Bab 3. Rahasia hati

1279 Kata
Lara hanya bisa menghela nafas panjang dan mengalihkan perhatiannya sambil menyibukan diri merapikan kamar tidurnya sendiri sambil mendengarkan ocehan panjang sang ibu. “Kamu ini gimana sih? Kok bisa sampai gak tahu kalau yang Reno taksir itu Fitri! Selalu begini akhirnya. Siapapun yang kamu sukai atau sedang dekat selalu berakhir di tangan wanita lain!” omel Silvy tampak gusar. “Ck! Tinggal nyari lagi yang lain, gampang!” jawab Lara asal sambil terus merapikan ranjang tidurnya. “Mama bicara begini karena mama ingin kamu dapat jodoh yang baik, mapan dan gak susah hidupnya kaya mama!” “Kalau mama berat hidup sama papa seharusnya mama tinggalin papa dari dulu, sekarang juga gak apa-apa ma … belum terlambat,” jawab Lara serius kali ini menatap sang ibu. “Ngawur kamu! 27 Tahun pernikahan itu bukan waktu yang sebentar, apapun yang terjadi mama akan bertahan sampai akhir. Untuk mama semua sudah terlambat, tapi buat kamu belum.” Lara hanya diam. Ia merasa jengah sendiri karena hampir satu tahun ini ia merasa dikejar-kejar untuk menemukan jodohnya. “Ma,” panggil Lara perlahan sambil menghampiri sang ibu. Gadis cantik itu menatap ibunya dalam, seolah ingin menceritakan sesuatu tetapi lidahnya terasa kelu. “Apa?” tanya Silvy. Lara hanya bisa diam lalu memeluk ibunya erat. “Gak. Gak ada apa-apa. Mama sabar ya, Lara akan kerja keras cari uang untuk kita. Supaya mama gak perlu kerja lagi dan hidup tenang,” bisik Lara parau menahan tangis. Bayangan sang ayah yang masuk ke dalam kamar Frida kembali terbayang di benaknya. Sebuah ketukan pintu dari Wita, salah satu asisten rumah tangga di rumah itu dan juga ibu kandung Fitri menyadarkan kedua ibu dan anak itu segera. “Di panggil Eyang, bu. Di ajak sarapan bersama,” ucap Wita memberitahu. Silvy hanya mengangguk, sedangkan Lara merasa enggan untuk keluar dari kamar. Jika tak dipaksa ibunya mungkin ia ingin mengurung diri lebih lama lagi di dalam kamar. Di ruang makan, sudah ada Ajeng, Ega, Frida dan juga Fitri yang tengah berbincang serius. Frida yang tengah mengambilkan lauk untuk Ega, membuat d**a Lara terasa sangat sakit. “Sini duduk dekat papa,” panggil Ega sambil tersenyum ketika melihat anak gadis kesayangannya. Biasanya tanpa ragu Lara akan segera bergelayut manja pada Ega, kali ini gadis itu hanya diam dan mengalihkan wajahnya lalu duduk paling sudut. Melihat sikap Lara yang dingin membuat Frida dan Fitri saling pandang, sedangkan Silvy segera duduk disamping suaminya. “Lara… ada yang ingin aku bicarakan denganmu,” ucap Fitri perlahan mencoba mencari perhatian Lara. Lara segera menoleh kearah Fitri tanpa ekspresi. Ia baru menyadari selain Frida ada perempuan lain yang membuatnya sedih. Walau begitu, ia sadar tak bisa menyalahkan Fitri sepenuhnya, karena ia bisa membaca bahwa sepertinya Reno yang tergila-gila pada sepupu angkatnya itu. “Aku tidak akan menerima lamaran Reno,” ucap Fitri tiba-tiba dengan suara perlahan. “Kami sudah membicarakannya barusan. Kami semua juga kaget melihat Reno tiba-tiba melamar Fitri. Kami tahu, kamu memiliki perasaan pada Reno,” ucap Frida sambil mencoba meraih jemari tangan Lara, tapi Lara segera menarik tangannya spontan. “Loh, bukannya kemarin kamu sudah mengiyakan lamaran Reno?” tanya Silvy mencoba mengingat kejadian kemarin saat melihat Fitri menerima lamaran Reno. “Saya hanya tidak ingin mempermalukan mas Reno, tante. Terus terang saya ragu, karena saya tahu bahwa Lara menyukai mas Reno…” “Sudah terima saja lamarannya!” ucap Lara memotong ucapan Fitri. “Lara.” “Terima saja jika memang kamu memiliki perasaan yang sama dengan Reno. Dia sudah bilang bahwa kalian memiliki perasaan yang sama tapi terhalang karena kehadiranku. Tidak usah merasa tidak enak, jika memang tak berjodoh, aku bisa apa? Menolak perasaan Reno juga tidak akan menyelesaikan masalah, toh Reno tidak akan menjadi suka padaku dan aku juga tidak mau,” ucap Lara tegas bicara dengan suara tenang walau tak bisa menyembunyikan raut wajahnya yang sedih. “Aku baik-baik saja, lebih baik aku tahu sekarang daripada nanti. Selamat ya Fit, aku mendukung kamu kok bersama Reno.” Hening. Lara menghela nafas panjang ketika dadanya terasa berat. “Aku pamit dulu ya, ada janji pagi ini dengan Lila,” ucap Lara segera berdiri ketika ia merasakan semua orang menatapnya dengan pandangan kasihan dan canggung. Lara segera bergegas menuju kamarnya, tiba-tiba tangannya ditarik seseorang dan ia melihat Ega yang menahannya melangkah masuk ke dalam kamar. “Sini, peluk papa. Papa tahu kamu sedih,” ucap Ega mencoba memeluk anak gadisnya, tak hanya Lara yang merasa terluka, hatinya pun ikut sedih mengetahui bahwa cinta Lara bertepuk sebelah tangan. Air mata Lara menggenang di pelupuk matanya tapi ia tahan sekuat mungkin agar tidak jatuh. Biasanya pria dihadapannya ini adalah tempat paling nyaman untuknya menangis dan tempatnya mengadu, tapi kali ini yang bisa Lara lakukan adalah mendorong tubuh Ega menjauh darinya. Entah apa yang terjadi di dalam kamar itu, tetapi Lara tak bisa bohong jika ia tak bisa percaya pada sang ayah. Genggaman tangan Ega pada Frida tergambar jelas dibenaknya. Melihat itu saja hatinya sudah sangat kecewa dan terluka. Saat ini ia bahkan tidak tahu apakah ia lebih terluka karena ditolak cinta atau melihat ayahnya yang tampaknya berkhianat pada sang ibu. “Kamu kenapa, nak?” tanya Ega terkejut dengan sikap Lara yang menjauhinya dan menatapnya dengan pandangan marah. “Maaf pa, saat ini Lara ingin sendiri,” jawab Lara cepat dan segera masuk ke dalam kamarnya untuk menyambar tas lalu pergi tanpa berpamitan pada ayahnya. Bahkan ia tak mempedulikan panggilan Ega yang memintanya menunggu. Dadanya terasa sesak, seolah tak mampu lagi bernapas. Tiba-tiba saja Lara merasa kehidupannya terasa penuh kebohongan dan semu. *** Fitri duduk termenung di depan piano. Biasanya, jika ada hal yang tak menyenangkan bermain piano adalah penyembuh jiwanya. Tapi kali ini ia hanya bisa diam dengan tatapan kosong. Bayangan Lara yang tampak kecewa dan marah memenuhi benaknya. “Fit, kok melamun?” tanya seseorang membuat Fitri tersadar dari lamunannya dan melihat Frida datang menghampiri dan duduk disisinya. “Ma, aku merasa sangat bersalah pada Lara. Aku benar-benar tak tahu dan tak menyangka bahwa Reno akan melamarku kemarin. Aku tak bisa bilang tidak karena tak ingin mempermalukannya,” ucap Fitri lirih dan menatap Frida sedih. Bagaimana ia tak merasa bersalah dan berdosa, karena selama 6 bulan belakangan ini Lara selalu menceritakan kebahagiaannya karena selalu bisa bersama Reno, disisi lain ia juga tak bisa bohong jika ia tahu Reno jatuh cinta pada dirinya, begitu pula sebaliknya. “Mama tahu kamu pasti serba salah, tapi ini bukan salah kamu. Reno juga sudah bilang sama mama kalau dia sudah bicara pada Lara bahwa ia akan melamar kamu, Lara juga bisa menerima. Mama tahu Lara pasti kecewa, tapi gadis itu anak baik dan sangat logis. Mama yakin dia tulus untuk melepas Reno untuk kamu. Kalian saling mencintai, andai kamu menolak lamarannya, hal itu tidak akan membuat Reno melamar Lara.” Mendengar ucapan Frida, Fitri hanya diam. Iya mengiyakan ucapan Frida, tetapi ada hal yang sang ibu angkatnya itu tidak tahu. Mungkin beberapa bulan yang lalu, ia memang jatuh cinta dan mencintai Reno, tetapi 2 bulan ini ada seseorang yang mengalihkan perhatiannya dan mulai muncul perasaan di hatinya. Seseorang itu adalah Bisma, atasan sekaligus keluarga jauh dari keluarga ini. Kemarin, ia ingin mengalah dan rela melepas Reno demi Lara, dan kali ini keinginan itu semakin kuat sejak Bisma hadir. Melihat Lara kemarin bergelung manja dilengan Bisma mengusik perasaan Fitri. Bukankah mereka baru saja bertemu? Kenapa bisa sedekat itu? “Reno pria baik Fit, dia pun berasal dari keluarga yang dihormati dan dekat dengan keluarga Eyang Ajeng. Beri Lara waktu untuk pulih dan menerima semuanya. Mulai saat ini, kamu gak usah ragu untuk bersama Reno. Tenanglah,” bujuk Frida mencoba menenangkan hati Fitri, tetapi Fitri semakin gelisah tak menentu dan menundukan kepalanya semakin dalam. Bersambung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN