Di sekolah .... “Kania. Gue bawain makanan buat lo sekalian.” Nala melangkah. Ia meletakkan ke atas meja. Gadis tersebut terenyak saat tidak melihat keberadaan Kania di sana. “Kania. Lo di mana?” Ia berjalan ke tiap rak. Cukup lama menyusuri, tapi tetap tidak ada Kania di sana. Gadis tersebut mulai panik. Ponsel di dalam saku itu ia tarik cepat dan menelepon nomor Kania. Lama menunggu, panggilan itu hanya berdering. Nala sampai menggigit bibir bawahnya karena gelisah. Ia akhirnya menelepon Naren. “Halo, Ren.” “Ya, Nal?” “Lo lagi sama Kania, nggak?” “Nggak. Kenapa?” Nala terdiam. Ada keraguan yang menahannya untuk bicara jujur pada Naren. Ia paham betul—apa pun yang terjadi, besar kemungkinan ia akan disalahkan oleh lelaki itu. “Em … nggak apa-apa, kok.” Ia menutup panggi

