Tiba-tiba di Lamar

1246 Kata
Angin sejuk pegunungan menerpa wajah Senja saat dia duduk di teras Villa. Dua minggu lalu, dia telah membooking tempat yang jauh dari hiruk pikuk kota. Tak ada yang tahu dia ada di sini… tak ada keluarga, tak ada teman, hanya dirinya dan ketenangan yang selama ini dia rindukan. Senja memejamkan mata, menikmati hembusan angin yang terasa begitu segar. Tiga hari telah berlalu sejak dia membebaskan dirinya dari pernikahan yang menguras habis kebahagiaan dan harga dirinya. Senyum menghiasi wajahnya yang kini mulai merona alami. Tak ada lagi air mata yang mengalir tanpa diminta. Yang tersisa hanyalah perasaan lega, setelah tiga tahun hidup dalam kehampaan. Drettt… drettt… Ponselnya kembali bergetar, untuk yang keseratus kalinya, mungkin. Senja melirik layar—nomor baru. Pasti ulah Raffa. Dia sudah memblokir nomor baru itu berkali-kali. Sementara Raffa terus menghubunginya dengan nomor yang berbeda. Bahkan mengirim email yang tak satu pun Senja buka. Ada pula puluhan panggilan dari mantan ibu mertuanya, beberapa dari mantan ayah mertuanya, juga dari mantan adik iparnya. Semuanya ingin bicara, ingin penjelasan seolah Senja-lah yang berhutang penjelasan pada mereka. Memang keluarga sinting! “Mereka pasti sedang rapat di ruang keluarga,” gumam Senja sambil terkekeh pelan. Lalu mendongakkan wajahnya dan kembali menutup mata. “Memikirkan cara agar aku mau kembali. Untuk memberi penjelasan pada para tamu undangan dan meminta maaf, demi menyelamatkan nama baik keluarga mereka.” Senja teringat kata-kata mantan ibu mertuanya saat dia mengancam ingin bercerai ketika suaminya izin mau menikah lagi. ‘Kamu akan menyesal, Senja! Kamu pikir di luar sana ada yang mau sama kamu?! Wanita yang tidak bisa punya anak. Kamu akan kesepian selamanya!’ Si paling sempurna itu kalau bicara tak pernah pakai hati. Semua yang ada di otak kotornya langsung dikeluarkan tanpa peduli dengan perasaan lawan bicaranya. Kata-kata itu terus bergema. Mungkin memang benar dia akan kesepian setelah memutuskan bercerai. Tapi, Senja merasa kesepian ditengah kesendirian jauh lebih baik daripada kesepian di tengah keramaian. Senja menarik nafas panjang. Keputusannya sudah tepat, dan kini waktunya dia menata kembali kehidupannya. Dulu, dia adalah wanita yang ceria dan selalu tersenyum. Sayangnya nasibnya kurang beruntung karena menikah dengan pria yang hobby bersembunyi di ketek ibunya. Terdengar langkah kaki mendekat. Seorang pria tinggi menaiki tangga teras. Dia tak terlihat seperti karyawan villa, karena semua barang yang melekat di tubuhnya tampak mahal. “Kok bisa ada orang asing masuk sini, sih? Aku kan menyewa private villa,” gumam Senja dalam hati. Gak mungkin kan ada penyusup disana? Pria itu tersenyum, lalu menyapa, “Hai.” “Maaf, dengan siapa ya?” tanya Senja dengan kening mengenyit. “Sepertinya kamu salah kamar.” “Aku memang sengaja menghampirimu,” jawabnya, lalu mengulurkan sekaleng minuman dingin padanya. “Sepertinya kamu butuh ini.” Senja menerima kaleng itu dengan ragu. “Terima kasih.” “Boleh duduk?” tanya pria itu sambil menunjuk kursi di sebelah Senja. “Kai,” ucapnya memperkenalkan diri. “Sebenarnya aku—” “Aku pemilik hotel tempat kamu menggelar acara pernikahan tiga hari yang lalu,” sahut Kai. “The Grand Celestial Hotel.” Wajah Senja langsung memerah. Tentu saja. Acara yang dia buat pasti sudah menjadi topik perbincangan seluruh staf hotel. Kebaikan seorang istri yang membiayai pernikahan suami dengan wanita lain, lalu memberi hadiah pernikahan berupa surat cerai di hadapan ribuan tamu. “Jadi kamu datang ke sini untuk… apa? Mengejekku?” Kai menggeleng, lalu duduk karena Senja tak ada niat untuk mempersilahkannya. “Sebaliknya. Aku datang untuk mengucapkan selamat.” “Selamat?” Senja tertawa pahit. “Untuk apa?” “Karena kamu sudah menjadi janda,” jawabnya, tanpa ragu maupun sungkan sedikit pun. Padahal kedua mata wanita di sebelahnya sudah melotot. “Tidak banyak wanita punya keberanian sepertimu. Kebanyakan mereka akan terus bertahan dalam hubungan yang toxic, berharap keajaiban datang. Tapi kamu memilih menghormat dirimu sendiri.” Lah, sembarangan sekali Kai bicaranya! Kenal aja belum sudah kasih selamat buat status baru Senja. Senja awalnya mau marah tapi kalimat selanjutnya yang diucapkan Kai membuat hatinya menghangat. Dia memang membutuhkannya, bukan tak ada yang mengatakan hal itu, melainkan karena dia belum mau berbagi dengan orang-orang terdekatnya. Beberapa menit berlalu dalam keheningan. “Kenapa kamu ada di sini?” tanya Senja akhirnya. “Villa ini juga milikku,” jawab Kai. “Aku sering datang kesini saat butuh ketenangan. Sama sepertimu, sepertinya.” Senja tersenyum tipis dan menganggukkan kepala. Mereka duduk dalam diam, menikmati pemandangan matahari terbenam yang melukis langit dengan warna Jingga. Tiba-tiba, Kai berbalik menatap Senja. “Kamu mau menikah denganku?” tanyanya dengan santai. Sesantai itu kah orang kaya kalau melamar wanita? Atau mungkin hanya Kai, pria yang sedang dikejar deadline menikah? Anggap saja begitu biar dia bahagia. Senja hampir tersedak minumannya. “Apa?” “Aku serius,” kata Kai. “Menikahlah denganku, Senja.” “Kamu gila?” Pasti gila sih! Senja menatap tidak percaya. “Kita baru pertama bertemu. Kamu bahkan tidak mengenalku.” “Aku waras dan setiap bulan rutin melakukan medical check up,” balas Kai. “Makanya ayo kita menikah… biar kita bisa saling mengenal.” Senja menggeleng, masih shock. “Kamu kenapa sih?!” bulu kuduknya berdiri, takut diterkam pria yang kini menatapnya dengan mata berbinar. “Aku jatuh cinta sama kamu,” Kai tersenyum. “Gak masuk akal!” seru Senja, berusaha menggeser duduknya tapi tak bisa, karena sudah mentok dipinggir. “Asal kamu tahu Senja… kadang hal-hal terbaik dalam hidup datang dari keputusan yang tidak masuk akal. Aku tidak memintamu menjawab sekarang. Pikirkan saja dulu. Kamu masih tinggal di Bali kan?” Lihatlah, senyum Kai semakin lebar. Bahkan deretan giginya bisa dilihat Senja dengan jelas. Secinta itukah dia dengan janda baru itu? Senja tidak bisa menjawab. Otaknya masih mencoba memproses apa yang baru saja terjadi. Kai berdiri, meninggalkan kaleng minumannya di atas meja. “Nikmati hari tenang di sini, Senja. Kita bisa bisa bicara lagi besok, kalau kamu mau.” Pria itu melangkah pergi, meninggalkan Senja sendirian dengan pikiran yang kembali kacau. Namun anehnya, untuk pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir, Senja merasakan sesuatu selain kesedihan dan kemarahan. “Apa dia gila?” gumam Senja pada dirinya sendiri. Dia menghela nafas, lalu meraih ponselnya. Jemarinya bergerak cepat mengetik nama pemilik The Grand Celestial Hotel di kolom pencarian. Tak butuh waktu lama, layar menampilkan secuil informasi yang membuat Senja terdiam. Kai Ethan Zavier. CEO Zavier Hospitality Group. Pemilik jaringan hotel mewah di dalam dan luar negeri. Lulusan luar negeri. Usianya 33 tahun. Belum menikah. Senja menelan ludah. Pria itu bukan orang sembarangan—jauh dari kata iseng apalagi gila. Justru terlalu logis untuk melontarkan tawaran menikah secara sembarangan. “Apa dia sedang dikejar deadline menikah demi menjadi pewaris tunggal? Lalu mencari wanita yang terlihat menyedihkan untuk diajak nikah kontrak?” Senja bergidik ngeri membayangkan harus kembali menjalani pernikahan palsu. Dia baru saja terbebas dari hubungan toxic—tak mungkin dia mau terjerumus lagi ke dalam kesalahan yang sama. “Amit… amit, jangan sampai aku menderita lagi!” serunya lirih sambil memeluk tubuhnya sendiri. Takut Kai tiba-tiba datang lagi, Senja bergegas masuk ke kamar, mengunci pintu, lalu menutup tirai agar tak terlihat dari luar. Dia menghempaskan tubuh ke atas ranjang, menatap langit-langit dengan menghela nafas panjang. “Lawak sekali hidupku. Setelah menguras tabungan demi membuat resepsi mewah pernikahan mantan suami dan istri barunya, sekarang malah dilamar pria asing,” gumamnya getir. Senja menepuk-nepuk kedua pipinya, lalu mencubitnya. “Aww… sakit!” Dia menelungkup, membenamkan wajah ke dalam bantal. Tak lama kemudian, teriakannya menggema dalam kamar, “Gila! Dunia ini memang sudah gila!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN