yang belum benar-benar sembuh.
Ponselnya bergetar lagi di sampingnya.
Nama Rafa muncul di layar, untuk kesekian kalinya.
Kiara hanya menatapnya.
Tidak ada niat untuk mengangkat, tidak juga marah. Hanya… kosong.
Beberapa detik kemudian panggilan itu berhenti, namun tidak lama, pesan masuk.
“Kiara, kita harus ngomong. Aku bisa jelasin semuanya. Please angkat telepon aku.”
Kiara membaca semua pesan itu, satu per satu.
Tanpa ekspresi.
Tanpa reaksi.
Lalu perlahan ia meletakkan kembali ponselnya.
Tidak dibalas.
Tidak juga dihapus.
Seolah pesan-pesan itu sudah tidak lagi memiliki arti. Karena bagi Kiara penjelasan apa pun tidak akan mengubah apa yang sudah ia dengar dengan telinganya sendiri.
Ia memejamkan mata, menghela napas panjang.
“Aku sudah cukup, Raf…”
Kalimat itu hanya terucap dalam hati, tidak pernah benar-benar ia kirimkan. Di sisi lain, tubuhnya juga mulai menunjukkan kelelahan.
Kiara sering merasa lemas tanpa alasan yang jelas. Kadang hanya berjalan beberapa langkah saja sudah terasa berat.
Beberapa kali ia juga merasa sedikit pusing, namun ia tahu ini bukan semata karena kondisi jantungnya.
Ini karena pikirannya, karena emosinya, arena sesuatu yang selama ini ia tahan akhirnya pecah meski tanpa tangisan.
Kiara bangkit dari tempat tidur, berjalan perlahan menuju jendela ,ia membuka tirai sedikit.
Cahaya matahari masuk ke dalam kamar.
Hangat. Namun tidak cukup untuk mengusir rasa dingin di dalam dirinya.
Ia menyentuh dadanya pelan,detaknya masih teratur. Masih bertahan seperti dirinya.
Namun kali ini Kiara sadar satu hal, yang ia tutup rapat bukan hanya pintu untuk Rafa.
Tapi juga… bagian dari dirinya sendiri.
Bagian yang dulu begitu mudah percaya, bagian yang dulu begitu tulus mencintai.
Kini semuanya seperti terkunci dan Kiara tidak tahu butuh siapa, atau apa untuk membukanya kembali.
Suasana rumah sore itu terasa hangat dan tenang.
Kiara duduk santai di ruang keluarga bersama Kiandra. Di meja kecil di depan mereka, semangkuk besar buah potong sudah setengah habis. Potongan semangka, melon, dan pepaya tersusun rapi, sebagian sudah berpindah ke dalam perut mereka.
Televisi menyala menampilkan acara favorit Kiandra.
Suara tawa sesekali terdengar.
“Kak, itu lihat! Lucu banget!” Kiandra tertawa sambil menunjuk layar.
Kiara ikut tersenyum, meski tidak benar-benar fokus. “Hmm… iya.”
Beberapa hari terakhir ini memang seperti itu.
Kiara berusaha terlihat biasa saja berusaha kembali ke rutinitas kecilnya.
Duduk santai, makan buah, menonton acara bersama adiknya.
Hal-hal sederhana yang dulu terasa biasa, kini justru menjadi penenang. Setidaknya… untuk sementara.
Tak lama kemudian, suara pintu depan terbuka.
Kiara yang masih duduk di ruang keluarga bersama Kiandra menoleh sekilas, mengira hanya Adrian. Namun langkah kaki yang terdengar bukan hanya satu.
Dua.
Kiandra yang paling dulu menyadari langsung berdiri dari duduknya.
“Yah?”
Adrian masuk dengan wajah tenang seperti biasa, tapi kali ini tidak sendiri.
Di belakangnya Ansel.
Kiara refleks menegakkan duduknya.
Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
Bukan karena kaget semata, tapi karena… ia tidak menyangka akan bertemu lagi secepat ini, apalagi di rumahnya sendiri.
“Selamat sore,” ucap Ansel sopan.
“Sore,” jawab Kiandra cepat, lalu menoleh ke arah Kiara dengan mata berbinar.
“Kak… Dokter Ansel!”
Kiara langsung berdiri, sedikit gugup.
“Dokter…” ucapnya pelan.
Ansel mengangguk tipis.
“Sore, Kiara.”
Adrian menutup pintu lalu berjalan masuk.
“Tadi ketemu Ansel di depan,” jelasnya santai.
“Saya sekalian ajak masuk.”
Kiandra sudah mendekat tanpa ragu.
“Dokter, aku masih inget loh! Aku mau jadi dokter jantung juga!”.
Ansel tersenyum kecil.
“Bagus. Harus rajin belajar ya.”
“Iya!”
Kiandra kembali duduk sambil melanjutkan makan buah, seolah kehadiran tamu itu tidak mengubah apa pun.
Namun tidak dengan Kiara, Ia masih berdiri beberapa detik, lalu akhirnya duduk kembali, meski posisinya sedikit kaku.
Adrian duduk di sofa utama.
“Duduk, Sel.”
“Terima kasih, Dok.”
Ansel duduk dengan rapi.
Kiara bisa merasakan kehadiran lelaki itu di ruangan yang sama membuat suasana terasa berbeda.
Tidak lagi sekadar santai seperti beberapa menit lalu.
“Ada yang mau diminum?” tanya Kiara akhirnya, mencoba bersikap normal.
“Air putih saja.”
Kiara mengangguk lalu bangkit menuju dapur.
Ia menuangkan air ke dalam gelas dengan gerakan pelan berusaha menenangkan diri.
Kenapa dia di sini…?
Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya.
Namun ia tidak ingin terlalu memikirkannya.
Kiara kembali ke ruang keluarga, menyerahkan gelas itu pada Ansel.
“Terima kasih.”
“Ya.”
Jari mereka hampir bersentuhan.
Kiara cepat menarik tangannya,duduk kembali di tempatnya.
Adrian mulai membuka percakapan.
“Jadi, Sel. Tadi kamu bilang ada yang mau dibicarakan?”
Ansel mengangguk.
“Iya, Dok. Terkait beberapa kasus pasien jantung yang sedang saya tangani.”
Nada suaranya berubah profesional, tenang dan terukur. Mereka mulai berdiskusi.
Istilah medis sesekali terdengar, Kiara sebenarnya tidak benar-benar mengikuti pembicaraan itu.
Fokusnya terpecah, sesekali ia menatap televisi.
Sesekali… tanpa sadar, ia menatap Ansel.
Dan hampir setiap kali Ansel juga menatapnya.
Singkat.
Namun cukup.
Seolah ada sesuatu yang belum selesai di antara mereka sejak malam itu.
Kiara menelan pelan, ia mengalihkan pandangan lagi.
Tidak ingin terbaca.
Tidak ingin terlalu jelas.
Namun perasaannya tidak bisa sepenuhnya ia kendalikan.
“Dokter Ansel jangan dulu pulang ya? Kita makan malam bersama,” ucap Alifa yang tiba-tiba muncul dari dapur sambil mengeringkan tangannya dengan lap kecil.
Suasana langsung berubah.
Kiandra yang tadi sibuk dengan ponselnya langsung berdiri.
“Asik! Makan bareng!”
Alifa tersenyum.
“Kiandra bantu Bunda ya.”
“Iya!”
“Yah, mandi dulu,” lanjut Alifa.
Adrian mengangguk.
“Iya.”
Lalu pandangan Alifa beralih pada Kiara.
“Kiara, temani Ansel dulu ya.”
Kalimat itu sederhana, tapi bagi Kiara tidak.
Ia ingin menolak.
Ingin bilang lelah.
