Sifa menatap sahabatnya dengan tatapan nanar. Ia berusaha mengalihkan pembicaraan sebelum suasana semakin menyesakkan. "Kapan lo berangkat, Zee?" "Masih satu minggu lagi," jawab Zee, jemarinya bertautan gelisah di atas pangkuan. "Tapi gue berangkat besok mau mampir ketemu Ayah dulu di Surabaya sebelum berangkat ke Papua." Sifa mengangguk pelan, mencoba mengingat-ingat. "Oh iya, Ayahmu tinggal di Surabaya" Hening kembali menyergap. Sifa tampak ragu, namun ada sesuatu yang mengganjal di hatinya hingga ia harus mengatakannya. "Dari berita yang kutonton tadi... Jonathan dan Sella akan menikah dalam waktu satu minggu ini juga." Kalimat itu seperti hantaman godam yang tak kasatmata. Zee tertunduk dalam, membiarkan rambutnya jatuh menutupi wajah yang kini pias. "Gue tahu," gumam Zee dengan s

