Seketika sendok yang dipegang Kania terjatuh, membentur lantai dengan bunyi nyaring. Tangannya gemetar hebat. Kabar itu menghantamnya tanpa ampun, membuat napasnya tercekat. Dalam satu gerakan, Biantara menarik rambut Kania dengan kasar hingga kepala gadis itu terpaksa mendongak. “Gadis ini?” Ia menyeringai tipis, sorot matanya berubah gelap. Hendrik mengangguk pelan, membenarkan. “Saya dapat laporan kalau Adrian sempat ke KUA kemarin pagi. Dan hari ini dia datang lagi, ditemani seorang gadis. Gadis itu yang biasa pergi sama Non Kania. Mungkin Adrian sudah tahu semua yang terjadi di sini, Tuan.” Biantara terdiam. Wajahnya mengeras, urat di lehernya menegang jelas. Ia melirik Kania yang masih duduk di sampingnya—ekspresi kaget dan ketakutan gadis itu tidak bisa disembunyikan. “Orang sur

