“Tita….” Kania tidak mampu banyak berkata. Tamparan keras itu cukup membuatnya kaget. Bahkan terasa perih, menyisakan denyut panas di pipi kirinya. Kepulangannya dari sekolah justru disambut amarah—amarah Ranti—tanpa ia tahu apa penyebabnya. “Ma.” Melati segera merangkul mertuanya, berusaha menenangkan. Ia menatap Ranti sambil menggeleng pelan. “Jangan sakiti Kania. Mas Bian sering sakit perut bukan sepenuhnya salah Kania, kok.” Namun pembelaan itu tak berarti apa-apa bagi wanita paruh baya tersebut. Ranti tetap menatap Kania dengan sorot marah, seolah gadis itu adalah sumber dari segala masalah yang muncul. “Sengaja kamu mau bikin anak saya sakit-sakitan, hah?!” Kania tersentak. Teriakan itu membuat dadanya bergetar. Ia sungguh tak tahu jika pamannya kembali sakit. “Maaf, Tita … Kan

