Suasana malam yang semula tenang di tempat persembunyian Nando mendadak pecah oleh suara tembakan dan teriakan dari luar. Nando yang tengah duduk bersama Delima dan beberapa anak buahnya langsung berdiri. Tatapannya tajam, tubuhnya siaga penuh. Wajahnya berubah serius—tanda bahwa bahaya besar sedang mendekat. “Nando, ada apa?” tanya Delima panik, matanya membesar mendengar suara gaduh yang terus bergema. “Geng rival,” jawab Nando tegas. “Mereka datang dengan pasukan lebih banyak dan senjata berat. Kita harus bertahan.” Delima menggenggam tangan Nando erat-erat. “Aku bisa bantu apa? Aku gak mau cuma duduk diam di sini.” Nando menatapnya, nada suaranya tegas tapi matanya lembut. “Kamu harus tetap di tempat aman, Delima. Ini bukan medan buatmu.” Delima menggeleng, napasnya cepat. “Aku g

