Pagi hari. Pintu kamar Kania terbuka dengan bunyi engsel yang pelan tetapi menusuk. Sosok tinggi memenuhi ambang pintu, bayangannya tampak buram di mata Kania yang baru saja terbuka setengah. Ia bahkan tidak ingat bagaimana bisa kembali ke kamar. Ingatan terakhirnya hanya ruang bawah tanah, tubuh yang kelelahan karena berulang kali disetubuhii, lalu semuanya menggelap. Ia pingsan. Kepalanya kini terasa berat, berputar. Tubuhnya yang terbaring miring ke kanan bergetar halus, seperti menahan demam. Kesadarannya belum utuh; kantuk masih menariknya kembali ke dalam gelap. Matanya kembali terpejam. Namun sebelum ia benar-benar tertidur lagi, selimut yang menutupi setengah tubuhnya disibak kasar. Udara dingin langsung menyergap kulitnya yang penuh luka. Refleks, Kania meringkuk. Jari-jema

