Bisma tampak terkejut dan mendekatkan wajahnya ke arah benda yang tampak berkilat di dasar mobilnya. Perlahan ia mengambil benda itu yang ternyata sebuah anting sebelah.
“Ck! Dasar gadis nakal,” gumam Bisma menatap anting itu dan teringat pada Lara sang pemilik anting dan membawanya ke dalam rumah setelah merapikan mobilnya.
Tanpa ragu ia melemparkan anting sebelah itu ke atas dashboard lalu segera menyalakan mobilnya karena ia harus segera berangkat bekerja.
Pikirannya kembali melayang mengingat pertemuannya dengan Lara di pesta ulang tahun Ajeng.
Dikenalkan Ajeng pada cucu perempuannya yang lain selain Fitri membuat Bisma segera membandingkan kedua perempuan itu.
Fitri yang sudah lebih lama dikenalnya adalah perempuan muda yang cantik, cerdas, ambisius, pekerja keras dan teman yang asik diajak bicara. Sedangkan Lara sebaliknya.
Masih teringat di benak Bisma ketika Lara yang baru saja dikenalkan oleh Ajeng langsung merangkul lengannya tanpa sungkan.
“Tunggu,” ucap Bisma menghentikan langkahnya karena merasa tidak nyaman karena makin lama Lara semakin erat memeluk lengannya.
Bagaimanapun mereka baru saja kenal. Mereka sudah berada di depan halaman rumah, tampak di kanan kiri ada beberapa orang yang berdiri menghabiskan rokok sebelum kembali ke dalam untuk berpesta.
“Maafkan aku,” ucap Lara cepat sambil melepaskan rangkulan tangannya di lengan Bisma seolah menyadari sikapnya.
“Kita belum berkenalan,” ucap Bisma mencoba mengurai kecanggungan sambil menatap Lara yang raut wajahnya tampak kacau.
“Lara.”
“Bisma.”
Entah apa yang terjadi, sesaat setelah Lara menatap ke belakang tubuhnya tiba-tiba ia memegang wajah Bisma dengan kedua tangannya dan bertanya,
“Mas, ayo kita keluar dari sini,” ajak Lara tiba-tiba.
“Keluar dari sini? Bukannya kita sedang menghadiri pesta ulang tahun eyang kamu?” tanya Bisma terkejut.
“Ck! Ayo kita pergi dari sini?! Mobil kamu yang mana?” tanya Lara sambil menarik tangan Bisma menuju tempat parkir.
“Tapi belum berpamitan! Gak sopan rasanya kalau aku belum berpamitan pada…”
“Fitri?” tanya Lara menatap wajah Bisma tajam.
“Eyang Ajeng!” jawab Bisma gusar.
“Ck! Gak usah! Mana mobilnya?” tanya Lara setengah memaksa.
Bisma segera menyalakan remote mobil dan Lara langsung berjalan bergegas menuju mobil Bisma sambil mendorong Bisma dengan meletakan tangannya di pinggang Bisma agar pria itu terdorong menuju mobilnya sendiri.
“Lara!” tegur Bisma yang merasa risih karena perempuan yang baru dikenalnya ini terlalu banyak menyentuh.
Lara tak peduli, dan tanpa ragu ia masuk ke dalam mobil dan duduk di sisi pengemudi. Bisma hanya bisa menghela nafas panjang dan masuk ke dalam mobilnya untuk memasang safety belt. Jika saja gadis itu bukan cucu eyang Ajeng orang yang ia hormati dan juga ibu mertua dari Om nya Imam, mungkin ia sudah menarik turun gadis serampangan ini.
“Mau kemana?” tanya Bisma dingin.
“Turunkan saja aku di Mall terdekat.”
“Mall? Dengan gaun seperti ini? Kamu juga gak bawa purse atau tas, lagi pula ini sudah jam 9 malam.”
“Ck, itu urusanku! Dengan bawa handphone ini sudah cukup bisa membawaku kemana saja,” jawab Lara santai sambil mengalihkan wajahnya ke balik jendela mobil.
Mobil Bisma pun bergerak maju meninggalkan kediaman Ajeng, tanpa ia sadari, Lara merasa sangat puas dengan kepergiannya bersama Bisma karena saat mereka pergi ada Fitri yang tengah berjalan menghampiri mereka berdua.
Bisma menghela nafas panjang, teringat Lara yang tinggi semampai setengah berlari meninggalkan mobilnya memasuki mall tanpa kalimat apapun selain ucapan terimakasih.
Sesampainya di kantor ia melihat Fitri yang tengah asik bekerja di cubiclenya sendirian dimana temannya yang lain belum banyak yang sampai.
Bisma tersenyum kecil karena merasa salut dengan kebiasaan Fitri yang disiplin. Ia merasa bangga karena memilih orang yang tepat untuk diberikan beasiswa dari yayasan kantor dimana ia bekerja dan kini Fitri pun bekerja di perusahaan yang sama sebagai tanda baktinya.
