Pelukan itu tidak lantas terlepas, meskipun ada Melati. Kania memandang istri pamannya dengan tatapan biasa—seolah Melati tidak pernah melarang hubungannya dengan Naren. “Kak Melati kok, di sini?” Melati tidak langsung memberi respons. Ia melirik ke arah Naren. Tangan lelaki itu masih ada di pundak Kania. Wanita tersebut lantas bersedekap d.a.da. “Apa sebenarnya niat kamu, Naren? Kamu mau bikin Kania rusak?!” Pelukan itu lantas terlepas begitu saja. Naren berdiri, memberanikan diri menghadap Melati. Ia menatap segan pada sang wanita. “Tolong jangan salah paham, Kak. Kami di sini nggak ada niat aneh-aneh. Cuma—“ “Cukup,” potong Melati. “Aku nggak mau dengar apa pun alasan kamu, Naren. Luka Kania saat itu sudah cukup buat Kakak tau watak asli kamu!” Jari telunjuk Melati menuding, te

