Dress yang dikenakan Kania diangkat ke atas. Bekas-bekas merah di beberapa sisi masih membekas jelas. Sekilas, bibir Biantara menampilkan senyum tipis yang khas. Ada kepuasan tiap kali melakukannya dengan Kania. Ia mengakui itu. “O–Om mau ... apa?” Pandangan Biantara naik. Ia menatap Kania. Wajah gadis itu menahan ekspresi tidak nyaman ketika tangan pria tersebut menyentuh pahanya. Tanpa menjawab, pria tersebut mendorong kedua paha Kania supaya melebar. Ia berusaha mencari sesuatu untuk memastikan. “Buka lebar-lebar, Kania.” Cara bicara Biantara yang begitu tenang membuat Kania tertegun. Nada itu tidak mengancam, justru terdengar seperti sebuah permohonan samar yang lolos tanpa sengaja dari bibir pria tersebut. Namun, Kania tetap bertahan. Ia kembali merapatkan pahanya ketika se

