Pagutan itu terlepas begitu saja. Kania mendorong d.a.da bidang Biantara dan segera beranjak dari pangkuannya. Begitu pintu terbuka, Kania cepat-cepat memalingkan wajah. Lengannya terangkat, mengusap bibirnya yang masih basah, berusaha menutupi sisa-sisa kepanikan. “Mas ….” Melati memanggil lirih. Tatapannya tertuju pada suaminya yang tampak berantakan. Ia mendekat, meneliti kondisi Biantara yang wajahnya terlihat pucat. “Kamu kenapa, Mas? Kok pucat gini?” Kania masih berdiri di samping tempat tidur pamannya. Ia memilih diam, membiarkan Biantara menjawab pertanyaan istrinya. “Perut saya nggak nyaman. Sampai muntah beberapa kali,” jawab Biantara singkat. Melati mengusap wajah suaminya. Keringat tipis terasa basah di telapak tangannya. Setelah itu, pandangannya beralih ke arah Kania.

