Kania terdiam sejenak, lalu melirik ke dalam mobil. Tidak mungkin ia terang-terangan mengaku kepada Biantara bahwa tujuannya adalah dokter kandungan. Dadanya terasa sesak. Gadis itu berdehem pelan. “Aku ada urusan sekolah, Om. Pulangnya telat.” Biantara ikut menoleh ke dalam mobil. Seringai tipis tersungging di sudut bibirnya saat ia mendapati sosok pria yang sudah tidak asing baginya duduk di sana. Tatapannya kembali mengeras saat beralih pada Kania. “Urusan?” tanyanya singkat. Belum sempat Kania menjawab, Adrian lebih dulu turun dari mobil. Ia berdiri tegak, menatap Biantara tanpa gentar. “Kania ada urusan sama saya. Dan nggak semua tentang Kania harus kamu tahu, Bian.” Nada suaranya datar, tetapi raut wajahnya jelas menunjukkan kekesalan yang ia tahan. Padahal dulu, Biantara dan A

