Juna yang mendengar tangis sang putri langsung beranjak dan meninggalkan permainannya begitu saja. Dilihatnya Anas yang menangis kencang sambil memanggil-manggil Sheya di bawah tangga, di depan pintu kamarnya. “Sayang … Baru bangun, ya? Kenapa? Ibu di dapur, kok.” Juna langsung membopong putrinya dan mengecupi puncak kepalanya. Keningnya mengernyit melihat Anas sangat berkeringat, keringat yang sudah bercampur dengan air mata, wajahnya acak-acakan dan Juna langsung mengusap lembut sambil sedikit merapikan rambutnya. Apa yang terjadi kepada putrinya itu? Tidak biasanya bangun tidur menangis histeris seperti ini. “Ibuuu.” Anas terus berteriak memanggil Sheya, padahal Juna juga sedang membawanya menuju ke dapur. “Ibuuu…. Jangan pergi.” Teriak Anas yang semakin melengking. Juna mengu