Bab 147

1035 Kata

Keputusan yang dibuat di meja makan pagi tadi ternyata belum sepenuhnya diterima Kania. Hal itu terlihat jelas dari wajahnya yang masih masam ketika ia duduk di depan meja rias lokasi pemotretan. Tatapannya kosong, bibirnya terkatup rapat, seolah setiap detik di ruangan itu terasa lebih panjang dari seharusnya. “Janji, kok. Ini yang terakhir kali Kakak repotin kamu soal kerjaan,” ujar Melati pelan. Nada suaranya dipenuhi rasa bersalah. Ucapan itu justru membuat Kania semakin canggung. Ia menoleh, menatap Melati yang berdiri di sampingnya. “Aku sebenarnya nggak masalah, Kak. Cuma … aku kurang nyaman. Masa iya aku harus foto sama Om Bian. Contoh posenya juga … kayak gitu.” "Nggak apa-apa. Nanti kakak bakal kasih royalti buat kamu, ya." Melati mengusap pundaknya lembut, mencoba menenangka

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN