Bab 2. Pesta Air mata Lara

1281 Kata
Bisma merapikan pakaiannya sebelum ia turun dari mobil dan memasuki rumah besar yang kini halaman rumahnya ini tengah penuh dengan mobil dan orang - orang yang datang untuk menghadiri acara ulang tahun Ajeng. Jika saja sang paman – Iman tidak menikah dengan Anita yang juga anak kedua Ajeng mungkin mereka tak akan pernah bertemu. Dan mungkin saja Bisma tak juga bisa bertemu dengan Fitri cucu angkat oleh Ajeng. Tentu saja dengan kekayaan yang Ajeng miliki, ia bisa menyekolahkan Fitri kemanapun yang gadis itu mau. Tetapi entah mengapa Bisma merasa tertarik dan tersentuh dengan semangat Fitri sehingga ia ingin berkontribusi dan merekomendasikan yayasan kantornya untuk memberikan beasiswa untuk Fitri. “Kamu harus datang Bisma, nanti Eyang kenalkan kamu dengan cucu Eyang yang cantik. Walau pernah gagal dalam pernikahan, tapi Eyang tahu kamu pria yang baik, kali aja kamu bisa cocok dan berjodoh dengan cucu Eyang, kebetulan dia juga tinggal disini,” ucap Ajeng pada Bisma saat Bisma menghubungi Ajeng untuk mengkonfirmasi kehadirannya. Mendengar ucapan Ajeng, pikiran Bisma langsung teringat pada Fitri, karena setahunya hanya gadis itu yang tinggal dirumah besar milik Ajeng. Bisma tersenyum kecil, Fitri pasti kaget kalau bahwa dirinya dijodohkan dengan atasannya sendiri di kantor. Tentu saja Bisma tak menolak jika dijodohkan dengan Fitri, gadis muda itu memang menarik perhatiannya sejak pertama kali ia masuk kantor untuk bekerja. Bisma segera keluar dari mobil dan memasuki rumah kediaman Ajeng. Rumah besar itu begitu luas dan hanya satu lantai. Bisma segera menyapa beberapa orang yang ia kenal dan hadir juga di acara itu sebelum akhirnya ia mencoba menyingkir sambil menikmati beberapa cemilan kecil di halaman belakang yang luas, karena sebenarnya ia tak suka keramaian. “Pak Bisma! Bapak disini?!” sapaan seseorang membuat Bisma menoleh dan melihat Fitri yang tampak cantik mengenakan gaun berwarna champagne. Seorang pria muda yang tampan juga berdiri di sisi Fitri, melihat tangan Fitri yang merangkul pria itu membuat Bisma menyadari bahwa hubungan mereka lebih dari teman. “Oh kenalkan pak, ini Reno” ucap Fitri tampak bangga memandang pria yang berdiri disisinya. “Bisma,” sapa Bisma membalas uluran tangan Reno. “Pak Bisma ini orang yang memberikan aku beasiswa, dan sekarang jadi atasanku di kantor.” “Terimakasih pak Bisma, atas perhatian dan kepeduliannya pada Fitri.” "No doubt! Fitri’s an amazing girl! Semangatnya menginspirasi, lagi pula kita keluarga,” jawab Bisma sambil tersenyum walau hatinya sedikit kecewa karena ternyata Fitri sudah ada yang memiliki hatinya. Bisma pun jadi teringat akan ucapan Ajeng bahwa wanita itu akan mengenalkan pada cucunya yang tinggal disana. Jika bukan Fitri? Lalu siapa? Bisma segera tak mengindahkan pikirannya, ia sudah tak mau peduli dan tak tertarik untuk dikenalkan lagi karena yang ia inginkan awalnya adalah Fitri. Ia merasa ingin segera pulang saja, ternyata berada di pesta ini tak menyenangkan untuknya setelah mengetahui bahwa perempuan yang ia incar sepertinya telah dimiliki pria lain. Ditempat lain ada Lara yang tengah duduk termenung ditepi kolam renang yang sepi. Gadis cantik itu duduk menunduk di sudut yang sunyi berharap orang-orang tak menyadari bahwa dirinya baru saja selesai menangis sedih. Untung saja halaman belakang rumah eyangnya yang besar ini tak digunakan untuk pesta sehingga ia bisa sendirian disana. Ia segera menyadarkan dirinya dan mencoba mengendalikan dirinya sendiri lalu berjalan ke kembali ke dalam untuk berbaur dengan yang lain. Baru saja ia hendak mencicipi makanan, tiba-tiba Ajeng memanggilnya. “Ophelia Larasati!” panggil Ajeng diantara ramainya orang-orang. “Ya Eyang,” jawab Lara sambil menghampiri Ajeng. “Ayo sini! kenalkan ini cucu perempuanku Lara,” ucap Ajeng mengenalkan Lara kepada beberapa koleganya. “Loh, aku pikir Fitri perempuan bu Ajeng satu-satunya, ternyata ada yang lain?” tanya salah satu dari mereka ketika Lara menyalami mereka satu persatu. “Ish, cucu perempuanku ada dua, Fitri dan Lara ini. Tapi Lara memang baru tinggal disini sejak dia kuliah saja. Dia anak Ega anak bungsuku yang tinggal di Bandung.” Lara hanya tersenyum kecut ketika mendengar penjelasan sang Eyang pada