Meski ragu, Kania akhirnya duduk di sofa yang berbeda dari Ranti. Jarak di antara mereka terasa seperti batas tidak kasatmata yang tidak berani ia langkahi. Gadis itu menunduk begitu sadar wajahnya sedang diperhatikan, jemarinya saling menggenggam di pangkuan untuk menahan gugup. Ranti mengamati penampilan Kania tanpa berkedip. Rambut gadis itu tampak sedikit basah, seolah baru saja dikeringkan tergesa. Wajahnya terlihat lebih pucat dari biasanya, ditutupi riasan tipis yang berusaha menyamarkan sesuatu. Entah kenapa, saat menatap wajah itu, Ranti justru teringat pada Yasmin. Garis rahang, bentuk mata, bahkan cara Kania menahan tatapan—semuanya begitu mirip dengan Yasmin, padahal wanita itu bukan ibu kandungnya. Ingatan lama yang seharusnya terkubur tiba-tiba muncul, membuat d**a Ranti te

