Calon Umpan

1386 Kata
“Om Kai!” Pekik seorang gadis kecil berusia tujuh tahun, berambut kuncir dua, sambil berlari menghampirinya. Audy, kakak Kai, datang bersama Pricilla, keponakannya. Kai beranjak dari kursinya, melangkah mendekat, lalu membungkuk untuk memeluk keponakannya. “Hai, Sayang.” Pricilla pun masuk ke dalam pelukan Kai, kedua tangannya melingkar di leher sang paman saat Kai menggendongnya. “Tumben main ke kantor?” tanya Kai. “Mami titipin aku sama Om,” jawab Pricilla ceria. “Om mau, kan, jagain aku?” “Tentu saja, Sayang.” Kai membawa keponakannya itu menuju sofa. Audy sudah lebih dulu duduk disana, tampak sibuk membalas pesan di ponselnya. Kai memandang kakaknya sambil menggeleng pelan. Kesibukan wanita satu itu bahkan melebihi dirinya. Meski begitu, Audy selalu menyempatkan waktu mengurus suami dan putrinya. “Kai, maaf ya mengganggu,” ucap Audy sambil berdiri menenteng tas kerjanya. “Ada meeting dadakan dengan klien Singapura. Ayu pulang kampung sampai minggu depan. Aku sudah menghubungi babysitter pengganti, tapi jadwal mereka sudah penuh. Sementara Mommy dan Daddy lagi ke Jakarta buat kondangan. Hanya kamu satu-satunya yang bisa aku percaya buat jaga Cilla.” Kai mengangguk. “Tenang, Ka. Biar aku yang jaga Cilla.” Lagaknya Audy sungkan begitu dengan adiknya. Biasanya juga merepotkan tak tau waktu. “Terima kasih, Kai.” Audy menghampiri putrinya, lalu mengecup keningnya. “Sayang, Mami pergi dulu ya. Jangan nakal sama Om Kai.” “Iya, Mami.” Pricilla melambaikan tangannya. Senang karena saat dijaga pamannya pasti boleh makan apa saja. Audy sudah hampir sampai di pintu ketika matanya melihat lunch box yang Kai letakkan di meja kerjanya. Alisnya terangkat. “Itu apa?” harusnya pertanyaannya bukan itu, tapi ya sudahlah… toh, Kai sudah paham “Bekal makan siang,” jawab Kai santai. “Sejak kapan kamu bawa bekal?” Audy kembali melangkah ke arah sofa, matanya menyipit curiga. “Bukannya urusan makan sudah disiapkan oleh chef hotel?” “Om Kai punya pacar, ya?” Pricilla tiba-tiba berceloteh. “Soalnya temanku suka bawain pacarnya beka lucu-lucu gitu.” Kai memutar bola matanya, lalu menarik pelan hidung keponakannya. “Kamu masih kecil, gak boleh pacaran!” Saking penasarannya, Audy langsung melupakan meeting pentingnya. Dia melesat mengambil lunch box itu, seolah barang bukti kejahatan sang adik. “Kamu beneran punya pacar, Kai?” Wajah Audy berubah cerah… melebihi cerahnya lampu 100 watt. Dan bagi sang adik sangat menyebalkan. “Cepat jawab!” Nah, kan, mulai keluar garangnya. Kai sedang malas menjelaskan pada kakaknya karena kerjaannya belum selesai. “Ka, kamu bisa terlambat meeting.” “Meeting bisa ditunda. Masalahmu lebih penting.” Mana mungkin Audy melepaskan adiknya yang hampir dimasukkan ke dalam panti jompo Mommy-nya karena tak kunjung menikah. “Masalah apa? Aku baik-baik saja,” jelas Kai. “Lebih baik buruan pergi deh. Aku masih banyak kerjaan.” Audy membuka lunch box, yang ternyata sudah kosong, lalu menutupnya kembali. “Makanan rumahan biasa. Menunya pun sangat sederhana.” “Tapi rasanya luar biasa, Kak.” “Seenak itu?” Kai mengangguk. “Sangat enak. Aku sampai ingin nambah, tapi gak bisa. Sayang sekali.” Kening Audy mengernyit, heran melihat tingkah adiknya. “Sepertinya kamu sedang jatuh cinta.” “Bukan sepertinya lagi. Aku memang sedang jatuh cinta dengan calon istriku.” “Hah?!” seru Audy dan Pricilla bersamaan. Kai terkekeh pelan. Wajahnya berbinar, memang benar, dia sedang jatuh cinta. Padahal dia malas menjelaskan. Gara-gara dipancing langsung keluar semua rahasianya. Sementara itu, Audy langsung mendekati sang adik, lalu menempelkan punggung tangannya ke kening Kai, memastikan adiknya tidak demam. “Nggak panas, loh!” ujarnya heran. “Dia cantik banget, Kak. Sudah lama aku mengaguminya—sejak dia masih punya suami. Dan sekarang waktunya aku mengejarnya, karena dia sudah jadi janda,” terang Kai. Plak! Plak! “Aww!” Kai meringis setelah menerima dua pukulan bertubi-tubi dari sang kakak dan keponakannya. “Kenapa kalian memukulku?” “Kamu jadi pebinor?!” bentak Audy dengan mata melotot. “Apa itu pebinor?” Kai masih memasang wajah polos. Dia memang tak mengerti istilah yang digunakan kakaknya. “Kamu sudah gila sampai mau merebut istri orang?!” Audy mulai naik pitam. “Meskipun kamu dikejar deadline menikah sama Mommy, bukan