Jonathan berdiri di sisi ranjang, namun jiwanya seolah berada di tempat lain. Ia melirik ke arah monitor, menatap titik kecil yang bergerak-gerak itu. Seharusnya itu menjadi momen paling mengharukan dalam hidup seorang pria, namun yang ia rasakan hanyalah sesak yang asing. Demi menjaga situasi, Jonathan memaksakan sebuah senyum tipis. Hanya sebuah tarikan kecil di sudut bibir yang tidak mencapai matanya, sekadar usaha formalitas untuk menyenangkan Sella di depan sahabatnya. "Iya, aku lihat," jawabnya singkat. Suaranya datar, nyaris tenggelam oleh suara detak jantung janin yang diputar oleh Alvin melalui pengeras suara. Suara gesekan kertas resep yang ditulis Alvin menjadi satu-satunya bunyi di ruangan itu setelah mesin USG dimatikan. Alvin menyerahkan carik kertas itu dengan tatapan pro

