Kania menggeleng pelan. Pelukannya pada tas makin erat, seolah benda di dalamnya adalah satu-satunya hal yang masih bisa ia lindungi dari tangan Biantara. “Berikan.” Nada suara Biantara tetap datar, nyaris tenang. Justru ketenangan itu yang membuat tengkuk Kania meremang. Tatapan pria itu tertuju penuh padanya, menelanjangi setiap kegelisahan yang tak sempat ia sembunyikan. Sorot mata Kania bergetar. Napasnya tertahan, dadanya naik turun tidak beraturan. Atmosfer di dalam mobil semakin mencekam. Sunyi, berat, menekan. Kania memutar otak secepat mungkin. Ia harus melindungi Adrian. Ia tidak boleh menyeret pria itu lebih jauh ke dalam urusan ini. Ponsel itu memang dibelikan oleh Adrian. Bahkan sudah diatur dengan sistem keamanan berlapis—bukan tanpa alasan. Adrian tahu betul, Kania tid