“Selamat pagi,” sapa Bisma pada Fitri sebelum ia memutuskan untuk memasuki ruangan kantornya sendiri.
Fitri segera menoleh kearah suara dan wajah ayunya segera tersenyum saat melihat Bisma.
“Pagi pak Bisma,” ucap Fitri membalas sapaan Bisma dengan perasaan senang dan sedikit terasa degup kencang di hatinya.
“Kamu sampai pagi sekali, sudah sarapan?” tanya Bisma ringan.
“Sudah pak, bapak mau sarapan? Mau saya bantu belikan?” tanya Fitri menawarkan diri.
“Ck! Tidak usah, malah tadinya saya ingin ajak kamu sarapan bersama. Karena kamu sudah sarapan, mau temani saya? Kita sarapan di coffee shop bawah saja,” ajak Bisma.
Fitri segera menganggukan kepalanya, Bisma pun tersenyum lalu berpamitan untuk menyimpan tasnya di ruangan sebelum mereka ke coffee shop yang berada di lantai dasar.
“Kamu hanya pesan itu?” tanya Bisma saat melihat Fitri hanya memesan secangkir teh hangat.
“Saya masih kenyang pak, ini sudah cukup buat saya,” jawab Fitri tenang.
Bisma mengangguk dan menatap wajah ayu dihadapannya. Gaya Fitri yang tenang dan wajahnya yang ayu semakin membuatnya tampak elegan. Apalagi gadis ini sangat cerdas dan lembut, menyempurnakan penampilannya. Ia tidak malu bahwa ia sebenarnya hanya seorang anak asisten rumah tangga dan diangkat anak oleh majikannya. Ia belajar giat untuk meraih cita-citanya membuat Bisma semakin kagum pada gadis itu.
Kekagumannya tak boleh jadi lebih saat teringat bahwa Fitri ternyata sudah memiliki kekasih.
“Selamat ya,” ucap Bisma spontan sambil menikmati sarapan paginya.
“Selamat?” tanya Fitri bingung.
“Iya, selamat atas pertunanganmu kemarin.”
“Oh, bapak lihat juga ya?” gumam Fitri pelan sambil menundukan wajahnya.
“Kok sedih gitu sih wajahnya?” tanya Bisma heran.
Fitri perlahan mengangkat wajahnya dan menatap Bisma dalam.
“Saya ingin membatalkan pertunangan itu pak,” ucap Fitri pelan.
“Loh, kok gitu? Kemarin sepertinya kamu bahagia sekali dengan Reno, kok sekarang jadi ingin dibatalkan?”
Fitri hanya diam lalu berkata dengan lirih.
“Saya gak enak sama Lara. Bapak sudah kenal Lara, kan?”
“Iya, kemarin sempat dikenalkan eyang Ajeng, kenapa dengan dia?”
“Lara menyukai Reno pak. Sudah lama dia jatuh cinta sama Reno, tapi Reno….”
“Oh, aku mengerti sekarang. Jadi kamu merasa gak enak sama Lara karena Reno dan kamu saling jatuh cinta sedangkan Lara juga jatuh cinta pada pria yang sama, begitu?”
“Saya tidak bermaksud mengalihkan perhatian dan hati Reno, tapi…”
“Ck, wajar saja kalau Reno jatuh cinta sama kamu Fit. Kamu gadis baik, cerdas dan cantik. Semua pria yang mengenal kamu pasti akan mudah jatuh cinta dan mencintaimu. Kalau memang kalian berdua sudah saling mencintai, Lara bisa apa? Sebaiknya dia mencari pria lain, toh kalian semua masih muda, masih bisa mencari pasangan yang lebih tepat untuk satu sama lain.”
Fitri diam. Ia tak menyangka dengan jawaban Bisma, seharusnya pujian Bisma membuatnya senang, tetapi mendengar Bisma mendukung hubungannya dengan Reno membuatnya sedih, sedangkan sebenarnya saat ini ia sedang tertarik dengan pria tampan di hadapannya walau usia mereka cukup jauh.
“Mungkin Lara juga harus bisa menjaga sikapnya supaya tidak terlalu liar,” gumam Bisma spontan sambil menghirup kopi panasnya.
“Liar?” tanya Fitri.
“Akh, maksudku Lara terlihat seperti gadis bebas,” jawab Bisma cepat, ia bicara spontan karena teringat Lara yang acuh tanpa batasan menyentuh tubuhnya dan mengajaknya pergi begitu saja padahal baru kenal.
“Lara gadis baik kok pak,” jawab Fitri sambil menghela nafas panjang teringat akan Lara dan kisah cintanya.
Buka satu dua kali Lara mendapatkan kisah seperti kisahnya bersama Reno, dan Fitri merasa menyesal karena kali ini ia pun ambil bagian dalam menambah list kisah patah hati Lara, apalagi ia juga tahu sebuah rahasia yang sudah tersimpan lama di dalam keluarga Ajeng.
Melihat Fitri yang membela Lara, membuat Bisma semakin merasa simpatik pada gadis itu. Andai saja, Fitri belum bertunangan, ingin sekali ia mendekati Fitri.
Ternyata kebersamaan Fitri dan Bisma tak hanya sampai dipagi itu dengan sarapan bersama, siangnya mereka harus pergi bersama tim untuk melihat project di beberapa site sampai malam tiba.
“Ayo aku antar kamu pulang,” ucap Bisma pada Fitri saat mereka selesai mengunjungi site terakhir.
“Pulang?” tanya Fitri bingung.
“Iya, toh rumah kamu juga searah dengan kediaman ku, ayo aku antar kamu pulang,” ucap Bisma seolah tak ingin dibantah. Fitri pun segera mengikuti langkah Bisma dengan perasaan senang.
“Ayo mampir dulu pak, jam segini biasanya eyang Ajeng sedang makan malam bersama mama,” ucap Fitri seolah enggan mengakhiri harinya bersama Bisma.
Entah mengapa Bisma pun mengiyakan keinginan Fitri, ia rasa tak ada salahnya untuk turun sebentar dan menyapa Ajeng, karena kemarin ia tak sempat pamit gara-gara Lara.
“Loh, ada Bisma! Kamu mengantar Fitri pulang?” tanya Ajeng ketika melihat Bisma dan Fitri memasuki ruang makan.
Tak hanya ada Ajeng, disana juga ada Frida dan Wita yang tengah menyajikan makanan di meja.
“Ayo makan bersama,” ajak Frida merasa senang melihat kehadiran Bisma.
“Ayo pak, kita makan bareng, seharian ini saya lihat juga bapak belum makan,” ucap Fitri membujuk agar Bisma bisa tinggal lebih lama lagi.
Lagi-lagi Bisma mengangguk dan ikut bergabung dengan kehangatan keluarga Ajeng. Ketika mereka sedang asik makan dan berbincang terdengar suara salam dari luar dan langkah kaki memasuki ruang makan. Lara.
“Kamu baru pulang, sayang? Ayo makan malam dulu, lagi ada Bisma mampir,” ajak Frida pada Lara ketika melihat gadis itu masuk. Pandangan Lara dan Bisma bertemu dan saling menatap beberapa detik. Kali ini tak ada pandangan nakal dari Lara, gadis itu menatapnya dingin lalu memalingkan wajah dan berjalan meninggalkan ruangan sambil berkata,
“Terimakasih tante, aku sudah makan. Aku pamit ke kamar ya.”
Lara pun segera pergi meninggalkan ruang makan.
“Ck, anak itu! Kebiasaan gak ada sopan santunnya!” keluh Ajeng melihat sikap Lara yang dingin.
Tak lama setelah makan malam, Bisma pun pamit untuk pulang. Setelah berpamitan dengan semua orang ia pun segera berjalan menuju mobil dan masih menunggu Fitri yang ingin mengantarnya sampai gerbang. Tiba-tiba ia melihat sosok seseorang tengah berjalan sambil menunduk dari pintu gerbang rumah ajeng. Sosok itu adalah Lara yang tengah berjalan membawa plastik makanan yang ia pesan secara online.
Lagi-lagi tatapan mereka bertemu, Kali ini Bisma memperhatikan penampilan Lara yang lebih santai dibandingkan Fitri, ia hanya mengenakan Blazer dengan celana jeans, sedangkan sepatunya sudah diganti dengan sandal jepit dengan rambut yang digulung sehingga memamerkan lehernya yang jenjang. Ia masih belum mengganti pakaiannya.
“Mau pulang mas?” sapa Lara basa basi merasa dipergoki Bisma yang menatap plastik bawaannya.
Bisma mengangguk lalu, teringat akan anting sebelah yang tertinggal di mobilnya.
“Tunggu, antingmu tertinggal di mobil,” ucap Bisma spontan menahan Lara untuk meninggalkannya.
Lara berhenti menunggu Bisma menyerahkan sebelah antingnya yang lepas. Bisma memberikan sebelah anting itu pada Lara.
“Terimakasih sudah disimpan, padahal buang saja,” ucap Lara lirih sambil menatap Bisma sesaat sebelum ia memainkan antingnya yang ada digenggamannya.
Bisma hanya diam dan menatap wajah Lara yang cantik, tanpa makeup, terlihat pucat dan pandangan matanya terlihat sedih.
“Bapak, maaf menunggu lama… aku tadi cari sendal dulu,” ucap Fitri dari belakang mereka.
Mendengar suara Fitri, Lara refleks menghampiri Bisma dan memeluknya spontan sesaat sambil berbisik ,
“Terimakasih untuk menyimpan antingku.”
Bisma tertegun, tapi hanya bisa diam saat Lara segera berjalan tanpa kata melewati Fitri yang tampak terkejut dengan sikap Lara.
Bersambung.