Entah sudah berapa kali Biantara melampiaskan hasratnya dengan cara yang tidak manusiawi. Kania tidak mampu menghitungnya lagi. Yang ia tahu, selama Melati tidak ada, tubuhnya diperlakukan seolah bukan miliknya sendiri. Setiap hari ia terbangun dalam kondisi babak belur, lalu kembali terlelap membawa sisa-sisa sakit yang belum sempat pulih. Setiap detik terasa seperti ancaman. Waktu yang berjalan bukan lagi sesuatu yang ia tunggu, melainkan vonis yang menakutkan. Biantara selalu menemukan cara untuk menekannya—melalui kata, tatapan, maupun perlakuan. Para pelayan mansion hanya bisa menunduk dan berpura-pura tidak melihat. Tidak ada yang berani melawan. Ruang tamu, dapur, mobil, bahkan ruang tengah—semuanya menjadi saksi bisu penderitaan yang Kania alami. Setiap sudut mansion terasa sep

