Suara Edrea yang berat, terdengar mengantuk, terdengar di seberang telepon. “Honey? Ini jam berapa …?” Suaranya serak. “Aku … aku mengganggu tidurmu?” tanya Oz, berusaha membuat suaranya terdengar normal. Dia berjalan menjauh dari keramaian, menuju balkon. “Tidak, aku … aku cuma khawatir. Kau tidak angkat-angkat teleponku.” Terdiam sejenak. “Kau baik-baik saja? Aku merasa ada sesuatu.” Oz menutup matanya, bersandar di pagar balkon yang dingin. Dia membayangkan Edrea di sana, di sofa mereka yang sudah mulai lapuk, terbungkus sweater-nya, rambutnya acak-acakan, dan wajahnya yang polos. “Aku baik-baik saja, Honey. Hanya … meeting-nya lebih rumit dari yang kuduga. Kliennya cukup … membingungkan.” “Oh.” Suara Edrea terdengar lega. “Aku merindukanmu. Rumah ini sunyi tanpamu.” “Aku juga

