Waktu telah menunjukkan pukul sembilan malam dan saat ini aku sedang berbaring di kasur dan menatap langit-langit kamar. Namun aku tidak bisa berhenti memikirkan ucapan Arya tadi disaat kami sedang mengobrol di ruangannya. Aku masih tidak menyangka jika pada akhirnya Arya memilih untuk pergi ke Hongkong hanya untuk menjauhiku. Sebab ia takut jika ia melakukan sesuatu yang bodoh untuk merusak rumah tanggaku dengan Arsen. Aku menghela nafas dengan kasar dan memiringkan tubuhku ke kiri. Dan seketika aku teringat kembali dengan semua hal yang telah aku lakukan bersama dengan Arya, mulai dari pertemuan pertama kami, ia yang selalu menjemput dan mengantarku pulang setiap harinya, sampai ia yang begitu perhatian padaku terutama disaat aku sedang sakit. Semua kenangan itu berputar-putar di kepala