semua orang. Entah mengapa hatinya semakin sedih karena merasa ia tak dikenali siapapun. Lara segera berpamitan, kali ini ia memutuskan untuk kembali ke kamarnya saja, toh tak ada gunanya ia berada disana. Harapannya bisa bersama Reno malam ini pupus sudah. Tiba-tiba terdengar sorak sorai dari sudut yang lain membuat semua orang menoleh ke arah suara. Disana ada Fitri dan Reno yang tengah setengah bersimpuh dihadapan gadis itu sambil membuka kotak cincin. Melihatnya saja, Lara tahu apa yang terjadi. Ia sudah tak tahan lagi dan segera bergerak mundur berjalan tergesa-gesa menyelinap diantara orang -orang menuju kamarnya. Rumah Ajeng yang besar seolah memiliki dua bagian. Satu bagian digunakan untuk jamuan, ruang keluarga dan lainnya. Satu bagian lagi memiliki banyak kamar untuk anggota keluarga, perpustakaan dan ruang tv. Kamar Lara berada disisi rumah lain sehingga ia harus berjalan melewati koridor penghubung. Lara memutuskan untuk lewat halaman belakang menuju kamar tidurnya. Ia berjalan melewati kolam renang dan masuk dari pintu dari taman berjalan menuju koridor. Langkahnya terhenti saat ia masuk dan melihat ada bayangan orang yang berjalan di koridor panjang yang temaram didepannya. Melihat bayangan orang itu seperti sosok ayahnya – Ega, langkah Lara menjadi lebih cepat. Ingin rasanya ia memanggil sang ayah dan menceritakan segala kesedihannya. Tetapi lidahnya menjadi kelu ketika ia menyadari bahwa ayahnya tidak berjalan sendiri. Didepannya ada sosok perempuan tetapi bukan ibunya –Silvy. Lara hanya bisa diam membisu dan mengikut langkah mereka dari jauh. Tubuhnya mematung saat melihat ayahnya berjalan mengikuti sang wanita sambil bergandengan tangan memasuki kamar tidur yang sangat ia kenali. Kamar tidur Frida. Wanita yang bersama ayahnya saat ini adalah Frida. “Papa,” panggil Lara lirih sambil berjalan menuju pintu kamar Frida. Tangannya tak sabar mengetuk pintu dan ingin bertanya apa yang ayahnya lakukan di dalam kamar itu. Tapi ia hanya bisa mematung saat mendengar obrolan pelan dari dalam lalu tak terdengar apa-apa lagi. Lara berdiri mematung hampir 20 menit dengan tatapan kosong di balik pintu, sambil bertanya-tanya dan tak ingin mempercayai pendengarannya sendiri karena mendengar suara rintihan sesekali dari dalam. Akhirnya Lara berjalan mundur dengan nafas sesak dan tanpa sadar membawanya kembali keruangan pesta. Kepalanya terasa pusing karena terlalu penuh dengan semua kejutan malam ini juga karena begitu ramainya orang-orang disana. “Ophelia larasati!” panggilan keras itu membuatnya menoleh dan kembali melihat sang nenek yang melambaikan tangan memanggilnya untuk menghampiri. Lara hanya diam, dan menatap kosong Ajeng yang tengah berjalan dengan seseorang. “Lara, kenalkan ini Bisma, keponakannya Imam,” ucap Ajeng mengenalkan Lara pada seseorang. Lara hanya bisa menatap pria yang bertubuh tinggi dan atletis di hadapannya itu dalam. Wajah tampan dengan alis tajam dan mata yang dalam membuatnya merasa familiar akan pria ini. Sosok ini adalah sosok yang sering diceritakan Fitri padanya. Sosok yang dikagumi Fitri beberapa waktu lalu. Tiba-tiba d**a Lara merasa sangat sakit. Perasaannya terluka ketika teringat Fitri dan ibunya Frida. Entah mengapa saat ini kedua wanita itu adalah perempuan yang paling ia benci. Pucuk dicinta ulam tiba, dari sudut mata Lara, ia melihat Fitri yang tampak berjalan tergesa-gesa menghampiri mereka. Spontan Lara segera merangkul lengan Bisma yang besar dan menatapnya dalam. “Ngobrol di depan yuk mas,” ajak Lara. Bisma diam tertegun, merasa bingung karena sikap Lara yang tanpa sungkan merangkul lengannya dan mengajaknya pergi. Bisma hanya mengangguk dan dengan sopan ijin pada Ajeng untuk menemani Lara ngobrol di tempat lain. Lara merangkul lengan Bisma sangat erat dan berjalan cepat dengan wajah dingin walau di belakang tubuhnya terdengar suara Fitri yang memanggil. “Pak Bisma.” Tidak! Apapun yang terjadi kali ini, yang ingin Lara lakukan adalah menyakiti hati Fitri. Jika Fitri sakit hati, Frida pun pasti akan terluka. Iya, apapun yang terjadi mulai saat ini ia akan menyakiti perasaan kedua perempuan itu. Dalam diam yang penuh kemarahan, air mata Lara menetes. Ia terluka begitu dalam. Bersambung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN