“Ja–jangan, Pa … jangan pukul Kania.” Suara itu pecah dan parau, seolah terseret dari tenggorokan yang kering. Air matanya mengalir tanpa sempat ia seka. Tubuhnya menegang, kedua tangan mengepal kuat di atas da.da, menahan sesuatu yang tidak terlihat. “Jangan!” Kania tersentak. Matanya terbuka lebar. Napasnya terputus-putus seperti baru saja berlari jauh. Rasa sesak masih menekan dadanya, sementara pandangannya bergerak cepat ke kanan dan ke kiri. Gelap. Tidak ada siapa-siapa. Hanya lampu tidur yang menyala redup, memantulkan bayangan samar di dinding kamar. Beberapa detik ia hanya diam, mencoba meyakinkan diri bahwa itu hanya mimpi. Namun bayangan tadi belum juga pergi. Wajah Yasmin yang menahan marah—dan lebih dari itu, kecewa—masih terasa jelas di kepalanya. Reaksi wanita itu begitu

