(Ruang baca) Masih dengan wajah tak menentu, Raden Mas Bagus, menunggu kedatangan Kirana dalam suasana canggung. Beberapa kali membenarkan posisi duduk tampak tak nyaman. Lebih tepatnya gugup. Sama seperti Kirana, Putra Bupati Solo ini, sebenarnya ingin pembelajaran hari itu dibatalkan saja. Terlalu malu bertemu dengan Kirana pasca secara tak sengaja, mendengar semua tadi seharunya tak ia dengar ketika mengunjungi muka pintu kamar anak gadis Sang Bupati Sidoarjo. Raden Mas Bagus, begitu sulit mengenyahkan segala pemikiran tertentu sedang bergelayut dalam benaknya tiap kali kembali teringat suara-suara melenguh Kirana. "Aduh… Bagaimana nanti aku memiliki muka bertemu dengannya!" gumam Raden Mas Bagus lirih. Bulir-bulir keringat, mulai berjatuhan dari kening. Hanya sekedar memikirkan se