Keduanya seolah menyingkirkan kekacauan itu sejenak. Kania masih membalas ciuman hangat Biantara. Entah kenapa, ia membiarkan semuanya terjadi tanpa perlawanan. Gadis itu memberi ruang lebih untuk memungkinkan Biantara bertahan lebih lama. Ia membiarkan lidah pamannya itu tuk menyusuri barisan giginya yang putih, menyatu perlahan, saling menyerap, hingga napas mereka bercampur tanpa jarak. Biantara tenggelam dalam suasana. Bibir itu terasa lebih dari sekadar manis—ada candu yang halus, membuat pikirannya melayang dan kehilangan arah. Tangannya merambat di kedua lengan Kania yang terbuka, menyentuhnya dengan usapan lembut, seolah menenangkan. Satu tangannya perlahan naik dan berhenti di tengkuk gadis itu. Dengan tekanan pelan, ia memperdalam ciuman tersebut—lagi, dan lagi. Sial. Bayan

