Tidak sampai dua puluh menit, tiga orang chef memasuki kedai Etalase Cinta.
“Permisi, kami dari The Grand Celestial Hotel,” ucap salah satu chef. “Pak Kai yang meminta kami untuk datang.”
Ariana yang sedang kewalahan melayani pelanggan langsung tersenyum lebar. “Oh, Tuhan, akhirnya bala bantuan datang.” Helaan nafasnya bahkan sangat panjang sekali.
Para pelanggan di kedai itu ikut tertawa mendengar seruan Ariana. Memang seperti itu dia. Sikapnya tak pernah jaim di depan para pelanggan tercinta.
“Langsung bantu layani pelanggan, Chef,” ujar Ariana.
Ketiga chef itu serempak mengangguk. Tanpa perlu penjelasan lebih lanjut, mereka sudah paham apa yang harus dilakukan.
Pelanggan yang sejak tadi mengular hingga ke luar kedai akhirnya bisa bernafas lega. Bala bantuan tak terduga dengan cekatan, membantu di balik counter tanpa banyak bicara.
Suasana yang semula riuh dan penuh keluhan perlahan berubah lebih tertib.
Ariana mengambil alih bagian kasir, menggantikan karyawan yang kini fokus membantu satu chef di dapur produksi. Tangan-tangannya bergerak cepat, senyumnya tak lepas saat melayani pelanggan satu per satu.
Antrian pun berangsur berkurang. Karena kursi di dalam kedai sudah penuh, sebagian pelanggan memilih memesan gelato untuk dibawa pulang. Dalam waktu singkat, ritme kerja kembali tertata, dan kondisi Etalase Cinta menjadi lebih terkendali.
Sementara itu, Senja sudah berada di ruang kerjanya—dipaksa istirahat oleh Kai dan Pricilla.
“Pokoknya Tante nggak boleh ke luar dulu,” ujar Pricilla, kedua tangannya bekacak pinggang. Sok galak padahal kelihatan sangat lucu. “Lagian ya buat apa kejar keras sampai sakit. Nikah aja sama Om Kai—uangnya banyak tuh.”
“Cilla benar,” tambah Kai. “Kondisimu lagi nggak fit harus banyak istirahat.” Senyumnya pun merekah. “Soal uang bukan bermaksud sombong. Namun memang kenyataannya begitu.”
Senja menghela nafas pelan. Kedua manusia yang kini menyekapnya di ruang kerjanya sangat kompak “Cuma kegores dikit. Masih bisa kerja,” bantahnya.
“Kegores dikit tapi berdarah,” sanggah Kai cepat. “Dan kamu juga kelihatan capek. Jangan keras kepala, Senja!”
Senja hendak membalas, tapi tatapan Kai yang tajam ditambah wajah Pricilla yang khawatir membuatnya mengurungkan niat. Dia akhirnya bersandar pada sofa, pasrah.
Tak biasa mendapatkan perhatian dari pria lain selain adiknya membuat Senja merasa sedikit canggung, apalagi dia baru mengenal Kai.
Dia pun berinisiatif mengirim pesan pada Langit, meminta adiknya datang untuk menjemputnya.
‘Semoga saja Langit cepat datang. Kalau tidak, bisa pingsan aku dapat tatapan berbinar paman dan keponakan ini,” gumamnya dalam hati.
“Tante Senja, kapan-kapan main ke rumah Om Kai, dong. Nanti kita bikin istana pasir sambil lihat sunset,” bujuk Pricilla, mulai mengeluarkan puppy eyes—jurus rayuan andalannya.
Nah, kan! Itu yang ditakutkan oleh Senja. Kalau Kai yang meminta pasti langsung di tolak. Tapi, masalahnya kini… gadis cantik itu yang meminta. Mana manis banget lagi senyumnya.
Kai mengulum senyum. Keponakannya memang banyak akal, persis seperti sang kakak.
“Maaf ya, Cilla.” Senja membelai lembut pipi chubby Pricilla. “Kayaknya Tante belum ada waktu buat main. Soalnya kedai lagi ramai.”
