Kai memarkirkan mobilnya di depan kedai Etalase Cinta yang kini antriannya mengular hingga ke luar. Seperti biasa, setiap akhir pekan para pelanggan setia gelato Senja rela mengantri berjam-jam.
Apalagi hari ini ada varian menu baru yang, katanya, sangat enak—begitu menurut beberapa pelanggan yang beruntung mendapatkan sampel gratis minggu lalu.
Pricilla yang tidak suka kepanasan memilih menunggu di mobil, meminta pamannya untuk mengantri. Sikapnya mirip sekali dengan maminya, gemar membuat Kai menderita dengan permintaan-permintaan anehnya.
“Nomor berapa, Om?” tanya Pricilla dari dalam mobil.
Kai menoleh. “Entahlah, Cilla. Kayaknya hampir lima puluhan.”
“Kenapa nggak minta bantuan Pak sopir saja? Om tunggu di mobil sama aku,” usul Pricilla. Agak heran dengan kelakuan pamannya.
“Eh, nggak boleh,” tolak Kai. “Nanti kalau Tante Senja tahu gimana? Kelihatan gak tulus.” Padahal tahu juga gak akan membuat Senja terharu. Justru kedatangannya membuat wanita itu pusing tujuh keliling.
Bibir mungil Pricilla membentuk huruf O. “Memang begitu, ya, kalau lagi ngejar cewek?”
“Hm,” Kai mengangguk. “Harus totalitas.”
Alah, gaya banget sih Kai. Oh, iya, ingatkan dia lain kali harus pakai masker, kacamata hitam dan topi—biar para wanita disekitar tidak histeris melihatnya.
Kai pun kembali memutar badan, berdiri di barisan antrian yang panjang Terik matahari menyengat, keringat mulai membasahi pelipisnya, namun dia tak bergeming. Baginya, menunggu di bawah panas seperti ini tak sebanding dengan senyum Senja yang akan dilihatnya nanti.
Setelah hampir dua jam berdiri dibawah terik matahari, akhirnya nomor antrian Kai dipanggil. Dia menghela nafas lega, kakinya sedikit pegal, namun sudut bibirnya justru terangkat tinggi.
Dia menoleh ke arah mobil yang terparkir tak jauh dari kedai. Melambaikan tangan tinggi.
“Cilla!” serunya.
Pintu mobil pun terbuka. Pricilla turun dengan wajah cerah, berlari menghampiri pamannya.
“Giliran Om, ya?” tanyanya antusias.
“Iya. Perjuangan yang tidak mudah. Sampai keringetan begini,” jawab Kai sambil terkekeh.
Pricilla mendongak menatap Kai, lalu menyeringai jahil. “Kalau Tante Senja tahu Om rela mengantri selama ini, pasti langsung jatuh cinta.”
Kai hanya tersenyum, kemudian menggandeng tangan keponakannya masuk ke dalam kedai.
Bel pintu berbunyi saat mereka masuk. Beberapa pelanggan menoleh, terutama para wanita yang langsung berbisik saat melihat Kai—pria tampan dengan anak kecil yang lucu. Kombinasi yang mematikan.
Ariana yang sedang di belakang counter langsung tersenyum lebar melihat Kai.
“Selamat siang, Mas Kai,” sapa Ariana. “Mau pesan gelato atau pesan yang punya nih?” Seribu macam cara dia mempromosikan sahabatnya… hanya dengan Kai. Karena Ariana tak mungkin menjodohkan sahabatnya dengan pria br3ngsek seperti Raffa.
“Na!” Tegur Senja yang berdiri disampingnya. “Gak usah bicara aneh-aneh.”
Ariana terkikik geli melihat Kai yang senyam-senyum sendiri menatap Senja, sementara sahabatnya justru memasang wajah masam.
“Santai saja Senja,” kata Kai. “Aku tahu Ariana sedang bercanda.”
Kedua mata Ariana mengedip jahil ke arah Senja. Lalu dia memilih melayani pelanggan di belakang Kai, menyerahkan pria tampan itu pada sahabatnya.
Senja menghela nafas panjang, tersenyum manis pada Pricilla. “Halo, Sayang.”
“Hai, juga,” jawab Kai. Sungguh percaya diri sekali.
Kalau sampai Audy tahu kelakuan konyol adiknya pasti dia akan menampol wajah tampan Kai yang selalu datar itu.
“Bukan kamu,” balas Senja sambil mendelik.
Kai menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal sambil meringis.
Lantas Pricilla maju mendekat ke counter. “Hai, Tante cantik. Salam kenal, namaku Pricilla. Panggil saja Cilla.”
“Dia keponakanku,” sahut Kai. Padahal tanpa dijelaskan pun Senja sudah tahu. Harap maklum… bujang lapuk spek dewa itu baru pertama kali jatuh cinta. “Anak Kak Audy,” lanjutnya, semakin mempermalukan diri sendiri, sayangnya dia tak sadar.
Pricilla pun memutar bola mata. Dia merasa pamannya sangat payah dalam mengambil hati seorang wanita. Pantas saja maminya tadi pagi memintanya membantu sang paman agar cepat diterima calon tantenya.
“Salam kenal juga, Sayang,” jawab Senja mengabaikan Kai. “Mau pesan apa?”
“Yang pink itu apa, Tante?” tanya Pricilla, hidungnya hampir menempel di kaca display.
“Itu strawberry cheesecake. Favorit anak-anak manis sepertimu,” jawab Senja. “Tapi kalau Cilla mau coba yang lain, Tante punya rasa spesial. Lavender honey. Warnanya ungu cantik seperti dress Frozen.”
“Mau itu Tante! Dan yang coklat juga.” Pricilla menunjuk dengan antusias.
