Kendaraan putih itu melambat, lalu berhenti tepat di depan sebuah rumah di kompleks perumahan yang tampak lengang. Nala segera keluar dari mobil. Ia bahkan tidak sempat merapikan tasnya dengan benar. Pintu mobil ditutup tergesa, lalu langkahnya yang terburu-buru membawa dirinya menuju teras. Sesampainya di depan pintu, ia langsung mengetuk. Buku-buku jarinya menghantam permukaan pintu kayu jati dengan ritme cepat—tidak seperti ketukan tamu pada umumnya, melainkan lebih mirip seseorang yang dikejar waktu. Suara ketukan itu menggema di pekarangan yang sepi, seolah memantul kembali ke telinganya sendiri. “Oh, ayolah…” gumam Nala lirih, napasnya mulai tidak beraturan. Ia menggigit bibir bawah, menahan campuran antara cemas dan tidak sabar. Sejak perjalanan menuju tempat ini, matanya tidak p

