Sementara itu, di Monte Carlo, malam pertunangan yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan, justru menjadi neraka bagi Oz. Suara orkestra memainkan musik klasik. Oz, terpaksa mengenakan tuksedo, berdiri seperti patung di tengah keramaian. Senyumnya kaku, tangannya menggenggam erat gelas wine yang tidak pernah disentuhnya. Clarisse Laurent melengket di sisinya, cantik dan sempurna. Gaunnya berkilauan senyumnya mengembang sempurna, tatapannya begitu percaya diri. "Kau terlihat tegang, Ozias," bisiknya, tangannya melingkar di lengan Oz dengan posesif. "Ini momen bahagia kita." Oz tak menjawab, matanya mencari jalan keluar atau setidaknya wajah ibunya. Clarisse tetap tersenyum dan senyumnya tidak pernah pudar. "Aku tahu kau menentang ini. Kita ditakdirkan untuk hal yang lebih besar dari

