“Om nggak pernah tahu….” Ucapan itu meluncur tepat saat bibir Biantara masih menempel di bibir gadis tersebut. Aroma mint bercampur stroberi menyeruak, memabukkan, seolah mengundang candu yang nyaris tak tertahan. Namun tidak. Biantara tersentak. Ia menarik diri dengan cepat, menjauh dari gadis yang ternyata hanya mengigau. Ia berdiri, napasnya belum sepenuhnya stabil, lalu menatap Kania. Dari sudut mata gadis itu, air mata menetes perlahan. Pemandangan itu membuat Biantara terpaku sesaat. Lalu ia memalingkan wajah. Tanpa sepatah kata, ia kembali duduk di sofa, memaksa diri menatap layar laptop. Jemarinya bergerak, tapi pikirannya kosong. Detik merambat lamban. Menit berlalu. Lelaki itu akhirnya juga tertidur di sana. Suara kokok ayam akhirnya memecah keheningan. Biantara terbangun

