Rasa Baru

1225 Kata
Aroma vanilla dan coklat Belgia memenuhi dapur produksi kedai Etalase Cinta milik Senja. Tangannya terampil mengaduk adonan gelato, memastikan teksturnya pas—lembut, creamy, dan meleleh di lidah. Hanya kedai Etalase Cinta satu-satunya hal yang tetap menjadi miliknya sendiri ketika pernikahannya dengan Raffa berakhir tragis. Karena Senja memilih pergi dengan tangan kosong, meninggalkan semua barang pemberian Raffa. Bahkan rumah atas namanya sendiri pun—hadiah ulang tahun pernikahan yang pertama—dia kembalikan kepada mantan suaminya. “Senja, ada yang ingin ketemu,” ucap Ariana, asisten sekaligus sahabatnya, dari ambang pintu. Senja tak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang. Sebulan terakhir, tamu itu hampir setiap hari datang meski sudah berulang kali ditolak. Dan Ariana selalu mengomel karena sahabatnya menyia-nyiakan rezeki. “Bilang aja aku sedang sibuk, Na,” jawabnya singkat, tetap fokus pada adonan pistachio di depannya. “Sudah, tapi dia bilang akan menunggu seperti biasa,” balas Ariana sambil terkikik geli. “Kenapa sih gak mau nemuin Mas tamvan dan kaya raya itu?” Senja memutar bola matanya. “Karena aku baru saja bercerai sebulan yang lalu. Apa kata orang kalau aku dekat dengan pria lain? Mereka pasti mikir aku ini wanita gak bener.” “Gak ada yang bakal mikir kayak gitu, Sei. Kamu aja yang terlalu overthinking,” jawab Ariana. “Wajar kok janda premium banyak yang mengincar.” Ya memang begitulah dia, hobi barunya sebulan terakhir adalah menyeleksi pria yang mencoba mendekati Senja. “Lagian ya, Na,” lanjut Senja. “Aku belum sepenuhnya sembuh dari luka yang kemarin.” “Mungkin saja Mas tamvan itu obatnya,” goda Ariana sebelum berlari keluar menghindari sendok kayu yang Senja lempar ke arahnya. “Cepat keluar, Sei! Mubazir rezeki ditolak!” teriaknya. Toko gelato Senja berkembang pesat dalam lima tahun terakhir. Kedai Etalase Cinta berdiri sebelum dia menikah. Modalnya dari tabungan yang ditinggalkan oleh kedua orang tuanya sebelum mengalami kecelakaan. Para pelanggan datang bukan karena penasaran dengan kisah rumah tangganya, melainkan karena gelato-nya memang luar biasa enak. Lokasinya pun strategis, berada di kawasan Seminyak, Bali. Interiornya sengaja dibuat instagramable, didominasi warna baby pink dan mint green. Bunga-bunga krisan menghiasi setiap sudut, termasuk area depan kedai. “Mau apa lagi sih?” gumam Senja pada dirinya sendiri. Lalu melepaskan celemeknya. Dia melangkah keluar dari dapur produksi menuju area toko. Seperti biasa, Kai duduk di meja favoritnya. Menghadap ke arah pantai yang masih tampak meski dari kejauhan. “Kamu tahu, terus datang seperti ini bisa dikategorikan sebagai penguntit,” ucap Senja, berdiri di samping mejanya dengan tangan dilipat di d**a. Kai tersenyum, menunjuk kursi di depannya. “Aku pelanggan yang datang untuk membeli gelato. Jadi, tidak melanggar hukum.” “Kamu bahkan selalu memesan rasa yang sama. Stracciatella setiap kali datang.” Senja tetap berdiri, enggan duduk. “Karena rasanya sangat enak,” jawab Kai, menatapnya dengan senyum tipis. Setipis urat malunya yang menurut Senja akan segera putus. “Kai—” “Duduklah sebentar, Senja,” pinta Kai. “Temani aku sampai gelatoku habis. Setelah itu, aku akan kembali ke kantor.” Dengan helaan nafas pasrah, Senja akhirnya duduk. Ariana yang sedang melayani pelanggan di counter mengedipkan mata nakal ke arahnya. Senja mendelik sebagai balasan. “Aku baru tahu hampir semua cabang gelato-mu berada tak jauh dari hotelku,” Kai membuka percakapan. “Pendekatan yang cukup unik.” Lah, bukannya dia yang berusaha mendekati Senja? “Bagaimana kamu bisa tahu?” Senja mengernyit. “Bali tidak sebesar itu. Kabar menyebar dengan cepat, terutama untuk bisnis yang sedang naik daun seperti milikmu,” ujar Kai sambil menyendok gelatonya. “Aku senang karena kita selalu berdampingan dan saling mendukung.” “Hah?” Senja semakin bingung dengan ucapan pria di depannya. Kai tak berniat menjelaskan lebih jauh. Dia kembali menikmati gelato-nya yang masih separuh. Sementara itu, Senja merasa jika Kai menghargai hobinya yang kini menjelma menjadi bisnis. Tak seperti Raffa, yang selalu menganggap hobi iseng dan tak sepenting pekerjaannya sebagai CEO perusahaan kontraktor. “Kamu butuh investor?” tanya Kai setelah diam beberapa saat. “Tidak,” jawab Senja cepat. “Aku menjalankan kedai gelato ini sesuai kemampuan.” “Aku tahu maksudmu baik,” Kai tersenyum. “Tapi bukan berarti kamu harus melakukan semuanya sendiri. Aku punya koneksi di industri F&B Supplier, distributor, bahkan chef gelato dari Italia yang bisa kamu ajak diskusi.” Senja menatap Kai dengan curiga. “Dan kamu menawarkan ini karena?” “Karena aku ingin kamu semakin berkembang,” jawab Kai. “Tenang, aku tidak akan memintamu membayar. Bahkan jika kamu tidak menerima lamaranku, aku tetap ingin melihatmu bahagia dan sukses.” Karena Kai tidak akan mau menerima penolakan. Makanya bicara gitu. Selain adiknya dan sahabatnya—tak ada orang yang benar-benar peduli dengan kebahagiaan Senja. “Kai,” ujar Senja. “Terima kasih karena kamu selalu baik padaku. Tapi, jujur saja, aku merasa menjadi proyek charity perusahaanmu.” Kai langsung terkekeh pelan. Biasanya orang-orang mendekatinya dengan tujuan meminta bantuan bisnis. Hanya Senja yang justru menolak dengan alasan yang lucu. Jadi gemes dan dalam otak Kai yang penuh rencana itu… dia ingin mencubit pipi wanita didepannya. Tahan Kai, tahan! “Aku tidak kasihan padamu, Senja,” Kai membungkuk sedikit, menatap intens wanita cantik di depannya. “Tapi, aku ingin membantumu mengembangkan bisnis yang sedang kamu jalani.” Sebelum Senja bisa menjawab, ponselnya berdering, nomor baru tertera di layar. Sebulan ini, Raffa dan keluarganya masih mencoba menghubunginya. Meminta maaf, membujuknya agar kembali, bahkan mengancam akan mengganggu bisnisnya. Tanpa ragu, Senja menekan tombol merah, menolak panggilan. “Masih mengganggu?” tanya Kai. “Mereka tidak akan pernah berhenti sebelum mendapatkan apa yang mereka inginkan,” jawab Senja. “Apalagi aku telah mencoreng nama baik keluarganya.” Kai terdiam sejenak, seperti sedang mempertimbangkan sesuatu. “Tidak usah khawatir,” lanjut Senja. “Aku tidak akan tergoda oleh bujuk rayuan mereka.” “Semoga saja,” balas Kai. “Soalnya, kata orang, cinta pertama itu sulit dilupakan.” Ringan sekali ucapannya. Padahal dalam hatinya sedang cemburu berat. Senja memicingkan kedua matanya. “Sok tau!” serunya. Kai pun tergelak, lalu membersihkan sudut bibirnya dengan tisu. Gelato-nya telah habis. Sudah waktunya dia kembali ke kantor. “Tunggu sebentar,” ujar Senja, lalu bergegas masuk ke dalam. Tak lama kemudian, dia kembali dengan membawa lunch box. “Buat kamu,” katanya sambil menyerahkan kota itu kepada Kai. “Jangan biasakan perut dalam keadaan kosong.” “Terima kasih. Harusnya tadi kamu kasih pas aku baru datang,” ujar Kai. “Dih, nggak mau lah! Nanti kamu malah makin rajin ke sini.” Penolakan Senja tak membuat senyum Kai menghilang. Bahkan Kai semakin senang saat melihat rona merah di pipi Senja. Pasti dia mengira Senja sudah mulai membalas cintanya. “Memangnya kenapa? Aku kan sudah daftar jadi member VIP kedai Etalase Cinta.” “Kapan?” “Barusan. Dan sepertinya kamu setuju.” “Eh!” Senja melotot. “Mana ada aku setuju!” Kai tak membalas lag. Dia mengangkat lunch box sambil tersenyum lebar, lalu pergi meninggalkan Senja. Bibir Senja manyun, kesal pada pria yang seenaknya melamarnya itu. Alasannya membawakan makan siang karena ingin berterima kasih karena Kai memberikan pelayanan terbaik saat dia berlibur di villa… secara gratis. “Nggak usaha dipandang terus, Mas tamvannya. Besok juga datang lagi,” goda Ariana. Senja berjengit kaget saat suara itu tiba-tiba terdengar di dekat telinganya. “Dih, siapa juga yang memandangnya?!” elaknya cepat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN