Kania terdiam. Di tengah perdebatan itu, Biantara turun dari kamar. Langkah pria tersebut mantap dan penuh wibawa, punggungnya tegak tanpa sedikit pun keraguan. Percakapan seketika terhenti. Tatapan Biantara yang menusuk membuat udara di ruangan itu mengeras. Ia selalu berhasil menciptakan ketegangan, bahkan hanya dengan diam. “Lebih baik kamu bareng om kamu, Kania,” ucap Melati mencoba tenang. “Kantor Mas Bian dan sekolah kamu, kan, searah.” Kania refleks mundur selangkah. “Nggak, Kak. Kasihan Naren. Dia udah nunggu dari tadi.” Biantara mengamati perdebatan antara istrinya dan Kania. Langkahnya terhenti tepat di anak tangga paling bawah. “Biarkan gadis nggak tahu diri itu pergi, Melati.” Ucapan Biantara membuat Melati terdiam. Jika suaminya sudah bicara, ia tahu tak ada ruang untuk

