Bab 144

3191 Kata

Detik jam terus berjalan. Jarum pendek berpindah dari satu angka ke angka berikutnya, tetapi Kania masih duduk di lantai. Ia bersila, kedua tangannya memegangi perutnya yang membesar, seolah hanya itu satu-satunya hal yang masih nyata. Hawa malam cukup dingin, tetapi Kania tidak bergeming. Tubuhnya terasa kaku, seperti dipaku di lantai kamar. Tangan kanannya perlahan terangkat. Ia memandanginya lama, tanpa berkedip. Cincin emas itu sederhana. Ada permata kecil di atasnya, tetapi bentuknya tidak menyerupai cincin pernikahan pada umumnya. Dan betapa terkejutnya Kania saat menyadari sesuatu. Di sisi dalam cincin itu terdapat ukiran nama Biantara, ditulis dalam huruf latin. Kania menggeleng pelan, senyum getir terbit di bibirnya. Ia tidak pernah menyangka konsekuensi hidupnya akan sejauh

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN