Pagi hari .... Biantara terbangun dengan kondisi yang lebih bugar. Pikirannya tenang. Udara yang dihirup juga terasa menyejukkan. Pria tersebut menoleh. Senyum tipis terhias di bibir. Di sampingnya masih ada Kania. Gadis itu tidur meringkuk dengan satu tangan yang memegangi bagian pinggangnya. Tulisan nama pria tersebut terpampang jelas di sana. Ia masih ingat bagaimana gadis itu berteriak, menjerit, dan menangis. Sampai akhirnya, hanya tersisa isakan yang sesak ketika tenaganya habis karena terus-menerus meronta. “Ja.lang pengecut.” Gumaman itu terdengar lirih, meremehkan. Ia menyentuh tato yang kini menghias pinggang Kania. Indah. Bahkan, Biantara mengagumi karyanya di tubuh gadis tersebut. Biantara menyibak selimut. Ia memutuskan turun dari tempat tidur untuk membersihkan diri

