Kania berlari kecil. Ia berusaha meraih benda tersebut. Namun, gerakan Biantara lebih cepat. Pria itu langsung menariknya dan mengangkat tangannya ke atas. Gadis itu melompat ringan, benar-benar mengupayakan agar ponsel miliknya bisa diraih. Alih-alih mendapat apa yang ia mau, tubuhnya limbung, jatuh ke pelukan Biantara. Keduanya bersitatap dalam beberapa saat. Satu tangan Biantara mendekap tubuh Kania refleks. Ia merengkuh pinggang gadis itu dan mencengkeram sisinya kuat-kuat. Mata bulat Kania mengerjap, memancarkan binar penuh harap sekaligus gelisah. Wajahnya menegang dalam beberapa saat. “Benda ini saya sita sampai pagi.” Keputusan itu terdengar mutlak. Biantara melepas rengkuhan itu, memastikan cara berdiri Kania tegap dan tubuhnya tidak tumbang. Biantara mundur. Beberapa