Senja tertawa, mulai menyendok gelato. Tanpa peduli dengan pria yang ada di samping gadis kecil itu.
Sementara itu, Kai semakin mendekati counter. “Aku seperti biasa, ya.”
“Stracciatella terus, emang gak bosan?” tanya Senja.
“Aku orangnya setia.” Eleh, masak sih?
“Dih, gak nyambung. Ditanya apa, jawabnya apa.” omel Senja sambil menggeleng.
Pricilla menerima gelatonya, lalu melirik pamannya sekilas sebelum berjalan menuju salah satu meja. Dia sengaja meninggalkan Kai yang masih menunggu pesanannya dan membayar.
“Temani ngobrol sebentar, bisa?” tanya Kai pelan.
Senja melirik sekelilingnya. “Kedai lagi ramai. Dua karyawanku juga sedang sakit.” Bukan alasan tapi memang kenyataannya begitu.
“Butuh bantuan?” tawar Kai cepat. “Aku bisa bantu-bantu.”
“Nggak usah,” tola Senja halus. “Masih bisa aku tangani.”
Tak lama kemudian, pesanan Kai selesai. Dia membayar di kasir, lalu menghampiri Pricilla yang sudah duduk manis sambil menikmati gelato-nya.
“Gimana, Om?” tanya Pricilla penuh harap.
Kai menghela nafas pelan. “Tante Senja lagi sibuk. Nggak bisa temani kita ngobrol.”
Pricilla menoleh ke arah Senja yang sedang sibuk melayani pelanggan.
“Nggak apa-apa, Om. Setidaknya kita udah ada di sini.” Sungguh dewasa sekali. Pas sebagai umpan untuk meluluhkan hati Senja. “Pandang saja wajah Tante Senja yang cantik sambil makan gelato.”
“Cuma lihat Tante Senja dari jauh nggak seru, Cilla,” keluh Kai.
“Ya mau gimana lagi? Kedai memang lagi ramai banget.”
“Biasanya kamu banyak akal dan jago merayu.”
“Aku kan baru kenalan sama Tante Senja. Jangan langsung ngegas, dong! Nanti Tante Senja malah nggak suka sama aku.” Pricilla mendengkus. “Lagian biasanya aku sama Mami beli gelato di dekat hotel. Disana kan cabangnya, jadi nggak pernah ketemu Tante Senja langsung.”
“Kalau kelamaan, nanti Om kena omel Oma karena belum juga punya calon istri.”
Pricilla berdecak kesal. “Salah sendiri, Om sibuk kerja terus, cuek kalau disuruh cari pacar.”
Saat mereka masih berbincang, tiba-tiba terdengar suara berisik dari arah dapur—seperti benda jatuh dan pecah bersamaan.
Kai spontan menoleh ke arah counter. Senja tidak ada disana.
Jantungnya mencelos. Tanpa pikir panjang, Kai bangkit dari kursinya dan bergegas menuju dapur.
“Senja!” serunya cemas. “Biar aku yang bersihin!”
Senja sedang berjongkok di dekat lemari es, memungut serpihan gelas yang pecah di lantai.
“Eh, nggak usah. Biar aku aja,” ujar Senja cepat, masih berusaha meraih pecahan kaca.
Kai langsung menahan tangannya dan membantu Senja berdiri. Saat itulah matanya menangkap darah yang merembes dari jari wanita itu.
“Senja, tanganmu berdarah,” ucapnya dengan wajah khawatir.
Belum sempat Senja menanggapi, Kai sudah mengeluarkan ponselnya. Dia menelpon sekretarisnya dan meminta tiga orang dari dapur restoran hotel datang ke kedai Etalase Cinta—yang lokasinya tidak jauh dari tempat tinggalnya.
Setelah menutup panggilan, Kai menatap Senja dengan ekspresi menahan kesal.
“Kalau capek, jangan dipaksakan buat kerja,” katanya. “Kamu manusia, Senja. Bukan robot.”
Senja memilih tak membantah lagi. Tubuhnya memang sedang tidak sehat, tetapi dia tetap memaksakan diri bekerja karena kedua karyawannya izin cuti mendadak.
“Sei,” panggil Ariana dengan wajah cemas. Namun, dia baru bisa menghampiri sahabatnya setelah melayani pembeli. “Astaga, kamu nggak apa-apa, kan?”
Kai membantu Senja duduk di kursi. “Tunggu di sini. Aku panggilkan Pricilla buat nemenin kamu.”
Saat Senja hendak menolak, kedua mata Ariana langsung melotot ke arahnya. Senja pun memilih diam.
Begitu Kai pergi, Ariana langsung mencak-mencak—bukan karena panik, melainkan saking bahagianya melihat sahabatnya diperlakukan begitu manis oleh Kai.
“Gimana rasanya dikejar perjaka ting-ting?” godanya.
“Apa sih kamu, Na?! Jangan bicara aneh-aneh!” omel Senja.
Ariana malah terkekeh pelan. Dia kemudian mengambil kotak p3k dan menyerahkannya pada Senja.
“Kamu bisa obati sendiri, kan?” tanyanya. “Aku lanjut melayani pembeli. Antriannya bukan semakin berkurang malah makin panjang.”
Senja mengangguk pelan. “Maaf ya, Na. Aku malah ceroboh begini.”
“Ck, kamu ini, Sei,” sahut Ariana. “Udah, istirahat dulu. Bentar lagi ditemani Mas tamvan sama keponakannya yang cantik.”
“Ariana!” seru Senja kesal.
“Nikmati saja masa-masa indah dikejar pria tampan, mapan, romantis, dn kaya raya, Sei.”
“Kamu, Na—ishhh!”