berarti kamu boleh merusak rumah tangga orang!” “Kakak ngomong apa, sih?” Pria itu harus berdebat dengan emak-emak satu anak plus wanita karir. Jelas saja bakalan kalah. “Aku masih waras.” Pricilla yang masih berada di dalam pangkuan pamannya tiba-tiba mencubit pipi Kai. “Cilla, Sayang, tangannya gak boleh nakal,” tegur Kai. “Aku mau lihat Tante cantik,” ujar Pricilla. “Iya, au juga mau lihat,” sahut Audy penasaran. “Soalnya aku gak percaya ada wanita yang mau sama kamu. Apalagi wajahnya cantik dan jago masak. Mustahil sekali.” Terlalu meremehkan adiknya, tapi ya gimana, 33 tahun hidup di dunia Kai belum pernah pacaran. Kai mengeluarkan ponselnya dari saku celana, lalu membuka sebuah folder yang ternyata berisi foto-foto candid Senja. Penguntit yang tidak mau disebut penguntit. “Cantiknyaaa,” kata Pricilla antusias. “Cantik banget,” ujar Audy sambil menatap layar. “Tapi wajahnya kayak gak asing. “Kakak pasti tahu Senja. Bulan lalu dia jadi trending topic di hotel kita,” jawab Kai. Audy terdiam sejenak, mencoba mengingat-ingat kejadian bulan lalu. Beberapa saat kemudian, dia tiba-tiba berseru keras hingga membuat Kai dan Pricilla terlonjak kaget. “Jadi, dia wanita yang membuat pesta resepsi untuk suami dan istri barunya?” tanya Audi tak percaya. Kai mengangguk sebagai jawaban. “Aku ingin bertemu dengannya, tapi saat sekretarisku menghubunginya gak direspon.” “Mau apa, Kak?” tanya Kai. Jelas saja curiga sang kakak yang hanya peduli dengan keluarga dan pekerjaan tiba-tiba menaruh perhatian dengan wanita yang tak dikenal. “Aku ingin memeluknya dan mengajaknya liburan. Sebagai hadiah karena dia berani memilih meninggalkan suami yang toxic,” jawab Audy bersungut-sungut. Lalu Kai menjelaskan bahwa setelah acara resepsi pernikahan mantan suaminya, Senja langsung berlibur ke villa milik keluarga mereka untuk menenangkan diri sebelum memulai hidup barunya. Kai juga menceritakan bahwa dia berada disana untuk melamar Senja, namun belum mendapatkan jawaban. “Kai, kamu sudah gila?! Bisa-bisanya orang habis cerai malah kamu lamar,” omel Audy, tak habis pikir dengan cara kerja otak jenius adiknya. “Aku takut keduluan pria lain, Kak. Meskipun Senja statusnya janda, tetap saja banyak yang mengincar,” jawab Kai. “Tapi yang nggak langsung juga, Kai. Dia belum sembuh dari trauma pernikahan pertamanya, eh malah dilamar pria asing,” sahut Audy. “Minimal ajak PDKT dulu kek,” omelnya. “Hehe,” Kai meringis sambil menggaruk tengkuknya. “Pantesan dia agak takut tiap lihat aku.” “Jelas takut.” Baru kali ini Audy merasa malu memiliki adik seperti Kai. “Dan aku yakin Senja mengira kamu itu pria mecum.” Keyakinannya bahkan mencapai 1000%. Ponsel Audy di dalam tasnya berdering nyaring. Dia memberi isyarat pada adiknya untuk diam—pasti sekretarisnya yang menelpon. “Halo—” “(...)” “Batalkan semua meeting hari ini. Aku ada urusan penting yang harus diselesaikan hari ini juga.” “(...)” “Iya, gapapa. Kalau mereka masih butuh kita, nanti buatkan jadwal lagi.” Setelah sambungan terputus, Audy kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas. “Aku mau ketemu Senja,” ujarnya sambil menatap adiknya. Kai cepat menggeleng, menolak keinginan sang kakak. Hubungannya dengan Senja masih belum jelas. Dia khawatir Audy yang terlalu frontal akan langsung meminta Senja menerima lamarannya tanpa basa-basi. “Aku bisa mengurusnya sendiri, Kak,” ujar Kai. “Kelamaan. Kamu itu muka datar dan kaku. Mana bisa merayu wanita,” balas Audy. Pricilla menatap lekat wajah pamannya, lalu terkikik geli. “Kata siapa?” sanggah Kai. “Buktinya, baru sebulan ngejar, Senja sudah mau membawakan bekal makan siang, tanpa aku minta.” Sebelah alis Audy terangkat. “Benarkah? Sepertinya dia membawakan kamu bekal supaya kamu cepat pergi dari kedai gelatonya.” Bahkan Audy bisa menebak jika adiknya sekarang hobi nongkrong di kedai Etalase Cinta. “Kakak tahu dia punya kedai gelato?” tanya Kai. “Tentu saja tahu. Cilla pelanggan tetap disana,” jawab Audy. Senyum Kai pun mengembang. Kini dia memiliki ide baru untuk mendekati Senja. “Lah, senyum-senyum dia,” cibir Audy sambil bergidik ngeri melihat adiknya yang sedang kasmaran. “Kak, besok pinjam Cilla, ya,” ujar Kai. “Kamu mau menjadikan keponakanmu umpan?” Audy langsung paham maksud sang adik.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN