Hadiah Pernikahan Suamiku
Cermin besar di kamar hotel memantulkan sosok Senja yang kini mengenakan gaun merah maroon. Riasan wajah sedikit mencolok, namun tetap elegan. Rambutnya disanggul rapi, dengan beberapa helai di bagian depan menjuntai, membuat penampilannya malam ini terlihat sangat cantik.
“Bu Senja,” panggil wedding organizer yang mengintip dari balik pintu. “Tamu sudah mulai berdatangan.”
Senja mengangguk. Tangannya kembali merapikan gaun sebelum melangkah keluar. Ballroom hotel bintang lima yang akan digunakan resepsi pernikahan suami dan madunya dia sewa dengan uangnya sendiri. Sebuah resepsi pernikahan termewah untuk seorang istri kedua.
Ting…
Baru saja Senja melangkah keluar dari lift, kedua matanya langsung menangkap sosok Ibu mertuanya yang telah menunggu. Senyum wanita paruh baya itu merekah menyambut kedatangan sang menantu.
“Senja, Sayang,” ujarnya, merentangkan kedua tangan untuk memeluknya. “Mama tidak menyangka kamu bisa mengurus semuanya dengan sangat baik.” Dih, tipe-tipe mertua seribu wajah. Harus ditampol sih, tapi Senja jelas menahan demi rencananya malam ini.
“Demi kebahagiaan Mas Raffa, aku akan memberikan yang terbaik,” jawabnya dengan senyum yang sudah dilatih berkali-kali di depan cermin. Jelas Senja muak jika harus berpura-pura seperti ini. Namun apa daya, dia harus segera mengakhiri penderitaannya dengan cara elegan. “Demi Mama juga tentunya.”
“Istri yang baik.” Bu Siska menepuk pipi Senja dengan penuh kasih sayang. Biasanya tidak seperti itu sikapnya. Hanya sesekali saat keinginannya yang tak masuk aka itu dipenuhi sang menantu. “Mama tidak salah pilih menantu. Kamu memang sangat pengertian. Tidak semua istri sebijak kamu, Senja. Tahu apa yang terbaik untuk keluarga.”
“Keluarga memang yang utama,” jawab Senja. Singkat, padat, dan mualll.
“Mama selalu bilang sama Raffa, kalau kamu itu istri yang baik… hanya saja memiliki kekurangan. Tapi gapapa, yang penting kamu tetap jadi istri pertama.”
‘Aku rasa wanita tua ini tidak akan pernah bertaubat,’ gumam Senja dalam hati, terus menyunggingkan senyum.
Senja mengepalkan kedua tangannya di balik lipatan gaun. Mendengar kekurangannya dijadikan alasan bagi sang suami untuk menikah lagi. Serang saja sepuasmu… karena setelah ini mereka tidak akan bisa bisa merendahkan Senja lagi.
“Oh, ya, Sayang. Pasti tabunganmu terkuras habis untuk membuat pesta semegah dan semewah ini. Apa tidak berpengaruh pada usahamu yang masih merintis itu?”
“Tidak masalah, Ma. Bisnis gelatoku memang masih kecil. Hanya memiliki lima cabang. Kalau soal tabungan, masih aman.”
“Syukurlah. Mama sempat khawatir usahamu bangkrut setelah menggelar pesta ini. Soalnya, bisnis yang masih kecil kan belum stabil. Beda sama bisnis properti keluarga kami yang sudah mapan. Anyway, kamu tetap semangat menjalani hobimu ya, Sayang. Nanti kalau Naya sudah hamil, kamu bisa bantu-bantu jagain, kan? Pengalaman jadi ‘ibu’ bisa kamu dapat dari situ.”
Sombong sekali ya. Gak tahu saja bisnis kedai gelato senja omsetnya ratusan juta setiap bulannya. Hanya saja dia sengaja tidak mau pamer—takut dirampok sama mertua tak tau diri.
Kalimat itu terdengar begitu halus, masuk lewat telinga kanan langsung bablas lewat telinga kiri. Senja sudah sangat kebal menghadapi keluarga suaminya. Karena tiga tahun pernikahan tanpa anak, kesalahan terus dibebankan pada Senja, padahal Raffa yang selalu menolak setiap kali diajak memeriksakan diri ke dokter.
“Ah, itu Raffa!” seru Bu Siska, lalu melambai ke arah putranya yang baru keluar dari ballroom. “Sini, Nak.”
Raffa berjalan mendekat, tampil rapi dalam jas putih dengan bunga kecil di saku dadanya. Pria berusia tiga puluh lima tahun itu tampak bingung saat kedua matanya bertemu dengan mata sang istri. Pasalnya, Senja sama sekali tak terlihat sedih. Yang ada di otak Raffa… istri pertamanya itu akan mengurung diri di kamar saat dia resmi menikah lagi.
“Sayang,” sapanya sambil mengecup kening Senja. “Kenapa kamu membuat pesta sebesar ini? Bukankah aku sudah bilang buat sederhana saja?”
“Mas, kamu harus membuat Naya bahagia di hari pernikahanya. Dan aku ingin memberikan hadiah yang tak terlupakan untuk kalian berdua malam ini,” ujar Senja.
“Tapi—”
Senja menarik tangannya saat Raffa mencoba meraihnya. “Nggak usah protes, Mas. Nikmati saja pestanya. Ingat, bakal banyak kejutan yang menantimu.”
Sebelum Raffa bisa menjawab, salah satu staf WO memanggil Senja karena tamu penting baru saja tiba.
“Mas buruan susul Naya deh. Aku mau masuk dulu buat menyapa para tamu yang udah datang,” kata Senja. Baru beberapa detik bersama suaminya sudah terasa gerah… membuatnya ingin minum es teh cekek.
“Aku akan menemanimu,” balas Raffa. “Biar Mama yang menjemput Naya.”
“Eh, jangan dong! Masak pengantinnya berkeliaran,” Ujar Senja lagi. Ogah banget lah dia gandengan sama pria yang baru saja menikah itu. Ya, meskipun statusnya masih suami SAH-nya. “Apa kata para tamu undangan nanti?”
“Benar kata Senja, Nak,” sahut Bu Siska. “Kamu harus menjemput Naya. Biar Mama yang menemani Senja. Lagipula, di dalam Papamu sudah menyambut keluarga dan para kolega.”
Senja tersenyum manis sebelum meninggalkan sang suami, lalu melangkah menuju pintu samping ballroom, beiringan dengan sang mertua. Rencananya sudah dimulai. Tak sabar ingin memberikan hadiah pernikahan untuk sang suami.
***
“Hebat ya, istrinya sendiri yang mengurus pernikahan suami dengan istri muda.”
“Pasti terpaksa. Kasihan sekali.”
“Atau mungkin memang sudah ikhlas, sudah tahu dia gak bisa kasih keturunan.”
Senja mendengar semuanya. Setiap bisikan, setiap tatapan penuh simpati hingga setiap senyum meremehkan. Tapi dia tetap tersenyum, menyambut satu persatu tamu dengan ramah.
Tak lama kemudian, mempelai pengantin memasuki ballroom resepsi. Tepuk tangan pun menggema, memenuhi ruangan yang berkilau oleh cahaya lampu kristal.
Naya tampak begitu bahagia. Senyumnya merekah saat berjalan di samping pria yang sejak kecil diam-diam dia kagumi, sepupunya sendiri. Sementara itu, Raffa justru memasang wajah datar. Sama sekali tidak antusias dengan pernikahan keduanya.
Acara demi acara pun berlangsung dengan lancar. Potong kue menjadi simbol awal kehidupan baru Raffa dan Naya, disusul dansa pertama yang disambut sorak para tamu. Hingga akhirnya tibalah sesi pelemparan buket.
Buket bunga itu melayang di udara, lalu jatuh tepat ke tangan Senja.
“Kayaknya setelah ini giliranku,” ujar Senja sambil tersenyum manis. Saking manisnya sampai banyak tamu undangan yang single berniat merebutnya dari Raffa.
Para tamu tertawa, mengira Senja sedang bergurau, beda dengan Raffa yang menatapnya kesal. Tapi, apalah daya, Raffa tak bisa kabur dari pelukan istri mudanya.
Lalu Senja naik ke atas panggung live music. Dia ingin mempersembahkan sebuah lagu sebagai hadiah untuk suami dan madunya. Musik mulai mengalun, lirik demi lirik terdengar manis, namun menyimpan perasaan yang tak semua orang mampu menangkap maknanya.
Usai bernyanyi, Senja turun dari panggung. Dia menghampiri adiknya, Langit, yang sudah menunggunya dibawah. Dari tangan Langit, Senja mengambil sebuah kotak hadiah, lalu melangkah mendekati Raffa.
“Kado untukmu, Mas,” katanya sambil menyerahkan kotak itu.
“Buat apa kamu kasih kado, Sayang?” Raffa mencoba memeluk Senja, namun wanita itu menolak dengan halus.
“Buka setelah lampu diredupkan, ya. Ini kejutan dariku yang terakhir,” bisik Senja sebelum berbalik dan pergi meninggalkan sang suami.
Tiba-tiba lampu ballroom meredup. Raffa menoleh ke segala arah, namun Senja sudah tak terlihat. Satu sorot lampu kemudian menyala, tepat mengarah ke Raffa dan Naya yang berdiri di tengah ruangan.
Karena penasaran, Naya mengambil kotak dari tangan Raffa dan membukanya.
“Surat cerai?!” gumamnya terkejud.
Tangan Raffa dengan cepat merebut kertas itu. Dia membacanya sekilas, wajahnya menegang. Tanpa peduli pada teriakan Naya dan tatapan para tamu, Raffa berlari menembus kerumunan.
“Senja!” teriaknya. Lampu yang masih redup membuatnya kesulitan mencari sosok istrinya. “Aku tidak mau bercerai!”