Kania mengembuskan napas kasar usai meneguk minumannya hingga tersisa setengah. Botol air itu ia letakkan di atas meja kantin dengan hentakan kasar, cukup untuk meluapkan resah yang sejak tadi mengendap di dadanya. Pikirannya kembali melayang pada kejadian semalam. Baru satu malam Melati tidak ada, Biantara sudah berani melampaui batas—tidur di ranjangnya, memeluknya seolah itu hak yang tidak bisa digugat. “Lo diem mulu,” tegur Nala. “Yang lain aja lagi pusing mikirin ujian praktik barusan, lho.” Kania hanya menghela napas. Pandangannya beralih menyapu sekeliling. Hampir semua siswa menampilkan raut serupa—kesal, lelah, dan masih larut dalam emosi yang belum turun. “Gila emang, praktik apaan tadi? Susah banget,” gerutu seorang siswa di meja sebelah. Nala ikut menimpali sambil mencengk

