Bab 1. Dikalahkan anak pembantu
“Pokoknya, kalau bisa saat acara ulang tahun Eyang, kamu bisa menemukan pria yang cocok buat jadi suami, Ra!” ucap Silvi sambil meletakan gaun yang akan digunakan anak gadis semata wayangnya nanti malam.
“Ck! Apaan sih ma, biarkan Lara mencari jodoh pilihan sendiri,” jawab Ophelia Larasati yang biasa dipanggil Lara itu santai sambil menyisir rambutnya yang panjang dan bergelombang indah.
Silvi menghela nafas panjang dan berdiri dibelakang anak gadisnya yang tengah duduk didepan meja rias.
“Mama cuma gak mau anak cantik mama ini kalah lagi dari Fitri yang sebenarnya cuma anak pembantu,” ucap Silvy lirih sambil mengelus rambut Lara perlahan.
“Ish! Mama! Gak boleh bicara begitu, gak enak kalau ada yang dengar! Gimanapun Fitri sudah jadi anak angkat tante Frida dan resmi juga dianggap cucu angkat eyang Ajeng. Dia sudah menjadi sepupuku juga ma,” tegur Lara menatap cemas sang ibu yang seolah merendahkan Fitri.
“Ck! Eyang kamu itu gak adil!” gumam Silvy pelan tapi terdengar oleh Lara.
Lara hanya bisa diam dan meneruskan berdandan tak ingin menimpali ucapan ibunya lagi.
Walau hanya anak asisten rumah tangga, tetapi Fitri berwajah cantik juga cerdas. Ia lebih cocok jadi cucu Ajeng dari pada Lara.
Fitri yang tenang dan sabar selalu berusaha keras untuk belajar sehingga ia kini bisa menyelesaikan S2 nya dengan baik. Sikapnya lebih tenang dan lebih punya tata krama dari pada Lara yang periang dan ceroboh. Kesempatan itu datang karena Frida, kakak ipar sang ayah memutuskan untuk mengadopsi Fitri sebagai anaknya.
Lara kembali menatap sang ibu yang tengah asik memilihkan sepatu untuknya. Wajah Silvy yang sudah 50 tahun terlihat masih cantik dengan tubuhnya yang ramping dan semampai. Lara selalu merasa bangga kepada kedua orang tuanya yang memiliki fisik yang cantik dan tampan. Silvy dan Ega – ayahnya selalu dipandang pasangan ideal karena mereka berdua dikaruniai fisik dan wajah diatas rata-rata. Dan tentu saja Lara mewarisi fisik dari keduanya walau dalam kehidupan nyata, kondisi keluarga kecil itu tak seberuntung fisik mereka.
Lara segera berdiri dan memeluk ibunya dari belakang.
“Mama, gak usah khawatir, sebentar lagi aku kenalin sama mama dan eyang seseorang yang sesuai dengan kriteria eyang untuk menjadi pasanganku,” ucap Lara pelan.
“Siapa Ra? Reno?” tanya Silvy mencoba menebak pria yang akan menjadi pendamping anaknya. Wajah Lara yang bersemu kemerahan seolah menjawab pertanyaan Sylvi.
“Benarkah? Ini Reno cucu Eyang Saksono kan?” tanya Silvy memastikan sambil menatap Lara penuh rasa penasaran dan penuh harap bahwa Lara benar-benar akan berjodoh dengan salah satu cucu dari sahabat karib mertuanya.
Lara hanya mengangguk sambil tersenyum malu.
“Malam ini dia mengajakku untuk bertemu sekalian menghadiri acara ulang tahun Eyang. Ada yang ingin ia katakan katanya,” ucap Lara sambil tersenyum sumringah.
Beberapa hari yang lalu Reno mengajaknya melihat cincin pertunangan bahkan memaksanya untuk mencobanya. Ia bilang untuk diberikan kepada seseorang. Selama 6 bulan ini setiap hari mereka selalu bersama dan Reno banyak menghabiskan waktu untuk mengenal keluarga Lara. Bahkan Ajeng– Eyangnya juga tampak mendukung hubungan Reno dan Lara.
Malam ini Lara benar-benar berharap bahwa Reno akan menyatakan cinta kepadanya dan meresmikannya di depan sang Eyang.
***
“Cantiknya kalian berdua,” puji Frida saat melihat Fitri dan Lara yang sama-sama baru saja masuk ke ruang keluarga. Anak angkat dan keponakannya itu tampak cantik dengan gaya mereka masing-masing.
“Cantiknya kita gak sebanding cantiknya tante Frida, belum tentu loh, suatu hari nanti ketika usiaku seusia tante bisa secantik ini,” ucap Lara sambil memeluk sang tante dan mencium pipinya sayang.
Mendengar pujian Lara, Frida hanya bisa tersenyum senang dan mengelus pipi keponakannya sayang.
Walau hanya menantu dirumah itu, tetapi Frida adalah orang yang paling berjasa untuk keluarga Ajeng. Pernikahannya dengan alm Sonny hanya seumur jagung, karena Sonny meninggal dunia akibat kecelakaan dan sejak saat itu Frida tetap tinggal bersama Ajeng dan tidak pernah menikah lagi.
Rumah besar itu tampak terang benderang dan tampak cantik penuh bunga dan hiasan yang meriah.
Malam ini adalah hari ulang tahun Ajeng Dyah Ayu yang ke 80 tahun dan ia ingin merayakannya dengan seluruh anak juga cucu dan juga kolega mereka. Sebagai istri pejabat tinggi di jamannya, di usia senjanya ia masih terlihat segar dan energik bahkan ia masih memiliki beberapa usaha yang kini diteruskan oleh anak - anak mereka.
Malam ini ia juga berniat untuk memamerkan dua cucu cantiknya Lara dan Fitri kepada kolega dan berharap sang cucu mendapatkan jodoh dari keluarga yang setara. Lara dan Fitri asik berdandan di kamar tidur Lara sambil menunggu para tamu datang.
“Kok gelisah banget sih Fit?” tanya Lara sambil membenarkan pakaiannya ketika melihat Fitri yang tampak gelisah sambil membedaki wajahnya.
“Hari ini pak Bisma datang,” jawab Fitri pelan.
“Pak Bisma siapa? Atasan kamu? Keponakannya Om Iman?” tanya Lara mencoba mengingat nama yang Fitri sebut.
Fitri segera mengangguk cepat.
“Cieee, jangan - jangan kamu naksir dia ya?” goda Lara nakal.
“Ck! Suka sih… soalnya dia baik banget, simpatik dan cerdas. Aku suka pria cerdas,” jawab Fitri sambil tersipu malu. “Apalagi dia orang yang mendukungku agar aku bisa mendapatkan beasiswa S2 kemarin. Sekarang, giliran aku mengabdi di kantornya.”
“Enak banget jadi kamu, S2 dibayarin, trus selesai sekolah langsung dapat kerja plus gaji besar lagi,” keluh Lara sambil mengingat dirinya sendiri yang merasa ngos-ngosan untuk lulus saat kuliah dulu. Walau sudah memiliki pekerjaan, tapi jabatan dan gajinya tak seperti Fitri.
Perbincangan dua gadis itu terhenti saat mendengar ketukan di pintu dan memberitahu mereka bahwa para tamu sudah mulai berdatangan.
Rumah besar itupun mulai ramai. Lara segera menyapa Om dan Tantenya dan berbincang dengan beberapa sepupunya. Dari semua cucu Ajeng hanya ia yang perempuan, sisanya semua laki-laki.
Lara tersadar bahwa orang yang ia tunggu belum tiba. Reno. Baru saja ia mencoba menghubungi Reno, tiba-tiba Lara mendengar seseorang memanggilnya. Bibirnya langsung tersenyum merekah ketika yang memanggilnya adalah Reno.
“Aku butuh bicara denganmu,” ajak Reno cepat mengajak Lara melipir ke halaman belakang dan mengajaknya berbicara di dekat kolam renang.
“Loh, aku belum menyapa Om dan Tante,” ucap Lara sedikit heran karena Reno tampak gelisah dan tak memberikannya kesempatan untuk menyapa orang tua Reno.
“Stt, aku mau minta saran sama kamu … malam ini aku akan melamarnya …,” ucap Reno cepat.
Lara tertegun dan menatap Reno dalam.
“Melamarnya?” tanya Lara perlahan, karena merasa kalimat itu tak ditujukan untuk dirinya.
Reno mengangguk cepat dan memamerkan cincin pertunangan yang ia beli beberapa hari yang lalu bersama Lara.
“Malam ini aku ingin melamar Fitri. Aku sudah tak bisa menahannya lagi. Aku menyukai Fitri, Lara … aku sudah bilang pada orang tuaku. Bagaimana menurutmu?”
“Apa?”
“Maafkan aku tak mengatakannya padamu, tapi beberapa bulan ini kami berdua sangat dekat dan memiliki perasaan satu sama lain, hanya saja Fitri menolakku karena ia merasa tak enak karena kamu menyukaiku, tapi aku yakin kamu hanya menganggapku teman bukan?” ucap Reno tanpa jeda dan memberi ruang untuk Lara mencerna ucapannya.
“Tentu saja!” jawab Lara cepat sambil menarik bibirnya untuk tersenyum lebar dengan paksa.
Lara yang ditatap syahdu oleh wajah tampan dihadapannya hanya bisa menelan ludah, mencoba membasahi tenggorokannya yang terasa tercekat, sedangkan matanya terasa sangat panas dan berusaha mati-matian ia tahan agar tak ada genangan air mata disana.
Akhirnya Lara hanya bisa menundukan kepalanya sedalam mungkin sebelum ia mengangguk pasti.
Melihat anggukan Lara, Reno tersenyum bahagia dan kali ini ia melepaskan genggamannya dan segera membuka kotak cincin kecil yang terlihat mahal.
“Aku sudah tak sabar untuk memakaikannya pada Fitri.”
Lara hanya tersenyum pahit menatap Reno dengan tatapan nanar dan berharap ia bisa berlari pergi menyembunyikan diri.
Bagaimana ia tidak menangis, Lara selalu berpikir bahwa selama 6 bulan ini Reno tengah mendekati dirinya sampai ia akhirnya benar-benar jatuh cinta pada pria itu. Ternyata dugaannya salah. Reno bukan jatuh cinta padanya dan Lara semakin merasa bodoh karena selama ini, perasaanya pada Reno selalu ia ceritakan pada sahabat karibnya dirumah. Fitri.
Bersambung.