“Nanti kan bisa dibantu sama chef hotel,” sahut Pricilla tak mau kalah. Mana mungkin mau mengala? Keturunan Zavier tipe manusia yang harus selalu menang dalam hal apapun. Apalagi ini persoalan masa depan calon pewaris yang tak kunjung laku. “Tenang aja, Tante cantik.” Pricilla menatap pamannya dengan mengedipkan sebelah mata. “Iya, kan, Om?”
Mendapat kesempatan, Kai langsung mengangguk. “Bilang saja kalau kamu lagi keteteran di kedai. Nanti chef akan datang membantu.”
Jangankan membantu, mengambil alih pun Kai sanggup. Tinggal Senja bilang ya atau tidak. Sayangnya Senja bukan tipe wanita yang aji mumpung. Hal itu akan membuat kekayaan Kai sedikit sia-sia.
Pricilla memeluk lengan Senja, menyandarkan kepala dengan manja. Padahal, biasanya dia termasuk anak yang sulit dekat dengan orang baru. Entah mengapa dengan Senja langsung lengket. Mungkin juga karena wanita itu memiliki semua rasa manis yang sangat disukai anak-anak, gelato.
“Besok karyawanku sudah kembali bekerja. Tidak perlu meminta chef untuk datang ke sini lagi, Kai,” ujar Senja. “Mereka dibayar mahal bukan untuk diperbantukan di kedai ini.”
“Kenapa tidak?” tanya Kai.
“Kamu ini!” Senja mendengkus. Hanya memasang wajah masam—tak sampai ngreyog karena ada Pricilla di antara mereka. “Jangan pura-pura sok polos, deh.”
Kai tekekeh pelan. Ah, manis sekali. Kata para pengagumnya. Lain cerita di mata Senja. “Susah sekali bikin kamu terharu, Senja. Padahal aku sudah melakukan berbagai cara supaya kamu cepat luluh.”
Belum sempat Senja membalas, terdengar suara ketukan pintu.
Tok… tok…
Tak lama kemudian pintu terbuka dan Langit muncul dengan wajah panik.
“Kak—” panggilnya begitu melihat Senja. Langkahnya lebar menuju sofa tempat sang kakak berada. “Gimana keadaan Kakak?”
Senja segera memberi kode pada adiknya agar menyapa Kai. Saking paniknya, Langit bahkan tak menyadari ada orang lain di dalam ruangan itu.
“Ah, maaf, maaf,” ucap Langit kikuk. Dia lalu mengulurkan tangan ke arah Kai. “Saya Langit, adiknya Kak Senja.”
Kai menyambut uluran tangan itu dengan senyum lebar. “Kai,” katanya ringan. “Calon kakak iparmu.”
Eleh… dasar Kai!
“Uhuk!” Senja tersedak ludahnya sendiri mendengar ucapan Kai yang terlalu frontal.
Sementara itu, Langit menatap Kai dan Senja bergantian, matanya membulat penuh kebingungan.
“Jangan didengar, Dek,” ujar Senja cepat. Tak mau Langit salah paham. Bisa berabe kalau sampai adiknya mengira dia sudah move on dari pernikahannya yang baru saja kandas. Karena hampir setiap malam dia masih menangis. Bukan menangisi Raffa tapi menangis karena kebodohannya. “Kai memang suka bercanda.”
Langit meringis, melirik Kai yang kini menatap Senja dengan satu alis terangkat, jelas tidak setuju disebut bercanda. Sekelas CEO sibuk mana mungkin iseng tiap hari nongkrong di kedai gelato? Apalagi harus berebut antrian dengan anak-anak PAUD dan TK saat mereka nongki dengan macan… mama cantik.
“Memangnya Tante Senja nggak suka sama Om Kai?” tanya Pricilla polos. “Om Kai kan gak jelek-jelek amat. Lumayan lah kalau diajak ke kondangan, kata Mami begitu.”
“Bukan ngga suka,” sahut Kai. “Tepi belum, Cilla.”
“Oh—” Pricilla mengangguk paham.