Ingin menghindar.
Namun semua kata itu hanya berhenti di tenggorokan.
Yang keluar justru—
“Iya, Bun.”
Pelan.
Pasrah.
Beberapa detik kemudian, ruang keluarga itu menjadi lebih sepi.
Kiandra dan Alifa di dapur.
Adrian ke kamar.
Tersisa Kiara dan Ansel.
Hanya berdua.
Jarak mereka tidak terlalu dekat,namun cukup untuk membuat Kiara sadar akan setiap detail keberadaan lelaki itu.
Hening.
Beberapa detik yang terasa lebih lama dari seharusnya.
Hingga akhirnya Ansel membuka suara.
“Bagaimana keadaan kamu?”
Nada suaranya lembut, tidak seperti saat berbicara dengan Adrian tadi.
Kiara menatap lurus ke depan.
“Baik.”
Singkat, namun jelas itu bukan jawaban yang sepenuhnya jujur.
Ansel memperhatikannya.
“Tapi kamu kelihatan nggak baik.”
Kiara terdiam.
“Bahkan beberapa hari nggak ke butik.”
Kalimat itu membuat Kiara menoleh, alisnya sedikit berkerut.
“Kamu tahu dari mana?”
Ansel tidak langsung menjawab,sorot matanya tetap tenang.
“Aku sempat ke butik loh…”
Kiara semakin bingung.
“…tapi kamu nggak ada di sana.”
Deg.
Ada sesuatu yang terasa aneh di d**a Kiara.
“Ngapain?” tanya Kiara, suaranya lebih pelan.
Seolah takut dengan jawabannya sendiri.
Ansel menatapnya lebih dalam dari sebelumnya.
“Mau ketemu aja.”
Kalimat itu sederhana,sangat sederhana tapi efeknya tidak.
Deg.
Jantung Kiara kembali berdebar lebih kencang, lebih jelas.
Untuk beberapa detik, Kiara tidak bisa berkata apa-apa hanya menatap Ansel mencoba mencari maksud dari kalimat itu.
“Mau ketemu…?” ulangnya pelan.
Seolah butuh kepastian.
Ansel tidak mengalihkan pandangan.
“Iya.” jawabannya singkat tapi cukup untuk membuat suasana semakin terasa berbeda.
Kiara menelan pelan, ia memalingkan wajahnya.
Berusaha mengatur napas.
“Untuk apa?” tanyanya lagi, kali ini lebih hati-hati.
Ansel terdiam sejenak seolah memilih kata, namun akhirnya “Karena aku kepikiran kamu.”
Deg.
Sekali lagi dan kali ini lebih dalam.
Kiara langsung menunduk tangannya saling menggenggam di atas pangkuan.
Ia tidak tahu harus merespons apa semua terasa terlalu cepat. Terlalu tiba-tiba.
“Kiara…”
Suara Ansel kembali terdengar lembut,hampir seperti bisikan.
Kiara perlahan mengangkat wajahnya.
Menatap lelaki itu.
“Waktu di parkiran itu… kamu bilang kamu baik-baik saja.”
Kiara terdiam.
“Tapi aku tahu kamu nggak baik-baik saja. Dan aku nggak bisa pura-pura nggak lihat.”
Kalimat itu terlalu jujur, Kiara menghela napas pelan.
“Aku memang nggak baik-baik saja,” akhirnya ia mengaku.
Suaranya lirih. “Tapi aku juga nggak apa-apa.”
Ansel masih menatapnya.
“Rafa?” tanyanya hati-hati..
Kiara tersenyum samar,senyum yang tidak benar-benar bahagia.
“Udah selesai.”
Jawabannya singkat tapi cukup menjelaskan semuanya..
Ansel mengangguk pelan tidak bertanya lebih jauh, namun sorot matanya berubah.
Lebih dalam lebih… personal.
“Kamu layak dapat yang lebih baik, yang tulus mencintaimu.”