Biantara menyendok makanan itu. Satu tangannya tetap bertahan mengimpit kedua pipi Kania dengan kasar. Makanan yang masih panas itu disodorkan ke mulut, memaksa Kania supaya menelannya cepat. Kuah yang jatuh ke lidah membuat Kania gelagapan. Tubuhnya memberontak, berusaha melepaskan diri dari Biantara yang terus memaksanya. Kania berusaha berpaling. Namun, tekanan di pipinya begitu kuat. Gerakannya terbatas. Tangan yang masih luka itu lantas menepis sendok tersebut hingga jatuh ke lantai. Kania berhasil menggagalkan aksi pamannya saat ini. “Gadis sialan!” Biantara teriak tepat di wajah Kania. Ia melepas tangannya dari pipi Kania dengan kasar. “Berhenti menyiksaku, Brengsk!” Umpatan itu membuat Biantara makin geram. Dadanya mendidih. Kepalanya seperti hendak meledak. Ia maju