Sedangkan Langit masih berusaha mengumpulkan sisa kesadarannya. Dia tak menyangka Kai Ethan Zavier—CEO Hospitality Group, berada di ruang kerja kakaknya, bahkan memperkenalkan diri sebagai calon kakak iparnya.
Langit menarik nafas dalam. “Sepertinya saya melewatkan sesuatu yang penting tentang Kak Senja dan Pak Kai,” ujarnya ragu.
“Panggil saja Mas jangan Pak. Aku belum setua itu,” sela Kai sambil tersenyum. “Dan pakai bahasa santai saja biar kita cepat akrab.”
Langit pun mengangguk, masih terlihat canggung. “Baik, Mas Kai.” Bisa-bisanya kakaknya lepas dari pria mokondo langsung dapat spek Bidadara. Berlebihan gak sih? Tapi itulah yang ada di dalam otak Langit saat ini.
Kai lalu menoleh ke arah Senja, sebelum kembali menatap Langit.
“Sebenarnya, aku mau minta izin. Aku berniat mendekati kakakmu, Senja, dengan cara yang baik dan bertanggung jawab.”
Langit terbelalak, menatap kakaknya yang kini menundukkan kepala. Lalu kembali menoleh ke Kai. Mengatur nafas yang tersengal padahal tidak sedang lari maraton.
“Mas Kai serius?” tanyanya setengah tak percaya.
“Sangat serius,” jawab Kai. “Aku paham jika kamu terkejut. Tapi perasaanku pada kakakmu bukan main-main.”
Tatapan Kai pada Langit sangat tajam. Seperti saat dia menatap lawan bisnisnya. Bukan untuk mengintimidasi laki-laki yang diakui sebagai calon adik iparnya… hanya saja sudah menjadi kebiasaannya saat dia sedang bicara serius.
Langit menelan ludah, lalu menggaruk tengkuknya. “Sebentar, Mas. Aku butuh waktu buat mencerna informasi barusan.”
Senja menghela nafas panjang. Percuma saja mencoba menghalangi Kai, karena protesnya tak akan mampu membuat pria itu mengurungkan niat untuk terus mengejarnya.
“Kami saling mengenal memang baru sebulan,” ujar Kai. Mana mau dia menunggu terlalu lama. Apalagi setelah kedua matanya melihat keraguan pada Langit. “Tapi aku sudah lama tahu banyak tentang Senja.” Sekarang Kai menatap ke arah wanita yang kini tengah menatapnya juga. “Aku rasa semua yang Senja miliki masuk dalam kriteria calon ibu dari anak-anakku nanti.”
Begitukah pria jika sedang mengejar wanita yang disukai? Jangan-jangan hanya Kai saja! Yang sabar ya Senja.
“Tapi, Mas—” Langit ragu sejenak sebelum melanjutkan. “Aku yakin Mas Kai tahu tentang masalah rumah tangga Kak Senja dengan mantan suaminya.”
Kai mengangguk. Dia tidak hanya tahu tapi juga memberi diskon besar saat Senja menyewa ballroom hotelnya. “Menurutku tidak ada yang perlu dipermasalahkan.”
Pricilla yang sejak tadi menjadi pendengar setia tiba-tiba bertepuk tangan, lalu mengacungkan dua jempol mungilnya ke arah sang paman.
“Mas Kai sudah yakin untuk mengejar Kak Senja?” tanya Langit setelah terdiam sejenak.
Kai kembali mengangguk sebagai jawaban. Dia mengambil ponselnya dari saku celana yang bergetar karena ada pesan masuk.
Setelah membaca sekilas, Kai bergegas bangkit dari sofa dan mengajak Langit keluar untuk menemui seseorang.
Tanpa banyak tanya, Langit pun mengikutinya, sementara Kai meminta Senja dan Pricilla tetap menunggu di ruang kerja.
Setelah pintu tertutup, Kai menatap Langit dengan wajah datar.
“Pria bren9sek itu datang dan membuat keributan di luar kedai,” ujarnya.
Langit mendecak kesal. “Ck, ternyata dia masih berani menampakkan wajah. Kukira sedang sibuk dengan istri barunya.”